NasionalStandart ProdukTPT

Motif Kain Tenun di Minangkabau, Awalnya hanya dibuat untuk kalangan Internal saja

Sejarah Pertekstilan Nusantara seri 5

BULETIN TEKSTIL.COM/ Jakarta – Variasi corak dan struktur anyaman pada kain tenun Minang sangat kaya dan berragam. Tidak mudah mengenali, suatu kain itu berasal dari mana daerah pembuatannya. Hal ini mengingat kain tenun itu awalnya memang hanya dibuat untuk keperluan sendiri, baik itu suatu keluarga maupun suatu desa tertentu. Tenunan kain itu dijadikan harta atau milik bersama dari suatu kelompok, hal ini mengingat kain tersebut dibuat untuk suatu hajat atau upacara. Setelah selesai upacara, maka kain itu akan di simpan kembali di rumah gadang, dipelihara dan di awasi oleh bundo Kanduang. Disamping itu ada pula yang dimiliki oleh keluarga seketurunan (saparuit, sajurai dan samande) tergantung tingkat kesejahteraan keluarga tersebut. Pada keluarga kaya mereka dapat membuat untuk masing-masing anak gadisnya. Tetapi bila hal itu tidak memungkinkan, maka dibuat untuk keperluan bersama.

Untuk mengenal jenis-jenis kain tradisional di Minangkabau, berikut ini uraiannya:

Bentuk dan ukuran kain tenun Minang.

  1. Kain Selendang. Kain ini selain dipakai sebagai selendang dan di sampirkan di pundak bagi lelaki juga dipakai sebagai tutup kepala bagi kaum perempuan.
  2. Kain Sarung. Sarung Minang disebut Kodek. Sebagaimana umumnya sarung ini dijahit membentuk tabung dengan ukuran 100 x 75 cm.
  3. Sisamping, berukuran lebih pendek dari sarung. Digunakan dengan cara melipat jadi dua lalu menggunakan dengan melilitkan di pinggang. Sementara kain ini bagi wanita bisa digunakan sebagai penutup kepala seperti halnya selendang. Sisamping ukurannya 50 x 150 cm.
  4. Kain Kaciak. Kain ini berukuran 50 x 50 cm, bias berbentuk kain tenun songket maupun jenis kain dengan teknik pembuatan yang lain. Belakangan digunakan kain batik, chitz india dengan corak tertentu. Keindahan kain ini digunakan untuk melambangkan kesejahteraan (strata social yang lebih baik).
  5. Cawek. Berukuran 25 x 300 cm dimana umumnya kain ini dibuat dengan teknik songket dikedua ujungnya diberi jumbai. Cawek Solok keseluruhannya terbuat dari songket dan ketika dipakai dilipat tiga (seperti sabuk atau setagen).

Bagian-bagian pakaian seorang Penghulu (Sumber: Bunda kanduang)

 

Sisamping dan Cawek biasanya dipakai oleh lelaki yang memiliki jabatan tertentu, misalnya Datuk, Pengulu, Duabalang, dsb.

Selendang songket yang dikenakan di bahu mengarah ke depan, dibuat dalam beberapa gaya, seperti:

  1. Selendang Balapak, dipakai secara umum diseluruh daerah Minang.
  2. Sandang Bugih, sebagai pelengkap pakaian adat para datuk, petinggi adat.
  3. Sandang Gobah, selendang bercorak pada kedua ujung kain. Dipakai para wanita yang sudah bersuami yang berumur sekitar 30 tahun.
  4. Sandang Cukie Kuniang, warna dan corak kekuningan, dipakai wanita yang sudah ber anak tetapi belum ber cucu.
  5. Sandang Toga, sebagai pengganti selendang gobah yang digunakan anggota iring-iringan pembawa hantaran dalam suatu pesta.

Corak pada tenunan songket Minangkabau, dibagi dalam tiga kelompok, yaitu:

  1. Dengan motif-motif berdasarkan nama flora, seperti Pucuak Rabuang (pucuk rebung), Basisiak Batang Pinang (sisik batang pinang), Batang Padi (tangkai padi), Bungo Tanjung (bunga tanjung), Pinang Baaka Cino (pinang berakar cina), Tumpuak manggih (corak buah manggis), Balah kacang (kacang dibelah) dll.
  2. Berasal dari nama Fauna, antara lain Tali Buruang (jejak burung), Itiak Pulang Petang
  3. (Itik pulang etang), Talua Buruang (telur burung), Bada Mudiak (iring-iringan teri ke hulu sungai), Cintadu Bapatah  (serangga).
  4. Berasal dari benda-benda lainnya, seperti Biku-biku (mata gergaji), Sajamba Makan (tampan upacara), Salapah Ketek (dompet tempat tembakau), Sicantik Manih (si cantic manis), Mariak Jarang (permata jarang).

Motif Pucuk Rebung yang paling popular di seantero pulau Sumatra.

Motif Itik Pulang Petang (motif ini juga dikenal sebagai motif khas Melayu/ Riau)

Kain songket Milangkabau umumnya dibuat menggunakan alat tenun khas daerah ini, yang disebut Panta. Bentuk panta ini sebenarnya adalah jenis alat tenun tinjak dan dipakai untuk berbagai kebutuhan adad.

Kain adat yang dibuat dengan panta, antara lain:

  1. Kain sarung (kodek atau lambak), berfungsi sebagai penutup tubuh bawah. Diantaranya :
    1. Kodek Balapak, memiliki motif adat dengan ukuran kurang lebih 70 cm dan disambungkan dengan kain biasa sesuai ukuran tubuh pemakai.
    2. Kodek Batapua. Sarung ini dihias dengan corak yang bertaburan (spot design) dimana motifnya tidak sepadat jenis Kodek Balapak.
    3. Lambak Duo, Artinya kain yang berlaps dua, ukurannya lebih kecil. Yaitu antara 25 sampai 35 cm.
    4. Lambak Ampek, artinya kain berlapis empat. Biasanya dipakai oleh wanita yang sudah dewasa dan matang.
    5. Lambak Babingkai, kain sarung dengan alur yang bercorak yang dibuat dengan teknik songket.
    6. Lambak Babintang, dipakai oleh kaum wanita yang telah memiliki menantu.
    7. Lambak Basiriang, kain sarung yang bergaris dengan warna dasar hitam, bercorak bunga kuning, merah, hijau dan putih yang bersilangan pada sudut kain. Dipakai oleh wanita-wanita berumur, yang sudah mempunyai cucu maupun cicit.
  2. Tutup Kepala (Tangkuluak) tampil dalam bentuk tanduk. Kain ini muncul dalam berbagai gaya, sesuai dengan asal pembuatannya, seperti tengkuluak Payakumbuh, tengkuluak Sungayang, Padang Magek dan tengkuluak Agam.

Dokumentasi kegiatan memintal benang hingga menenun secara tradisional pada awal abad ke 20.

Salah satu motif kain Tengkuluak, penutup kepala wanita Minang.

Sebagaimana perkembangan kain tradisional di wilayah lain, kain tenun Minang yang semula sebagai kain milik keluarga atau kalangan terbatas, motif-motif dan teknik tenun yang eksotis ini berkembang menjadi kain tenun milik masyarakat luas, dan kain-kain yang ditenun dengan teknik songket atau tenun dengan pakan tambahan (weft suplementary) ini menjadi salah satu bahan fashion yang menunjukkan kekayaan budaya Nusantara di mata dunia.

Kain Tengkuluak Balapak asal Sungayang Tanah Datar, dengan model Nikita Willy (Sumber: PadangKita)

Teknik dan sejarah tenun yang lain di wilayah Sumatera akan kami uraikan pada tulisan yang lain.

(Red B-Teks/Adi K)

Sumber: Tenun 2 (Taman Mini Indonesia Indah); Kain Tenun Minangkabau: narasi Masyarakatnya (Nian S. Djoemena), Tenun (J.E, Jasper dan Mas Pirngadi) – disarikan Adi Kusrianto.

Views: 35

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *