Tokoh/Stake HolderTPT

Kondisi Industri Tekstil Dimata Pelaku Industri

BULETIN TEKSTIL.COM/ Jakarta -Buletin Tekstil yang merupakan salah satu majalah khusus industri tekstil menghelat Seminar Nasional Industri TPT 2024 dengan tajuk “Kebersamaan Segenap Stakeholder dalam Mengatasi Tantangan yang Dihadapi Industri TPT” di tengah acara pameran tekstil dan garmen terbesar se-Asia Tenggara yaitu Indo-Intertex yang bertempat di JiExpo, Kemayoran Jakarta Pusat, Kamis (21/3).

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menempati posisi strategis dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebagai industri padat karya, industri TPT menyediakan lapangan kerja yang besar di negara ini, sebagai jaring pengaman sosial serta penghasil devisa dalam perekonomian negara. Selain itu, peranannya dalam pasar lokal juga sangat signifikan.

Dewasa ini, sandang bukan hanya sebatas kebutuhan mendasar namun juga menjadi gaya hidup yang dinamis mengikuti perkembangan mode dan fesyen. Usaha Kecil Menengah (UKM) sektor tekstil dan pakaian jadi juga menjadi pemeran penting dalam pangsa pasar lokal. Ditambah lagi wastra nusantara memiliki kekayaan budaya yang begitu beragam, termasuk dalam hal produk dan keunikan motif wastranya.

Lili Sumarna ketua pelaksana kegiatan seminar tersebut mengatakan dalam sambutannya bahwa saat ini kondisi industri tekstil tengah tidak baik-baik saja. Oleh karena itu, sangat diperlukan untuk menggalang kebersamaan setiap stakeholder untuk mencari solusi dalam menghadapi tantangan.

Senada dengan itu, Riady Madyadinata Ketua IKA ITT-STTT-Politeknik STTT Bandung  periode 2023-2027 dalam sambutannya menyampaikan bahwa peran pemerintah juga sangat diperlukan. Contohnya dalam hal pengaturan regulasi dan produk hukum yang berpihak untuk kemajuan industri.

Sebagai contoh yakni pada Permendag 36 tahun 2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor. Peran pemerintah dan pemangku kebijakan juga sangat diharapkan dalam membangun ketahanan industri tekstil dan produk tekstil kedepan” kata Riady (21/3).

Pada seminar sesi pertama, Pembicara pertama pada seminar yaitu Benny Soetrisno pembina yayasan INDOTEX dan juga Buletin Tekstil. Ia menyampaikan materi tentang Perbaikan Kinerja Industri TPT melalui Penguatan Integrasi. Menurutnya, diperlukan beberapa upaya untuk perbaikan kinerja industri TPT. Diantaranya yaitu adanya fairness competition di pasar domestik.

Dalam hal fairness competition, selain pengendalian impor melalui implementasi Permendag 36/2023, juga harus ada implementasi trade remedies untuk seluruh rantai pasok juga penanggulangan praktik impor ilegal” tegas Benny.

Setelah penyampaian dari Benny Soetrisno yang komprehensif untuk penguatan industri TPT, peserta seminar dikejutkan dengan materi yang disampaikan oleh Ichsanuddin Noorsy dengan tajuk Rentannya Industri TPT. Pada penyampaiannya, ekonom senior itu menyampaikan data-data yang membuktikan fakta kerentanan industri ini.

Ichsanuddin Noorsy menyebutkan bahwa dalam kondisi perdagangan bebas, industri TPT tidak dihindarkan dari ancaman pihak luar baik dari segi investasi ataupun konsumen tekstil di pangsa pasar. Tak hanya itu, secara tegas ia menyampaikan untuk stop impor tekstil ilegal dengan adanya operasi operasi pasar illegal, juga harus ada pembatasan perjanjian perdagangan.

Kondisi Industri TPT

Disela istirahat seminar, jurnalis media buletintekstil.com berkesempatan untuk melihat booth peserta pameran dan secara tidak langsung bertemu dengan Owner Pt. Maju Makmur dan CV. Surya Makmur Mulya, Bapak Viky Ferdiansyah yang pada saat itu sangat antusias meliaht perkembangan permesinan industri tekstil.

 

Viky Ferdiansyah bersama Ichsanuddin Noorsy (Ekonom)

(Owner PT. Maju Makmur dan CV. Surya Makmur Mulya)

Viky Ferdiansyah dalam sesi bincang dengan media mengatakan bahwa kondisi industri saat ini memaksa kita sebagai peku industri harus ekstra keras agar keberlangsungan usaha tetap berjalan.

“Banyaknya impor ilegal memaksa pengusaha seperti saya  harus jeli melihat peluang, bahkan harus sigap untuk mencari pasar yang semakin dibanjiri produk luar terutama dari China”, ungkapnya.

Saat ditanya mengenai apa yang diharapkan dari pemerintah untuk membantu para pengusaha khusunya industri TPT, beliau mengatakan segera stop import dan perketat pengawasan banjirnya barang ilegal yang masuk dan mengakibatkan banyaknya perusahaan gulung tikar.

“Pemerintah sudah saatnya berpihak terhadap industri padat karya, karena walau bagaimanapun, industri TPT menyumbang devisi yang besar bagi negara dan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat” tegasnya.

“saya juga mengharapkan agar para stakeholder industri TPT bersama-sama untuk menekan pemerintah agar industi ini tidak banyak yang mati” Pungkas Viky.

(Red B-Teks/Ly)

Views: 41

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *