Membangun Budaya GRC Terintegrasi

BULETIN TEKSTIL.COM/Jakarta -Sebelum membahas mengenai GRC dalam korporasi, terlebih dulu kita mengenal berbagai Type Budaya Perusahaan – Korporasi :

  • Budaya Klan : Ikatan kebersamaan layak nya kelurga Hubungan yang positif dilingkungan kerja, Komunikasi yang terbuka, komitmen Bersama dan kolaborasi ;
  • Budaya Adhokrasi : Budaya yang paling kreatif masing masing dalam organisasi adalah Risk Taker dan Inovator,. Ada komitmen yang kuat untuk menciptakan standar standar baru, mempertahankan peningkatan yang berkelanjutan, terus mencari solusi kreatif, inovasi. Visioner , berjiwa Wirausahawan, Individu yang berinisiatif dan mandiri.
  • Budaya Pasar : Hasil akhir selalu yang utama, Persaingan secara agresif, Pemimpin yang tegas dan memiliki tuntutan kerja yang tinggi ; Pegawai berprestasi sangat dihargai dan mendapat pengakuan yang layak; “ Result oriented Organization “
  • Budaya Hierarki : Yang utama adalah ‘ Struktur dan Kontrol “ Perusahaan memiliki definisi yang jelas dan formal dengan serangkaian Protokol, Aturan, Regulasi, dan Kebijakan yang ketat untuk memastikan atanya keteraturan. Kelebiha nya : Stabilitas Kontrol dan Proses kerja dan Kepastian ( Prediktabilitas ).

Tata Kelola, Risiko, dan Kepatuhan (GRC) adalah cara terstruktur untuk menyelaraskan IT dengan tujuan bisnis sembari mengelola risiko serta memenuhi semua peraturan industri dan pemerintah. Tata Kelola, Risiko, dan Kepatuhan (GRC) mencakup alat dan proses untuk menyatukan tata kelola organisasi serta manajemen risiko dengan inovasi dan adopsi teknologinya. Perusahaan menggunakan GRC untuk mencapai tujuan organisasi yang andal, menghilangkan ketidakpastian, dan memenuhi persyaratan kepatuhan.

Kondisi Budaya Korporasi Saat Ini

  1. FAKTA ATAU KENYATAAN :
  2. Masih terdapat banyak korporasi yang menerapkan GRC – secara terpisah atau secara Silo-silo, atau penerapan secara bertahap.
  3. Informasi yang diperoleh secara parsial atau sebagian tidak lengkap dan komprehensif. Fragmented TI -Digital 1
  4. Keterbatasan Pemahaman Organisasi atas suatu Kinerja Berprinsip terutama Pimpinan tertinggi dalam Organisasi – Korporasi – TONE AT THE TOP
  5. Perilaku Etis – Berintegritas belum sepenuhnya menjadi bagian yang melekat. Dalam organisasi
  6. Belum membudayanya GRC terintegrasi dalam Korporasi.

Mengapa GRC Sangat Penting ?

FAKTA ATAU KENYATAAN SAAT INI

  1. Masih terdapat banyak korporasi yang menerapkan GRC – secara terpisah dan sendiri-sendiri, atau secara Silo-silo, atau penerapan secara bertahap misalnya dimulai dari Risk Management – Manajemen Risiko, dan kemudian Compliance – Kepatuhan dan Governance – Tata Kelola baru diterapkan kemudian. Terjadi tumpeng tindih atau duplikasi dalam penerapannya sehingga berimbas pada meningkatnya biaya serta kurang selarasnya aktifitas organisasi – korporasi.
  2. Informasi yang diperoleh secara parsial atau sebagian tidak lengkap dan komprehensif, pejabat atau orang yang berada dalam jajaran organisasi termasuk pimpinan mendapat informasi yang tidak-atau kurang tepat dan telah lewat waktunya, dan bahkan absoletetidak lagi berguna; Pemanfataan TI – Digital bersifat Parsial – Not fully integrated.
  3. Keterbatasan Pemahaman Organisasi atas suatu Kinerja Berprinsip terutama Pimpinan tertinggi dalam Organisasi – Korporasi, sehingga kurang kuatnya pesan yang disampaikan kepada jajaran dibawahnya tentang pentingnya bekerja secara terintegrasi – lack of “Tone at the Top” berupa komitmen PimpInan : arahan, perintah, instruksi dan teladan. Dalam sebagian besar Korporasi, tanggung jawab implementasi GRC secara terintegrasi diserahkan kepada Jajaran dibawah Direksi, misalnya pada Sekretaris Perusahaan atau Kepala Divisi.
  4. Landasan Etis dan Perilaku Berintegritas belum sepenuhnya menjadi bagian yang melekat dan integral dalam pribadi maupun Jajaran – Unit Organisasi – Korporasi. = masih sering terjadi tindakan tidak terpuji ( Fraud dan Corruption )
  5. Belum membudayanya GRC dalam Korporasi, karena itu diperlukan upaya yang terencana dan sistematis lewat “Pelatihan” untuk menjadikan GRC Terintegrasi penting, dipahami dan dilaksanakan secara tertib, berkesinambungan dan menjadi komitmen Bersama semua Jajaran Organisasi; mereka merasa terikat dan berkewajiban untuk melaksanakannya

Membangun Budaya GRC

Untuk membangun budaya GRC maka yang utama adalah merubah mindset atau cara berfikir.

Cara Berpikir LAMA :

  • Asset Heavy (Tanah, Gedung, Mesin-mesin)
  • Resource Control
  • Tangibility (Tanah, Gedung, dan lainnya)
  • Value Chain
  • Internal Efficiency
  • Internal Governance (Kontrol)
  • Analisis Industri
  • Analisis Industri (dengan boundary yang jelas)

Cara Berpikir BARU

  • Asset Light (Teknologi)
  • Resource O rchestration
  • Intangibility (Network Effect)
  • Ecosystem
  • Ex ternal Efficiency (Interaction)
  • Ex ternal Governance (Rating, Review)
  • Analisis Arena (Borderless Sector)
  • Analisis Arena (Borderless)

Setelah merubah pola fikir maka tentukan tujuan yaitu Membangun Budaya  Agar Lebih Selaras. Responsif. Gesit, Tangguh, Efisien Kinerja berprinsip

Yang harus dilakukan adalah PRINSIP TATA KELOLA YANG BAIK, KEPATUHAN dan RISIKO YANG TERKELOLA

Prinsip tata kelola yang baik meliputi Transparency Accountability, Responsibility, Independency Fairness. Kepatuhan mencakup Tone at the Top Beyond Rule and regulations; Mandatory and Voluntary; Ethical Driven Vs, Regulated Driven. sedangkanResiko yang terpetakan adalah Risiko yang harus  terpetakan dengan baik dan menyeluruh meliputi : Operasi ( Proses, Sosial, Lingkungan) , Keuangan, Kebijakan, Politik dan lainnya dan Review secara berkala.

Lalu bagaimana cara membangun budaya agar Lebih Selaras. Responsif. Gesit, Tangguh, Efisien

PELATIHAN DAN BIMBINGAN

Secara In House atau Kolaborasi Untuk pemahaman utuh Tata Kelola, Manajemen Risiko dan Kepatuhan secara terintegrasi Harus diukur secara berkala

CERTIFICATIONS Knowledge Management Competency Pemanfaatan TI – Digital – New Era “ Information Quality “

MANFAAT Penerapan GRC  adalah Korporasi menjadi Lincah dan Mampu beradaptasi secara cepat dan tepat mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis serta Pencapaian Objektif, Target baik jangka Pendek maupun jangka Panjang dan terus bertumbuh dan Penciptaan Nilai Bersama.

Memberi jaminan bahwa Perusahaan dijalankan secara Etis, dan berintegritas untuk mencapai tujuan terbaik yang ditetapkan , bertumbuh secara sehat dan memberi jaminan bagi Share Holder dan Stakeholder lainnya bahwa pelaksanaan Tugas Direksi dan Komisaris semata mata ditujukan untuk kepentingan terbaik bagi Korporasi. Organisasi Tangguh dan Responsif dan Bertumbuh sehat dan berkelanjutan Perilaku Etis menjadi dasar antau fondasi dari seluruh struktur, sistim, bagunan organisasi, dan sumber daya insani.

Contoh Budaya GRC yang sudah di Praktekkan adalah Perusahaan Blue Bird : Kolaborasi dengan Go-Jek untuk Angkutan berbasis aplikasi – Platform digital tujuannya ; untuk menantisipasi Risiko – Bisnis Penurunan Revenue, karena Penumpang beralih ke type angkutan yang mudah dalam ketersediaan layanan : Go-Jek dan Go-Car dan untuk mengkapitalisasi “ Trust “ yang sudah terbangun sebagai transportasi yang terpercaya ; Program Pemberdayaan Karyawan yang pensiun sebagai wujud tindakan etis.

(Red B-Teks/ Ben Da Haan)

Hits: 14

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *