Success Story: Bermodal Sutra Eri, Melie Indarto Sukses “Kibarkan” KaIND di Pasar Dunia

BULETIN TEKSTIL.COM/ Jakarta – Bagi Melie Indarto, 2023 ini merupakan tahun spesial dimana ia merasa kembali bangkit dan memiliki semangat baru, harapan baru dan program baru dalam menjalankan bisnisnya dengan brand KaIND (Kain Indonesia). Terlebih setelah akhir tahun lalu sukses mengukir beberapa prestasi. Antara lain menjuarai Kompetisi Pengusaha Muda BRILIAN 2022 pada Desember lalu. Disamping itu produknya terpilih sebagai official souvenir dalam acara G20 di Bali November lalu. Surprise yang indah. Dan tentu saja sebuah perjuangan yang luar biasa dari seorang Melie, yang terbukti memang benar-benar brilian menjalankan usaha.

Melie Indarto

Dalam dunia Fashion, Melie dikenal sebagai pengusaha fashion sustainable dengan bahan organic salah satunya sutra eri dimana mulai dari pembinaan para petani untuk berbudidaya ulat sutra eri di Pasuruan.  Produknya antara lain kain tenun yang diolah menjadi scarf, busana dan aneka souvenir yang ramah lingkungan dengan menggunakan tehnik batik tulis, batik cap dan pewarnaan alam.

Ketika dihubungi Buletin Tekstil, Melie menyatakan prestasi yang diraihnya dalam kompetisi itu memang diluar dugaaannya. Pada mulanya ia merasa ragu untuk menjadi peserta. Mengingat, proses kompetisi ini dirasakan cukup lama yakni lebih dari 3 bulan. Sementara sebagai ibu muda, Melie tengah sibuk dengan urusan rumah tangga dengan seorang anak yang masih balita.

Namun, karena keinginannya yang kuat untuk mencari pengalaman dan inspirasi untuk usahanya, kesempatan itu diambil. Dan ternyata, perjuangannya tak sia-sia. Terbukti dua prestasi nyata telah diraihnya sekaligus dari event itu.

 “Sebagai pengusaha saya pengen memiliki support system. Selama pandemi penjualan pada pasar lokal tidak begitu bagus. Ketika ada info kompetisi ini, saya tertarik ikut. Tujuannya biar bisa memiliki support system dan me-refresh kembali cara berpikir, mempunyai growth mindset yang tepat,” kata Melie.

Berkisah tentang perjalanan dalam proses penilaian, Melie menyatakan diawali sejak 9 Agustus dimana waktu itu seluruh peserta diberi tugas untuk mendapatkan skor.  Setiap minggu dilakukan mentoring dan monitoring dan setiap bulan membuat laporan progres perkembangan selama pendampingan dimana seluruh kegiatan itu ada nilainya. Berdasarkan skor itulah yang digunakan untuk menyeleksi  dari 85 peserta menjadi 20 peserta untuk akhirnya dipilih 3 juara. Dan hasilnya mengantarkan dirinya tampil sebagai juara pertama dan memperoleh hadiah uang pembinaan sebesar 200 juta.

Sepanjang mengikuti tahapan penilaian itulah yang dimanfaatkan untuk memasarkan produknya dimana dia memilih B2B untuk sales channel utama dari brandnya. Dan ternyata pilihanya tepat, karena saat kurasi B2B produknya dibeli Kementerian Keuangan untuk official souvenir di acara G20 yang tentu saja menambah masukan skor tinggi disamping uang.

Saat itu saya diminta memilih apakah memilih B2C yang mengarah pada perdagangan retail, ataukah B2B yang mengarah pada buyer, dan saya pilih ke B2B meskipun nanti ada kemungkinan pembeli minta off-brand,” ujarnya.

Berbicara mengenai off brand, ia menyatakan hal itu telah biasa dilakukan. Beberapa buyer nya di luar negeri seperti dari Hawai, Vancouver, Malaysia, Singapura, Jepang dan sebagainya, banyak yang order secara off brand.  Namun tak jarang, ada juga yang meminta untuk tetap mencantumkan brand KaIND untuk didampingkan dengan brand mereka. Produk-produk yang diekspor itu antara lain berupa sarung bantal, pouch, sleep eye mask untuk tissue serta scarf yang menjadi produk andalannya. Produk-produk itulah yang bulan lalu mengantarnya menjadi juara dan mengantongi 200 juta. Rencananya, hadiah itu menurutnya akan digunakan untuk team building, baik yang ada di Jakarta maupun di Pasuruan.

Yang di Pasuruan, kami akan menambah penenun dan juga pembatik. Sedang yang di Jakarta, akan membangun team pemasaran maupun manajemen, dan sebagainya”, ujarnya seraya berharap kedepannya, KaIND akan semakin bisa diterima masyarakat. Dan yang penting lagi, menurutnya KaIND akan bisa melakukan kerja sama lintas industri misalnya dengan perhotelan, garment dan juga pabrik yang semuanya tentu saja butuh skill up.

KaIND merupakan brand yang didirikan sejak 2015.  Pada mulanya berasal dari kegiatan komunitas penenun dan pembatik antara  senior dengan yunior.  Setelah melalui berberapa tahapan trial and error, maka dua tahun kemudian di tahun 2017 didirikanlah perusahaan bernama CV. Karya Temanesia yang menjual beberapa produk tenun dan batik seperti scarf, kain, busana, cover bantalan kursi, masker penutup mata dengan aneka motif khas Pasuruan dengan bahan utama yang digunakan adalah katun, dan sutra eri.

Foto produk dari KaiND

Dalam perjalan bisnisnya kemudian, tahun 2019, Melie berhasil meningkat nilai  barang hasil panen komunitas petani ulat sutra eri (Samia Cynthia Ricini) menjadi benang sutra eri fabrikasi.

Sekedar diketahui, ulat sutra eri merupakan ulat sutra yang dibudidayakan dengan memakan daun jarak dan daun singkong. Bedanya dengan sutra yang dibudidayakan dengan daun murbei adalah saat memperlakukan pupa dalam pengambilan serat sutranya. Dalam ulat murbei, cara pengambilan serat adalah dengan direbus, sehingga saat itu pupa akan mati. Sedang dalam ulat sutra eri, saat pengambilan serat adalah dengan cara mengeluarkan dulu pupanya satu-persatu baru kemudian serat sutranya direbus sehingga pupa tidak mati dan masih bisa berkembang biak.

Tahun 2019, komunitas pembudidaya ulat sutra eri ada sekitar 200-an. Dalam hal ini KaIND men-support mereka dengan mendukung terbentuknya koperasi. Dari koperasi inilah Melie mendapatkan bahan untuk ditenun menjadi kain sutra.

“Namun kami tidak melakukan monopoli. Koperasi boleh menjual ke pihak lain selain KaIND,” jelas Melie.

Namun seiring berjalannya waktu jumlah anggota koperasi berkurang. Cukup disayangkan memang. Sebab, untuk memenuhi kebutuhan sutra dalam negeri, pemerintah masih melakukan import dari negara lain. Sebenarnya, menurutnya ini peluang untuk yang lain agar ikut membudidayakan ulat sutra eri guna mengurangi import dan memenuhi pasar kebutuhan sutra dalam negeri.

Sebenarnya, beternak budidaya sutra eri bisa menjadi solusi untuk menambah penghasilan. Karena pembiakannya tidak memerlukan tempat khusus. Bahkan di garasi juga bisa. Kalau mau lebih jelasnya silahkan datang ke koperasi yang ada di Lawang, Malang,” ujarnya seraya menambahkan para peternak ulat sutra eri itu beternak di rumah masing-masing.

Yang jelas, kedepan harapannya akan tumbuh petani-petani baru dan juga pengusaha baru yang memanfaatkan sutera eri.

Harus mau turut mengambil peran dalam  mengembangkan budidaya sutra eri ini, misalnya kalau tidak memiliki alat tenun, bisa bekerjasama dengan pihak lain yang bisa merajut seratnya menjadi kain. Yang penting, kita harus berupaya supaya Indonesia bisa memiliki kemandirian dalam memproduksi serat sutra” ujarnya.

 Diakui, tampilan sutera eri memang sedikit berbeda dengan sutra murbei yang cenderung lebih berkilau. Namun perbedaan itu justru membuat ciri khas dari produk yang dihasilkannya. Karena itu Melie menyatakan mantab berkarya menggunakan sutra eri dan tidak ingin pindah ke jenis lainnya, apalagi hasil karyanya itu telah menembus pasar dunia.

Link Youtube https://youtu.be/KaiND

(Ratna Devi)

Hits: 113

One thought on “Success Story: Bermodal Sutra Eri, Melie Indarto Sukses “Kibarkan” KaIND di Pasar Dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *