Export/ImportTPT

Kaos Dan Peraga Kampanye Diduga Banyak Dari Impor

Pesta demokrasi 2024 tak banyak berimbas pada industri tekstil dan garmen dalam negeri. Kaus dan berbagai barang terkait kampanye Pemilihan Umum 2024 disinyalir banyak diimpor.

BULETIN TEKSTIL.COM/ Jakarta –Pemilu 14 Februari 2024 dipersepsikan sebagai peluang industri tekstil dan garmen. Kaos menjadi produk andalan produsen pakaian dan tekstil, baik besar maupun kecil. Para peserta pemilu akan mencetak kaus sebanyak-banyaknya sebagai salah satu cara kampanye. Dalam kenyataan, hitungan di atas kertas belum tentu menjadi kenyataan.

Dampak ekonomi pemilu tidak terlalu nyata terhadap industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstillan Indonesia Jemmy Kartiwa Sastraatmaja menyebut, dampak ekonomi pemilu tidak terlalu nyata terhadap industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dalam negeri. Hitungannya sederhana. Setiap kilogram bahan bisa menghasilkan 5 potong kaos. Jika terjadi pemesanan 50 juta potong kaos, bahan yang dibutuhkan 10 juta kg setara 333.333 kg poliester.

Adapun produksi poliester dalam negeri 4.000 ton per hari. Dampak pada industri dalam negeri dapat berkurang apabila peserta pemilu membeli dari India dengan harga lebih murah daripada kaos produksi China.

Sebagaimana pernah diberitakan Kompas, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki menyebut tidak ada dampak ekonomi yang dirasakan pelaku usaha yang bergerak dalam alat peraga kampanye, termasuk konfeksi. Dampak ekonomi relatif dirasakan oleh pelaku usaha yang bergerak di bidang kuliner.

”Saya cek ke perusahaan konfeksi, baju partai kampanye juga kayaknya enggak dibuat di sini,” kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

Ketika ditanya apakah artinya itu karena produk impor, Teten menjawab, dimungkinkan hal itu yang terjadi. ”Bisa jadi, mungkin. Saya cek ke produsen yang biasa dua tiga tahun lalu memproduksi alat peraga kampanye, seperti bendera, spanduk, dan kaus, sudah enggak ada yang bikin di dalam negeri,” ujarnya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada Juli 2023 menyebut, meskipun Indeks Manajer Pembelian (PMI) Indonesia menurut S&P Global pada Juni 2023 naik menjadi 52,5 dari 50,3 pada Mei 2023, industri TPT masih terkontraksi. Permintaan pasar Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) melemah. Bank Sentral AS dan Uni Eropa terus menaikkan suku bunga acuan untuk menekan inflasi. Berbagai laporan menyebut, rumah tangga di AS juga mulai berhemat setelah pemerintah menghentikan bantuan tunai pandemi Covid-19.

Ekspor TPT Indonesia periode Januari-April 2023 turun 28,44 persen senilai 3,7 miliar dollar AS dibandingkan periode sama tahun lalu. Pada sisi lain, industri TPT menjadi salah satu penyerap terbesar tenaga kerja, yaitu hampir 20 persen tenaga kerja atau sekitar 2,9 juta orang.

Presiden Joko Widodo meminta agar produk TPT tujuan ekspor dialihkan ke pasar dalam negeri. Akan tetapi, pasar dalam negeri dibanjiri produk impor murah, terutama dari China yang kelebihan produksi, termasuk produk jenama mode, karena pelemahan pasar AS dan UE.

Hasil survei global pada para pelaku industri mode oleh lembaga konsultasi manajemen global, McKinsey & Company, memperlihatkan para pelaku industri umumnya sepakat tahun 2024 belum memberi kepastian. Laporan Business of Fashion-McKinsey, State of Fashion 2024 menyebut, konsumen belum sepenuhnya mau berbelanja barang mode dengan alasan berbeda-beda di pasar utama AS, Eropa, dan China. Secara global, industri mode akan tumbuh 2-4 persen. Industri produk mode mewah masih akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan produk apparel nonmode.

Dampak tingginya suku bunga acuan di AS perlahan baru akan mereda pada akhir 2024 atau awal 2025. Dengan angka inflasi rendah, ada harapan konsumen AS mulai kembali berbelanja kebutuhan sekunder, seperti pakaian. Sementara untuk memasuki pasar Uni Eropa, TPT dihadang isu lingkungan. Disyaratkan, antara lain, produksi tidak menggunakan bahan bakar fosil. Untuk bahan viskose, ditentukan bubur kertas tidak berasal dari hasil deforestasi.

Pemanfaatan mesin industri TPT dari hulu ke hilir, menurut Jemmy Wijaya, saat ini di bawah 50 persen karena lemahnya pasar domestik. Salah satu cara meningkatkan konsumsi dalam negeri adalah mencegah impor produk berharga murah yang tidak wajar. Pemerintah dapat melindungi pasar dalam negeri untuk bersaing secara adil. Salah satu caranya adalah dengan memeriksa barang di perbatasan, bukan setelah perbatasan.

Pemerintah selayaknya serius menangani keberlanjutan industri ini. Produk jenama mode dalam negeri perlu dibantu dari hulu hingga hilir supaya mendapat tempat di kalangan kelas menengah. Apalagi, jenis mode busana sederhana (modest fashion) memiliki pasar yang sangat besar di kalangan Muslim.

Indonesia tengah memasuki periode bonus demografi. Industri ini harus dapat meningkatkan produktivitas melalui inovasi, penguasaan teknologi maju, dan tenaga kerja produktif.

(Red B-Teks/Ly)

Views: 10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *