WARTA DUNIA 24

BULETIN TEKSTIL.COM / Jakarta

AMERIKA SERIKAT
Delapan puluh persen eksekutif supply chain yang disurvey pada tahun 2022 menyatakan bahwa mereka tidak dapat melacak dengan baik pergerakan material mereka secara digital diseluruh jaringan perusahaan mereka. Pernyataan ini disampaikan oleh innovator supply chain Verusen yang berdomisili di Atlanta, Georgia – Amerika Serikat.

Survey tahunan yang dilakukan oleh Verusen ini menneliti tentang perspektif, kegiatan, dan tantangan yang dihadapi oleh professional supply chain saat ini yang terkait dengan imbas pergeseran cepat dalam pergerakan rantai pasok dan kondisi bisnis.
Dari survey ini ditemukan bahwa banyak perusahaan yang mengalami kekurangan sumber daya dan arah untuk memenuhi target manajemen rantai pasok mereka. Hal tersebut dapat mengakibatkan gangguan pengiriman barang, keterlambatan produksi atau terganggunya kemampuan berproduksi yang pada ujungnya bisa menurunkan keuntungan dan pertumbuhan bisnis perusahaan.

Prioritas utama para eksekutif supply chain di tahun-tahun mendatang adalah mengurangi resiko gangguan pergerakan barang untuk menghindari penundaan atau berhentinya kegiatan produksi yang diluar rencana.

Survey supply chain manajemen tahun 2022 ini dilakukan dengan responden para eksekutif supply chain perusahaan global terkemuka dengan omzet : lebih kecil US$1milyar (70% dari populasi) US$1 milyar sampai dengan US$20 milyar (30% dari populasi)

Rangkuman temuan dari survey ini sebagai berikut:
Pertanyaan tentang perubahan sistem digital dalam kegiatan supply chain ditemukan bahwa sekitar 76% para eksekutif memberi jawaban yang bervariasi dan terlihat adanya kekurangan pengetahuan mereka
Hambatan utama yang dihadapi oleh sekitar 43% eksekutif supply chain adalah keselarasan kerja dengan bagian-bagian lain didalam perusahaan.

Prioritas utama para responden untuk tahun-tahun mendatang adalah memperkecil resiko gangguan pasokan barang perusahaan
Lebih dari 75% responden meyakini bahwa penerapan manajemen supply chain berbasis digital memerlukan waktu sekitar 12 – 24 bulan.

Tidak mampu untuk melacak pergerakan barang diseluruh jaringan perusahaan secara langsung maupun tidak langsung menggunakan sistem digital dlaporkan oleh sekitar 80% responden.

Percepatan pengiriman suku cadang dinyatakan lebih dari separuh responden agar tidak terjadi gangguan kegiatan produksi. (Supply Chain 24/7)

INDIA

Fashion for Good adalah organisasi yang bekerjasama dengan industri garment untuk mendorong pelaksanaan kegiatan produksi yang membawa dampak baik bagi manusia dan planet bumi.

Tujuan organisasi ini adalah memberi inspirasi perubahan dalam pola produksi yang mendorong gerakan kolektif untuk menjadikan fashion sebagai industri yang membawa kebaikan.

Visi Fashion for Good adalah: produsen dalam rantai pasok pakaian jadi di negara-negara India, Bangladesh dan Vietnam melakukan investasi dalam teknologi yang yang membawa pertumbuhan ekonomi bagi negara, praktek produksi yang baik, mendorong penggunaan bahan yang aman, dapat didaur ulang, menggunakan energi bersih dalam kegiatan produksi, menjalankan close loop manufacturing, penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi yang adil bagi segenap stake holder.

Awal Desember 2022 ini Fashion for Good mengunjungi Pratibha Syntex di India untuk menyampaikan pencairan pinjaman akhir yang sudah dimulai pada bulan Juni 2022. Pinjaman sebesar US$4,5 juta ini sangat membantu pabrik tekstil terpadu tersebut diatas untuk mengembangkan industri mereka dari sektor pemintalan sampai ke garment dari segi fiansial, kelestarian lingkungan dan tanggungjawab sosial perusahaan.

Kunjungan Fashion for Good yang disertai oleh Sphera, Fairwear Foundation, Global CAD dan Adelphi menemukan bahwa dampak dari investasi permesinan produksi dan alat bantu baru di perusahaan India ini telah memberikan dampak penghematan bagi pabrik sekitar 50% dibanyak bidang utama kegiatan produksi terutama dalam hal: energi, penghematan air dan efesiensi penggunaan bahan baku.Kemajuan besar juga dicapai dalam hal aksi lingkungan hidup dan tanggung jawab sosial perusahaan.

Pinjaman yang diperoleh Prathiba Syntex Limited ini telah digunakan untu melakukan investasi permesinan baru di sektor pemintalan, pemasangan panel surya untuk mendapatkan sumber energi bersih dan murah dibandingkan dengan energi hasil pembakaran bahan bakar fosil, mesin pengering modern dan menyempurnakan peralatan pengolah limbah.

Fashion for Good sangat menghargai kerja sama pendanaan bagi perusahaan India ini, yang disebutnya sebagai pelopor dalam sustainability production.

Mereka mengatakan bahwa dampak lingkungan hidup, tanggung jawab sosial perusahaan dan sisi finansial perusahaan yang dihasilkan dari investasi berada diatas ekspektasi dan sejalan dengan misi Fashion for Good yang dapat menghubungkan dampak teknologi ke praktek kegiatan produksi guna menghadapi tantangan yang dihadapi pabrik.

Fashion for Good akan terus memberikan bantuan untuk investasi pabrik garment di India dan Bangladesh guna mendorong tumbuhnya praktek produksi pakaian jadi yang baik, pertumbuhan ekonomi negara, kegiatan usaha yang adil bagi segenap stake holder, upaya mencapai sustainability production dan menuju supply chain garment yang restorative serta regenerative.

EROPA
Sustainability merupakan suatu keharusan bagi industri pakaian jadi, dan tidak mudah untuk menerapkannya dalam seluruh rangkaian proses produksi. Setelah pandemi Covid-19, penerapan sustainability menjadi semakin penting posisinya agar perusahaan dapat bertahan dengan baik dalam bisnisnya. Pengusaha tekstil dan produk tekstil (TPT) disegenap sektor dari hulu sampai kehilir, harus menggabungkan strategi penerapan sustainability, stabilitas bisnis dan modernisasi dalam kegiatan produksi perusahaan mereka.

Konsumen pakaian jadi akan menekankan rasa percaya mereka terhadap perusahaan sebelum membeli produk yang dihasilkan perusahaan, mereka akan mengevaluasi praktek kegiatan operasi produksi perusahaan selama masa pandemi dan setelah berakhirnya pandemi Covid-19.

Keterbukaan akan menjadi faktor penting bagi semua stake holder dimasa sekarang ini.
Sustainability akan dicapai melalui rekayasa teknologi yang dipakai perusahaan untuk dimanfaatkan guna melakukan inovasi seluruh aspek kegiatan produksi seperti: design produk, rangkaian rantai pasok barang dan pengembangan model bisnis perusahaan.

Peningkatan kapasitas produksi, pengintegrasian kegiatan operasi dan upaya untuk meningkatkan fleksibilitas produksi perusahaan memerlukan kerja keras dan kolaborasi seluh bagian dalam perusahaan serta penetapan standarisasi kerja yang baik.
Pandemi yang dihadapi oleh dunia ini merupakan musibah tetapi sekaligus bisa memberi manfaat bila disikapi dengan baik oleh perusahaan.

Dalam hal ini dapat dibagi tiga jenis perusahaan yaitu:

Perusahaan yang belum menjalankan sustainability harus menggunakan momen ini untuk membangun keunggulan kompetitif perusahaan dengan memberikan fokus pada kepusasan konsumen.

Perusahan yang sudah menjalankan praktek sustainability pada tahan-tahap awal, harus mempertahankan kegiatannya dan berkomitmen untuk meningkatkan pelaksanaan praktek menuju sustaibailty ini sesuai target yang sduah ditetapkan.

Perusahaan yang sudah mencapai keberhasilan dalam praktek sustainability dalam pelaksanaan kegiatan produksi mereka harus mendorong kolaborasi segenap bagian dalam rangkaian proses produksinya.

Sementara belum begitu jelas apakah pandemi Covid-19 akan mereda atau berubah menjadi endemi tapi satu pelajaran yang kita terima, bahwa: kesehatan, keselamatan kerja dan kesejahteraan bagi seluruh stake holder lebih merupakan tanggung jawab bersama dan bukanlah menjadi beban tugas masing-masing individu.

Dalam usaha antisipasinya perusahaan-perusahaan tekstil, pakaian jadi, alas kaki dan mode mempunyai pola yang sama. Memang tidak mudah mengelola krisis yang terjadi akibat pandemi ini dan pada saat yang sama harus bertindak agresif mempertahankan keberadaan bisnis dan memberikan perhatian penuh terhadap kepedulian lingkungan serta menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan.

Tetapi bila para pemimpinan industri berhasil memikul tanggung jawab berat ini maka akan ada catatan sejarah bahwa mereka berhasil menyelamatkan inustri dan membangunnya kembali dari pinggir jurang kehancuran.

VIETNAM
Hampir 3 juta orang bekerja di industri TPT Vietnam yang memposisikan industri ini menjadi industri terbesar dan pemegang peran utama dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi bagi negara tersebut. Industri TPT menampung 12 persen dari total tenaga kerja produktif, dan menyumbang 16 persen dari total GDP Vietnam.

Posisi Vietnam dalam pasar garment Dunia adalah 2 besar eksportir produsen garment. Dengan porsi suplainya 6,4% dari total ekspor garment Dunia. Pasar ekspor utama garment Vietnam adalah Amerika Serikat yang besaranya senilai US$ 16 milyar
Hasil penelitian perbandingan biaya produksi TPT dari 14 negara yang dilakukan International Textile Manufacturer Federation (ITM) yang bekerja sama dengan beberapa produsen mesin tekstil besar Dunia dan asosiasi produsen tekstil dari negara-negara yan diteliti menunjukkan bahwa Vietnam memegang rekor sebagai negara dengan biaya terendah dalam komponen Energi dan Bunga Modal.

Beberapa keuntungan yang akan didapat oleh investor yang melakukan penanaman modal di Vietnam antara lain:
Biaya upah pekerja yang kompetitif
Adanya Multilateral Trade Agreement (MFA) seperti CPTPP dan EU-FTA.

Vietnam mampu untuk memproduksi pesanan dalam jumlah kecil, yang tidak bisa ditawarkan oleh China dan India.
Kecepatan yang tinggi bagi produk untuk mencapai pasar yang dituju produsen eksportir.

Supply chain yang baik bagi industri TPT di Indo-China, Asia Tenggara seperti Cambodia, Laos, Myanmar dan Malaysia.
Warga negara Vietnam dikenal sebagai orang yang paling ramah didunia, dan sebagai pekerja mereka adalah pekerja keras, jujur dan selalu bersedia membantu dan membangun kerjasama. (Immago)

Hits: 6

One thought on “WARTA DUNIA 24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *