Tokoh/Stake HolderTPT

PERJALANAN INSPIRATIF ARYANI WIDAGDO (Bagian 2)

Fokus Melangkah ke Zero Waste Fashion

BULETIN TEKSTIL.COM/ Jakarta – Selepas dari Arva School of Fashion bukan berarti akhir segalanya bagi Aryani Widagdo. Sang pegiat pendidikan fashion ini selanjutnya memulai perjalanan kreatifnya pada berbagai riset hingga ia menemukan ketertarikan yang luar biasa pada  Zero Waste Fashion. Ia meraskan bahwa keterlibatannya dalam gerakan Zero Waste Fashion sungguh “ajaib”.

Suatu ketika, sembilan tahun yang lalu, seorang temannya memberi beberapa lembar fotocopy-an dari sebuah buku.  “Bu, pola ini aneh. Tidak ada sisa perca kainnya,” kata temannya saat itu. “Oh, mengapa bisa begitu ya ?” pikirnya. Nah, berawal dari itulah  ia mulai mengenal Zero Waste Pattern Cutting. Sebuah teknik mendisain dan merancang model busana tanpa menyisakan perca kain sedikitpun. Seluruh bahan kain yang digunakan terpakai seluruhnya.

Untuk mendalami bagaimana bisa seorang perancang busana menghasilkan model-model busana dengan tanpa meninggalkan perca sedikitpun, Aryani membeli buku “Zero Waste Fashion” karya Holly McQuillan dan Timo Risannen dari amazon.com. Dan, baru membuka mata bahwa ternyata Industri Fashion, khususnya fast fashion adalah pencemar kedua terbesar di dunia setelah industry minyak.

“Hal ini benar-benar mengugah kesadaran saya, bahwa sebagai seorang perancang busana harus ada yang dikerjakan untuk mengurangi terus menerus beban Bumi dari sampah fashion. Saya ingin dunia fashion aktif mengambil bagian dalam menjaga Lingkungan Hidup,” kata Aryani.

Menurutnya, Zero Waste Fashion adalah jalan keluar dunia perancangan busana yang dalam proses pembuatannya mampu mengerem jumlah sampah yang biasa muncul dari proses industri fashion.

Riset dan Pandemi

Setelah menimba pengetahuan dari buku tentang Zero Waste Fashion, belajar dari tulisan-tulisan para pemuka ZW Pattern Cutting, Aryani mulai melakukan riset. Awalnya ia banyak tersesat sana-sini, karena buku atau pola yang ada online, tidak disertai langkah kerja. “Pernah bingung, pola celana kok tidak bisa jadi celana ? Eh, ternyata polanya harus dibalik/flipped, baru bisa jadi kaki celana yang satunya. Ketemunya solusi ini melewati pusing beberapa hari, ha ha . . .,” ujarnya sambil tertawa.

Setelah merasa menguasi teknik ZW, maka ia baru berani membuka kelas belajar pola ZW delapan tahun yang lalu.

Ketika teknik ini mulai diperkenalkan, ternyata langsung banyak peminatnya. Mungkin juga disebabkan karena di dalam dunia jejahitan, perubahan itu jarang terjadi. Pola busana secara konvensional tidak berubah sejak berpuluh, atau bahkan seratus tahun lalu. Nah, pola ZW yang memporak porandakan pola pikir konvensional itu, amat menarik perhatian masyarakat. Aryani dan tim sempat mengajar di beberapa kota selama th. 2017-2019.

Kemudian, datanglah Pandemi. Semua kegiatan langsung terhenti. Bagi sebuah “perusahaan” sekecil “kutu” itu, amatlah berat mempertahankan bisa tetap menggaji para staffnya saat kelas-kelas yang menghasilkan sedikit uang stop total. Akhirnya, lima orang Staffnya “dirumahkan” selama Pandemi. Produksivitas benar-benar nol, dan aktivitasnya yang diberi nama “Aryani Widagdo Creativity Nest” itu benar-benar mati suri.

Mengajar Online

Beruntung ternyata muncul Zoom. Bagi Ariani, adanya aplikasi Zoom ini, adalah sebuah “blessing in disguise”. Sudah lama ia bermimpi untuk bisa mengajar di seluruh Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke. Tetapi saat itu tidak tahu caranya. Ada keterbatasan untuk membuat video, dan bagaimana caranya agar bisa memasukkan dalam youtube, dan lain lain.

Zoom memberinya jawaban atas kendala yang tadinya ia pikirkan. Kendati sebenarnya mengajar langsung melalui jaringan internet juga membawa tantangan baru baginya. Yang pertama, ia perlu satu staff khusus dari bidang multi media. Tidak cukup staff yang bisa membuat pola dan menjahit. Memanfaatkan IT adalah bagian yang tidak terpisahkan dari setiap kegiatan belajar mengajar. Tidak terelakkan lagi.

Dari sinilah muncul tantangan baru, bahwa ia harus menguasi aplikasi baru yang bernama Zoom ini. Ia juga harus mampu bagaimana membuat poster-poster menggunakan Photoshop, bagaimana menulis di sosmed tentang pikiran, pendapat atau pengalamannya dalam dunia fashion.

Batinnya, “Kalau saya masih tetap mau eksis sebagai “educationist”/pendidik sampai tidak mampu lagi nantinya, maka dalm usia 75 tahunpun saat ini, saya harus tetap belajar”. Demikian tekadnya.

Tantangan Menyebarkan Z W

Tantangan pertama dalam menyebarkan Gerakan ZW Fashion di Indonesia tentu adalah masih amat mudanya Gerakan ini. Jika di seluruh dunia, ZW Fashion mungkin sudah 20 tahun. Tapi di Indonesia, belum ada sepuluh tahun Gerakan ini tersebar, itupun tidak banyak guru/Lembaga Pendidikan yang mengajarkan materi ini.

Sedangkan tantangan kedua yang dirasakannya adalah masih banyak “prototype” busana yang masih menjadi patokan masyarakat banyak. Misalnya bahwa busana yang indah adalah yang “ketat” membentuk tubuh, bahannya berkilau/ shiny. Dan ornamennya harus bling-bling. “ Ha ha . . . . ini agak berbeda dengan pandangan umum tentang sustainable fashion,” ujarnya.

Kendati demikian, usaha yang ia lakukan terus berjalan. Secara konsisten ia mengajarkan pola-pola ZW. Selain itu juga banyak menulis tentang bagaimana fashion people mempunyai tanggung jawab untuk fashion yang eco-friendly. Ya, desainer, produsen, bahkan juga konsumen.

Momen-momen yang membahagiakan adalah misalnya, ketika beberapa siswa membuat busana ZW untuk diperagakan. Juga mendandani M.C. atau Panitia kegiatan remaja dengan busana ZW. Dan, beberapa UMKM mulai menjual busana-busana ZW dalam bazaar atau pameran untuk umum.

Aryani Widagdo berharap bahwa Gerakan ZW fashion bisa berkembang lebih luas di Indonesia dan makin banyak diajarkan di sekolah-sekolah Fashion. Terlebih lagi bila makin banyak produsen yang mau membuat busana ZW. Sedang konsumen/masyarakat bisa menerima busana-busana ZW yang memang masih terbatas pada model busananya.

(Red B-Teks/Ratna Devi)

Views: 17

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *