TPTTradisional

Menjalin Persatuan Bangsa Melalui Batik

Catatan Peringatan Hari Batik 2 Oktober 2022

BULETIN TEKSTIL.COM/ Jakarta -Gaung semarak peringatan Hari Batik di sepanjang Oktober 2022 masih terasa bergelora.  Setelah 2 tahun terhalang pandemi, sepanjang bulan Oktober lalu, masyarakat  di berbagai daerah nampak begitu antusias dan ekspresif dalam merayakannya.

Di Jakarta, Yayasan Batik Indonesia menggelar Fashion Street terpanjang yang dimulai dari Bunderan HI hingga depan Mall FX. Kegiatan ini juga dicatat dalam rekor MURI. Begitu juga di Jambi, kegiatan yang dilakukan memecahkan rekor MURI dalam berbusana Batik Jambi terbanyak. Acara itu diikuti oleh puluhan ribu ASN di 9 Pemerintahan Kabupaten dan 2 Pemerintahan Kota.

Di Malang sekitar 580 difabel bersama-membuat batik ciprat sepanjang 500mtr di bundaran tugu Kota Malang. Kegiatan itu juga di catatkan dalam rekor MURI. Sementara di Solo, memperingati dengan cara berkebaya bersama Ibu Negara, Iriana Jokowi.

Selain itu, masih banyak di daerah-daerah lain memperingatinya dengan caranya sendiri. Begitu juga dengan perwakilan Indonesia yang berada di Negeri  lain.

Batik memang bukan hanya milik suku atau komunitas tertentu anak negeri ini. Keberadaannya sudah menjalar di berbagai pelosok nusantara hingga perwakilan di manca negara. Semua memiliki hak yang sama dalam mengembangkannya. Dan juga memiliki kewajiban yang sama. Yakni, sama-sama melestarikan warisan budaya.

Karena kesamaan itu, akan terjalinlah persatuan bangsa melalui selembar wastra. Melalui sebuah karya warisan budaya dalam proses menghias kain yang dinamakan batik.

Memang, itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri, karena semangat untuk mengembangkan dan melestarikan batik, sudah tercermin disana. Sedang teknis pengembangannya, dilakukan dengan berbagai macam cara sesuai dengan masing-masing karakter daerah.

Salahsatunya, seperti yang telah dilakukan oleh para pembatik Kota maupun Kabupaten Kediri 23 Oktober lalu. Moment Hari Batik Nasional dimanfaatkan tidak hanya sekedar menggelar karya dalam parade batik dan bazar batik. Namun, juga penguatan visi dan karakter kedaerahan dengan menggelar Jagongan Batik yang mengusung thema, Mencari Jati Diri Batik Kediren.

Dua tokoh dihadirkan dalam acara itu sebagai nara sumber. Yakni Adi Kusrianto, dosen dan penulis buku batik dan Adi Wahyono, Perajin batik dari Kediri yang baru memenangkan juara motif batik Kabupaten Kediri.

Dalam dialog itu, Adi Kusrianto memotifasi para pembatik untuk bangkit dan semangat menghasilkan karya yang mencerminkan batik karakter Kediren. Mengingat berdasarkan sejarah, batik pola gringsing berasal dari Kediri. Hal itu berdasarkan referensi dari penulis Belanda, Gerret Pieter Rouffaer (1860-1928) dalam bukunya De Batik Kunst in Nederlandsch Indie menyebutkan bahwa pola Gringsing sudah ada sejak abad 12 di Kediri.Dia menyimpulkan bahwa pola itu hanya bisa dibuat dengan pena yang bernama canting.

Sedang Adi Wahyono menyatakan, sudah saatnya Kediri memiliki batik yang berkarakter, mencerminkan khas daerah. Karakter itu bisa dimunculkan lewat motif maupun pewarnaannya.

Selain Kediri, Pasuruan juga menggelar acara unik di hari Batik. Yakni dengan mengadakan acara Batik Camp, dimana agendanya adalah diskusi batik dan sharing ilmu dalam membatik dan juga membuat payung batik.

Yang pasti, momen Hari Batik Nasional sepanjang Oktober lalu makin membuka kesadaran bahwa batik seolah sudah ‘mendarah daging’ di masyarakat. Harapannya, melalui karya akan memperkokoh persatuan nusantara. Sinergi terjalin dimana-mana. Dan yang lebih penting lagi, semoga gelora ini tak hanya pada momen di bulan Oktober saja. Namun berkesinaambungan dan terus bangkit mengibarkan wastra budaya khas nusantara dikancah dunia.

Awal Mula Hari Batik                                    

Bagaiaman kronologis lahirnya Hari Batik Nasional? Batik pertama kali diperkenalkan kepada dunia internasional oleh Presiden Soeharto saat mengikuti konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Batik Indonesia didaftarkan untuk mendapat status intangible cultural heritage (ICH) melalui kantor UNESCO di Jakarta oleh kantor Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, mewakili Pemerintah Indonesia dan komunitas batik Indonesia, pada 4 September 2008.

Pada 9 Januari 2009, pengajuan batik untuk Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO diterima secara resmi, dan batik dikukuhkan pada sidang keempat Komite Antar-Pemerintah tentang Warisan Budaya Nonbendawi yang diselenggarakan UNESCO di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009. Pada sidang dimaksud, batik resmi terdaftar sebagai Warisan Kemanusiaan Karya Agung Budaya Lisan dan Nonbendawi di UNESCO.

Pemerintah Indonesia menerbitkan Kepres No 33 Tahun 2009 yang menetapan hari Batik Nasional juga dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya perlindungan dan pengembangan batik Indonesia.

Sekretaris Jenderal Menteri Dalam Negeri Hadi Prabowo menandatangani Surat Edaran Nomor 003.3/10132/SJ tentang Pemakaian Baju Batik dalam Rangka Hari Batik Nasional 2 Oktober 2019. Berdasarkan surat edaran tersebut, Kementerian Dalam Negeri mengimbau seluruh pejabat dan pegawai di lingkungan pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota untuk menggunakan baju batik pada hari Rabu.

(Red B-Teks/ Ratna Devi)

Views: 22

One thought on “Menjalin Persatuan Bangsa Melalui Batik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *