INDONESIAN FASHION TREND 2023-2024: CO-EXIST

BULETIN TEKSTIL.COM/ Jakarta – Indonesian fashion trend forecast kembali dihadirkan oleh Indonesia Fashion Chamber. Edisi terbaru adalah Indonesian Fashion Trend 2023-2024 yang diberi tema Co-Exist. Pandemi covid-19 yang telah melanda dunia selama 3 tahun terakhir ini melahirkan berbagai kebiasaan baru (new normal) yang kini telah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Dampak pandemi menyadarkan manusia bahwa untuk bertahan hidup, manusia harus dapat hidup berdampingan dengan sesama manusia dan makhluk-makhluk hidup lain. Manusia harus saling membantu, berkolaborasi, dan terinspirasi dari banyak hal. Oleh karena itu, tema Co-Exist dipilih menjadi tema besar Indonesia Trend Forecast 2023-2024.

Trend muncul dari berbagai hal yang terjadi di dunia yang kemudian merubah pola berpikir masyarakat. Pandemi menyebabkan banyak kejadian yang tidak diinginkan. Banyak orang yang terpaksa berhenti bekerja dan memaksa mereka untuk berpikir kreatif untuk bertahan hidup. Pandemi juga mendorong banyak orang untuk memiliki empati terhadap sesama manusia dan lebih membantu mereka yang membutuhkan pertolongan.

Dengan begitu banyaknya orang yang berhenti bekerja karena kesulitan ekonomi, mengakibatkan penyusutan kaum kelas menengah. Sulitnya ekonomi ditambah dengan kenaikan harga barang-barang yang tinggi mengakibatkan daya beli masyarakat menurun. Hal ini memaksa mereka untuk berpikir lebih praktis dan hidup secara lebih minimalis. Dengan adanya kejadian-kejadian seperti itu, banyak orang yang kemudian mencari keseimbangan hidup dengan alam, yaitu dengan cara pindah ke daerah-daerah terpencil dan menjalankan off-grid living, yaitu hidup dengan mencukupi kebutuhan-kebutuhannya sendiri tanpa bergantung dengan fasilitas-fasilitas kota besar. Selain itu, banyak manusia juga yang lebih menyadari akan kesehatan dirinya, sehingga banyak yang beralih kepada gaya hidup yang lebih alami dan sehat, misalnya dengan rapat atau konferensi di alam terbuka sambil bersepeda, dan sebagainya.

Dunia digital adalah salah satu hal yang sangat terdorong maju dengan adanya pandemi. Sebagian besar manusia kini lebih melek teknologi digital. Acara atau konferensi yang diadakan secara digital atau hybrid adalah sesuatu yang sangat umum saat ini. Metaverse adalah salah satu kemajuan digital yang sangat terdorong oleh fenomena ini. Metaverse adalah dunia virtual yang diciptakan untuk berinteraksi dengan sesama pengguna lain dan karena dunia tersebut adalah virtual, mereka dapat berkreasi dan berfantasi dengan bebas. Sesuatu yang dalam dunia realita nya tidak memungkinkan, dalam dunia virtual dapat diwujudkan.

Terdapat empat pengelompokan besar konsumen untuk tema Co-Exist, yaitu:
The Survivors
The Soul Searchers
The Saviors
The Self Improvers

 

The Survivors

Lama berada dalam situasi yang tidak menentu, The Survivors berupaya keras untuk terus bertahan. Di tengah keterbatasan dan kekurangan, mereka tetap optimis. Optimisme inilah yang menjadikan mereka berpikiran positif, melahirkan kreativitas agar roda kehidupan tetap berputar. Berhemat menjadi pola berpikir baru. Simpanan barang-barang lama digunakan kembali, bahkan direka-reka menjadi bentuk dan tampilan baru dengan nuansa vintage yang amat kental. Reuse, renewal, dan upcycle menjadi bagian dari keseharian mereka.

Intinya adalah bagaimana barang-barang lama yang basic kemudian ditambahkan hal-hal yang baru, seperti potongan-potongan yang dimodifikasi sehingga menghasilkan design yang baru, namun kesan vintage dan retro nya tetap terasa. Warna-warna yang terang dan kuat mendominasi palet warna The Survivors yang menggambarkan semangat dan optimisme mereka.

Kata kunci The Survivors: vintage, unique, sporty casual.Tema The Survivors dibagi lagi menjadi empat sub tema:
Optimistic: Optimis dan tetap bersemangat, ditandai dengan pemakaian motif-motif geometris dikombinasikan dengan warna-warna cerah dan kontras, namun tetap rapih dan dandy.Thrifty Chic: Berhemat merupakan pola berpikir utama gaya ini. Baju-baju lama dikreasikan kembali, direka ulang dengan ditambahkan aksen, atau dirubah bentuk dan tampilannya.
Retro: Baju-baju vintage dari masa dahulu dikreasikan kembali dengan diberi sentuhan baru. Motif floral yang besar atau motif abstrak dipadukan dengan motif geometris.
Logic: Melihat kesederhanaan melalui sudut pandang yang berbeda. Trend ini secara cerdas mengubah siluet yang sederhana (basic) menjadi sesuatu yang berbeda dari sebelumnya, misalnya dengan memanjangkan, memendekkan atau meniadakan.

The Soul Searchers


Mencari keseimbangan emosi menjadi dambaan setelah lama terbebani oleh pekerjaan. The Soul Searchers mencari ketenangan di tempat-tempat indah dan terpencil. Menikmati keindahan suasana alam di pedesaan, meresapi romantisme kesederhanaan penduduk local sungguh memberi rasa rileks dan damai. Menyatu dan bergembira bersama penduduk setempat mendatangkan inspirasi baru dalam gaya busana The Soul Searchers.

Trend ini mengacu pada kelompok pasar yang ingin tampil bergaya tetapi tidak berlebihan, secara hemat tetapi kreatif. Trend ini didominasi oleh gaya yang lebih lembut, nyaman, dekat dengan alam, santai, dan membawa suasana yang sejuk. Warna-warna natural dalam nuansa pastel yang menyejukkan dan menenangkan mendominasi The Soul Searchers. Dapat juga ditambahkan warna-warna berani sebagai aksen untuk memberi kesan yang lebih gembira.

Kata kunci The Soul Searchers: rural places, healing, exoticTema The Soul Searchers dibagi menjadi empat sub tema:
Joyful: Suasana yang riang dan bebas diwujudkan melalui siluet yang serba longgar dan nyaman dikenakan. Bahan yang ringan dengan warna pastel banyak digunakan, ditambah dengan aksen patchwork.
Healing: Gaya ini merangkul keindahan dan kearifan alam, menghormati dan mencintai alam dengan mewujudkan serta menerapkan motif-motif tumbuhan dan menggunakan warna-warna vegetatif.
Rustic: Romantisme dan indahnya kesahajaan hidup di tempat terpencil adalah fokus dari gaya ini. Rustic craft atau kerajinan lokal yang dibuat secara sederhana, dihargai dan menjadi inspirasi.
Rural: Gaya berpakaian penduduk lokal yang hangat dan ramah menjadi inspirasi design, ditambah dengan aksesoris yang menjadi ciri khas kebudayaan setempat tersebut.

The Saviors


Selalu tergerak untuk menolong, The Saviors terus berinisiatif demi membantu sesama yang sedang mengalami kesulitan. Tidak peduli dengan perbedaan, mereka bahu membahu mengatasi rintangan. Berani, tampil tegar, dan mandiri, The Saviors mendayagunakan segala kemampuan dan perangkat mereka secara optimal.
Gaya ini mendorong sifat design yang lebih maskulin, namun ditambah dengan penggabungan percampuran budaya di dalamnya. Warna-warna maskulin bernuansa keabu-abuan mendominasi The Saviors. Dipadu dengan warna-warna cobalt blue dan dusty pink sebagai aksen akan menjadikan palet warna tersebut menjadi lebih menarik dan tidak membosankan.

Kata kunci The Saviors: activism, sportive, masculine, empathetic Tema The Saviors dibagi lagi menjadi 4 sub tema:
Transcultural: Dengan adanya semangat bekerjasama dan saling membantu, keberagaman budaya justru menjadi suatu keselarasan. Percampuran motif secara berani seperti yang terdapat pada motif batik sekar jagat adalah inspirasi gaya ini.
Inventive: Kesigapan untuk menghadapi segala rintangan menginspirasi gaya ini untuk memperlengkapi diri dengan busana yang praktis dan multifungsi, seperti pada pengembangan variasi blus dan jaket hoodie.
Valiant: Prajurit militer yang Tangguh, gagah dan kuat adalah inspirasi gaya ini, namun diperhalus melalui siluet dan bahan yang lebih luwes dan lentur.
Humanism: Pemikiran yang humanis adalah inspirasi gaya ini. Penampilan yang bersahaja dan tidak berlebihan mencerminkan empati serta nilai-nilai etis yang dianut, dengan mengangkat gaya busana basic yang sportif.

The Self Improvers


Kaum muda yang tumbuh di era digital; penuh semangat bereksplorasi dalam dunia maya. Di sana mereka menemukan realita baru yang memenuhi kebutuhan sekaligus melampaui keterbatasan dunia nyata. Selalu tertantang meningkatkan kemampuan dan jati diri dengan bereksperiman. Menggabungkan diri dengan teknologi digital; membentuk sebuah pembauran dunia nyata dan dunia maya, menciptakan kondisi dimana manusia dan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) semakin terjalin.

Pada gaya trend ini, batas antara dunia nyata dan dunia maya semakin menghilang, sehingga menimbulkan dunia yang baru, dengan gaya design yang eksperimental, sehingga menghasilkan gaya-gaya yang fun, cute, dramatis dan mengarah ke futuristik. Warna-warna cerah merupakan palet warna dominan dari The Self-Improvers. Warna-warna tersebut bisa berdiri sendiri atau diaplikasikan dalam multi gradasi.

Kata kunci The Self Improvers: multidimensions, real x virtual, unpredictable
The Self Improvers dibagi lagi menjadi empat sub tema:
Kidult: Dunia maya membangkitkan semangat dan jiwa kekanakan untuk bereksplorasi dan bermain dengan temuan-temuan baru, yang diterjemahkan dalam teknik dan pengolahan bahan, serta bentuk menggembung.

Tech Paradox: Dunia virtual mendorong ketidaklaziman busana yang berbeda dari realita yang diterjemahkan melalui siluet, warna detail, material, struktur – atau gabungan dari beberapa unsur tersebut.
Simulation: Kecanggihan teknologi mewujudkan angan-angan untuk menjadi bagian dari hasil kreasi dan inovasi. Melalui Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan, manusia dapat merepresentasikan dirinya melalui avatar yang menggunakan busana dengan desain fantastis di luar realita.

New Reality: Terinspirasi dari dunia maya, gaya design ini membangun realita berdasarkan pengalaman bersama dari dunia augmented reality yang diwujudkan dan diterjemahkan menjadi busana yang lebih berdaya pakai.

(Red B-Teks/Shinta Djiwatampu)
Fashion Design Program Director
LaSalle College Jakarta

Hits: 153

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *