NewsTPT

Sustainable, Slow Dan Ethical Fashion, Apa Bedanya?

“Every time you spend money, you’re casting a vote for the kind of world you want. — Anna Lappé.”

BULETIN TEKSTIL.COM/ Jakarta – Setiap konsumen memiliki hak untuk memilih apa yang ingin mereka beli. Di era modern ini, berbagai macam pilihan disajikan dengan mudah, termasuk di bidang fashion atau pakaian. Kalau kamu punya hobi belanja, pasti sudah nggak asing lagi belanja fast fashion. Selain mudah didapat karena selalu ada dimana-mana, fast fashion juga terkenal karena murah.

Tapi, pilihan untuk berbelanja tidak hanya fast fashion, lho, melainkan ada slow, ethical, dan sustainable fashion.

Like all things in life, with great choice comes great responsibility!

Kalau kamu sudah familiar dengan sustainable fashion yang sering Tinkerlust sebut, pasti sudah nggak asing lagi sama dua hal ini; ethical dan slow fashion. konsepnya memang sama. Tapi, ternyata ketiganya memiliki definisi yang berbeda, ini perbedaanya:

1. Slow Fashion

Slow fashion merupakan kebalikan dari fast fashion. Menurut lama resmi Tinkerlust, slow fashion lebih fokus pada kualitas daripada kuantitas. Biasanya, slow fashion memproduksi pakaian yang style-nya timeless. Sehingga, membuat konsumen gak terus menerus belanja.

Pakaian yang dibeli pun bisa terus digunakan. Berbeda dengan fast fashion yang harus mengeluarkan koleksi berbeda setiap musimnya. Slow fashion umumya akan menggunakan bahan pakaian yang kuat dan berkualitas. Sehingga, busana dari slow fashion bisa lebih lama untuk digunakan.

2. Sustainable Fashion

Sustainable fashion adalah praktik berpakaian yang ramah lingkungan dan mengedepankan nilai-nilai dari berbagai pihak yang terlibat khususnya bagi lingkungan dan kemanusiaan, sehingga dapat berkelanjutan dan meninggalkan kerugian seminimal mungkin.

Tujuan sustainable fashion adalah untuk membantu dalam pencegahan kerusakan bumi akibat fast fashion dan sampah tekstil yang sulit terurai. Selain itu, juga untuk menyatukan berbagai kalangan di industri fashion mulai dari perancang, produsen, distributor dan konsumen untuk bekerja sama dalam menciptakan dan membawa fashion berkelanjutan ke arah yang lebih baik. Sustainable fashion ini dapat berjalan beriringan dengan slow fashion.

3. Ethical Fashion

Jika slow fashion berfokus pada produk atau pakaian-pakaian yang dihasilkan, ethical fashion berfokus pada sikap etis suatu perusahaan garmen/pakaian terhadap para pekerja dan perusahaan itu sendiri. Sikap etis ini mencakup atas bagaimana suatu perusahaan memperlakukan para pekerjanya, seperti gaji, jam kerja, dan tidak mempekerjakan anak di bawah umur.

Hal ini muncul karena banyaknya perusahaan garmen/pakaian fast fashion yang ternyata tidak membayar para pekerja, lho. \n Salah satu kasusnya adalah para pekerja garmen di Cina yang mengalami 150 jam overwork setiap bulannya. 60% dari mereka bahkan tidak memiliki kontrak kerja dan 90%-nya tidak memiliki asuransi. Kasus-kasus seperti ini lah yang mendorong beberapa perusahaan dan aktivis untuk menggalakan ethical fashion.

(Red B-Teks/Ly)

Views: 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *