Standart ProdukTPT

Daftar Pabrik yang Tutup Pada 2024

BULETIN TEKSTIL.COM/ Jakarta – Produsen sepatu terkemuka, T Sepatu Bata Tbk (BATA) resmi menutup operasional pabriknya di Purwakarta Jawa Barat per 30 April 2024 lalu. Penutupan ini menambah deretan pabrik yang tutup di awal tahun ini.

Sejumlah industri yang masih didera tekanan kinerja hingga terpaksa melakukan penutupan sejumlah pabrik seperti industri alas kaki atau sepatu, industri tekstil dan produk tekstil (TPT), hingga industri ban.

Kinerja ketiga subsektor industri tersebut masih terseok-seok setelah lepas dari pandemi. Permintaan global yang melemah, daya saing produk lokal yang kalah dengan barang impor, hingga pergeseran tren konsumen menjadi biang kerok.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), laju pertumbuhan industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki terhadap produk domestik bruto (PDB) masih terkontraksi -0,34% (year-on-year/yoy) pada 2023. Padahal, pada 2022 laju pertumbuhannya mencapai 9,36% yoy.

Di sisi lain, industri tekstil dan pakaian jadi terkontraksi -1,98% yoy pada 2023 atau melemah dari tahun sebelumnya yang tumbuh 9,34% yoy terhadap PDB.

Sementra itu, industri ban yang merupakan turunan dari industri karet, barang dari karet, dan plastik laju pertumbuhannya masih terkontraksi -3,63% yoy terhadap PDB pada 2023 melanjutkan tren pelemahan dari 2022 yang melemah -4,1% yoy.

Berikut daftar pabrik tutup di Indonesia pada awal 2024:

1. Pabrik ban PT Hung-A di Cikarang

Kabar penghentian operasi pabrik ban milik PT Hung-A Indonesia per Februari 2024 mencuat pada awal tahun ini. Penutupan pabrik ban ini pun menyebabkan 1.500 karyawan terimbas PHK.

Ketua Serikat Pekerja Logam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPL FSPMI) Kabupaten/Kota Bekasi Sarino mengatakan, serikat pekerja dan perusahaan masih dalam tahap pengajuan perundingan untuk hak-hak karyawan yang terdampak.

“Betul, PT Hung A akan ditutup pada 1 Februari 2024 dan untuk seluruh karyawan dirumahkan sejak 16 Januari 2024. Setidaknya ada 1.500-an pekerja terdampak,” kata Ketua Serikat Pekerja Logam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPL FSPMI) Kabupaten/Kota Bekasi Sarino.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane menduga tutupnya pabrik ban milik PT Hung-A Indonesia di Cikarang, Jawa Barat disebabkan oleh persoalan importasi yang sulit hingga menipisnya bahan baku.

Untuk itu, importasi ban perlu dipermudah untuk memenuhi kebutuhan segmen produk yang belum diproduksi lokal. Menurutnya, regulator lamban dalam merilis persetujuan impor (PI) sehingga pemenuhan permintaan pasar tersendat.

“Tidak hanya Hung-A yang kesulitan, banyak pabrik ban lainnya yang sama kondisinya. Ini karena lemahnya respons pemerintah, kami selalu minta kasihlah impor, kita kan ada ban yang belum bisa diproduksi di sini,” kata Aziz.

2. Pabrik garmen PT Cahaya Timur Garmindo

Kinerja lesu industri tekstil dan produk tekstil juga memicu penutupan sejumlah pabrik hingga status pailit yang mendera perusahaan, salah satunya PT Cahaya Timur Garmindo (CTG) yang resmi diputus pailit oleh Pengadilan Negeri Semarang.

Perusahaan yang pabriknya berlokasi di Jawa Tengah itu diketahui terlilit utang sebesar Rp233 juta sehingga digugat oleh PT Dunia Transportasi Logistik selaku jasa pengurusan transportasi (freight forwarding).

“Menyatakan Termohon PT Cahaya Timur Garmindo, berkedudukan di Jawa Tengah, beralamat di Jl. Lingkar Utara RT/RW 001/003 Kel. Beji. Kec. Taman Kab. Pemalang, Jawa Tengah pailit dengan segala akibat hukumnya,” tulis putusan PN Niaga Semarang.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, kebijakan lartas impor border sedikit banyak mendorong industri hilir untuk kembali bergerak pada Maret.

Namun, industri hulu dan antara masih memerlukan waktu untuk pulih. Produktivitas industri TPT saat ini rata-rata masih rendah dengan kapasitas produksi sebesar 55%.

“Ini setiap minggu masih tetap ada PHK dan banyak pabrik tutup juga,” ujarnya.

3. Pabrik sepatu Bata di Purwakarta

PT Sepatu Bata Tbk (BATA) resmi menutup operasional pabrik sepatunya yang berlokasi di Purwakarta per 30 April 2024 lalu. Tutupnya pabrik sepatu BATA dikarenakan kerugian yang dialami selama 4 tahun terakhir.

Corporate Secretary BATA Hatta Tutuko mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya, tetapi kerugian dan tantangan industri akibat pandemi hingga perubahan perilaku konsumen terlampau cepat tak mampu dibendung.

“Perseroan sudah tidak dapat melanjutkan produksi di pabrik Purwakarta karena permintaan pelanggan terhadap jenis produk yang dibuat di pabrik Purwakarta terus menurun,” kata Hatta, dikutip dari Bursa Efek Indonesia (BEI)

Bahkan, Hatta menerangkan bahwa kapasitas produksi di pabrik tersebut jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan secara berkelanjutan dari pemasok lokal di Tanah Air.

Redaksi Bulteks

Views: 18

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *