SEMINAR NASIONAL PEMULIHAN INDUSTRI TPT PASCA PANDEMI (Bagian II)

BULETIN TEKSTIL.COM/Jakarta -Sebagai kelanjutan dari Artikel bagian satu Seminar Nasional Pemulihan Industri TPT Pasca Pandemi,

Baca artikel Bagian Satu : SEMINAR NASIONAL PEMULIHAN INDUSTRI TPT PASCA PANDEMI

Pada kesempatan ini kami sampaikan Bagian Dua dari artikel seminar tersebut. Pada Bagian ini kami akan sampaikan paparan dari pembicara-pembicara sebagai berikut:

1. Liliek Setiawan (CEO PT. Sekar Lima Pratama)

2. Eko Supriatno (Brand Internasional)

3. Teti Yani Hartono (CEO PT. Globalindo Intimates)

 

Liliek Setiawan (CEO PT. Sekar Lima Pratama)

Liliek mengatakan sudah mulai terlihat trend membaiknya pertumbuhan dalam perekonomian nasional yang tentunya akan diikuti pertumbuhan industri TPT kita. Dinyatakan bahwa pertumbuhan industri TPT kuartal 1 tahun 2021 naik signifikan sebesar 12,45% dibanding tahun sebelumnya, begitu juga peningkatan kuartal selanjutnya. Ekspor TPT meningkat sebesar 27,9% yang diperoleh dari apparel sebesar 66,6% dan benang yang naik 14,5%. Investasi tekstil pada kuartal 1 2022 naik sebesar 6,4%.

Dari data bulan Mei 2022 terlihat bahwa ekspor dan neraca transaksi TPT menggembirakan. Liliek melihat ini sebagai sinyal  “reborn” industri TPT, akan adanya pertumbuhan industri tekstil dan apparel dimasa depan.

Ditekankan pentingnya posisi industri TPT sebagai penghasil devisa negara dan sebagai nett social safety dengan besarnya jumlah tenaga kerja yang diserap industri ini.

Menurut dia transformasi industri tekstil memerlukan 4 faktor penting yaitu: Tenaga kerja, perlu adanya transformasi beberapa faktor untuk memperkuat sinyal diatas yaitu: Ketenagakerjaan, struktur finansial dan kapital , ekosistem dan regulasi.

Dalam hal ketenagakerjaan perlu diperhatikan:

  1. Keterkaitan antara Pendidikan dan sekolah vokasi versus kebutuhan industri,
  2. Pemahaman tentang KPI, jenjang karir, kesejahteraan.
  3. Kesatuan persepsi tentang tenaga kerja industri TPT oleh kementerian terkait.
  4. Standarisasi tenaga kerja menyongsong globalisasi.

Terkait Struktur Finansial dan kapital dijabarkan sebagai berikut:

  1. Pemahaman siklus modal kerja dari hulu ke hilir oleh perbankan dan pemerintahan.
  2. Pemahaman Capex di industri TPT untuk meningkatkan daya saing perusahaan
  3. Penerapan GCG dan transparansi para pelaku usaha
  4. Bantuan pemerintah dan sektor finansial

Dalam hal ekosistem Liliek menyatakan bahwa:

  1. Transformasi energi kompetitif menuju energi hijau
  2. Harmonisasi hulu-hilir dan supply chain untuk mengurangi lead time dan biaya logistik
  3. Revitalisasi permesinan seluruh sektor TPT dengan konsep industri 4.0
  4. Keterpaduan Asosiasi TPT dari sektor hulu sampai sektor hilir.

Regulasi yang di tetapkan pemerintah diharapkan memuat ketentuan-ketentuan:

  1. Pemahaman holistic ekosistem oleh para pemangku kebijakan
  2. Benchmark terhadap industri TPT negara-negara pesaing
  3. Perlunya insentif memadai guna merevitalisasi dan transformasi industri TPT

Dalam hal ketenagakerjaan diharapkan bahwa bonus demografi tahun 2025 mendatang dapat dimanfaatkan sebaik mungkin, untuk itu perlu adanya standarisasi tenaga kerja untuk valuasi SDM. Berdasarkan pantauan Liliek, sekarang ini industri TPT dan UKM tekstil telah menyerap sebanyak 8 jutaan orang tenaga kerja. Start up company banyak terdapat di sektor hilir UKM, dan mereka ini berpotensi menjadi sektor kuat dijajaran industri TPT bila dilakukan pembinaan dengan baik.

Berbicara tentang ekosistem Liliek menekankan perlunya memikirkan  penggunaan energi hijau dalam proses produksi industri TPT, contohnya solar energi, disampaikannya bahwa daerah Bali dan NTT mempunyai intensitas sinar matahari yang tertinggi serta tersedia sepanjang waktu, sangat sayang kalau terbuang begitu saja tanpa dimanfaatkan dengan baik sebagaimana negara pesaing kita sudah bergerak kearah sana.

Tentang solar energi ini, memperkuat pandangan Benny Soetrisno, Liliek menyatakan pembatasan kapasitas 10% pemanfaatan listrik yang dihasilkan oleh pabrik untuk proses produksi merupakan kebijakan yang kontraproduktif. Kebijakan tersebut diperkirakan karena  sudah terlanjur tersedianya pasokan listrik oleh PLN akibat tidak terserapnya daya listrik tersebut akibat melemahnya investasi setelah pandemi dua taun yang lalu.

Sebagai penutup disampaikan oleh pembicara bahwa target kedepan industri TPT harus diarahkan ke industri yang berwawasan kesadaran lingkungan hidup dalam proses produksinya, transformasi dari proses produksi bersifat ekonomi linier kearah ekonomi sirkular, mengejar target ekspor untuk mencapai porsi 2,7% dari total ekspor Dunia dengan nilai sebesar US$ 23,7 miliar.

 

Teti Yani Hartono (CEO PT. Globalindo Intimates)

Teti menyampaikan bahwa pada awal masa pandemi Covid-19 terjadi penurunan dalam bisnis TPT, tetapi pada tahun 2021 terjadi peningkatan sebesar 120% order diperusahaannya. Pada tahun 2022 ini ekspor Pakaian Dalam Wanita menurun terutama karena menurunnya demand di Amerika.

Teti melihat beberapa faktor Strength Indonesia, terutama Jawa Tengah dibanding dengan Bangladesh, Vietnam dan Myanmar seperti tersedianya infrastruktur yang sangat menunjang kegiatan industri, jumlah penduduk yang besar sejumlah 85 juta jiwa dengan usia produktif 19,2 juta jiwa.

Sedangkan faktor weakness-nya menurut Teti antara lain: Upah buruh lebih tinggi dibandingkan dengan Vietnam, Bangladesh dan Myanmar, catatan daftar upah dinyatakan sebagai berikut: Bangladesh US$ 60, Myanmar US$ 67, Jawa Tengah US$ 140 dan Vietnam US$ 200.  Jam kerja kita yang 40 jam perminggu berada dibawah jam kerja negara-negara tersebut diatas yang 47 jam/minggu,  waktu cuti karyawan kita juga lebih besar.

Peluang TPT Indonesia untuk memasuki pasar negara-negara tujuan ekspor masih cukup baik disamping tentu saja adanya pasar lokal kita yang cukup besar.

Tantangan yang dirasakan oleh para pengusaaha TPT antara lain: ketidak stabilan perekonomian global dan peraturan-peraturan pemerintah yang kontra produktif dan menambah beban biaya produksi.

Globalindo Intimates berorientasi ekspor 100% dengan negara tujuan ekspor yang antara lain Amerika , Uni Eropa dan Korea. Peningkatan inflasi di beberapa negara tujuan , yang akan menurunkan pembelian garment oleh konsumen dikawatirkan dapat menjadi ancaman bagi perusahaan. Untuk mengatasi ancaman tersebut manajemen perusahaan akan melakukan modifikasi produk mereka, dan ini tidak sulit karena perusahaan sudah menerapkan dengan baik sistem industri 4.0 diseluruh lini perusahaan.

Strategi yang harus dijalankan oleh perusahaan dan segenap stake holder TPT menurut Teti adalah:

  1. Peningkatan skill SDM
  2. Melakukan investasi mesin guna meninggikan kapasitas dan kualitas produk
  3. Menata dengan baik dengan supply chain untuk meningkatkan efissiensi
  4. Transformasi industri agar menjadi industri yang mempunyai tarik bagi investor ya ng meliputi: transformasi budaya, produk, operasi industri, teknologi dan sistem manajemen perusahaan

Transformasi Industri menurut pembicara mencakup:

  1. Budaya : Keterbukaan terhadap perubahan pada industri dan pengembangan tenaga kerja yang kompeten
  2. Produk : Memperhatikan trend dan menghasilkan smart product yang dapat menembus pasar
  3. Operasi Industri: Ekosistem yang harmonis dan supply chain yang effisien
  4. Teknologi: Ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan memberi keamanan dalam penggunaannya
  5. Manajemen: mengutamakan strategi industri dan dan kebijakan inovasi menuju transformasi industri.

 

Eko Supriatno (Brand Internasional)

Dalam paparannya Eko merangkum 3 hal penting yang harus dilakukan yaitu :

  1. Inisiatif yang diperlukan untuk mendorong terjadinya speed up bisnis TPT, didalamnya terdirinya atas: semangat kewirausahaan, kebijakan local to local dalam rantai pasok TPT dari sektor hulu ke sektor hilir, ketersediaan tier 3 dalam rangkaian industri TPT.
  2. Investasi yang diarahkan pada pencapaian sustainability dalam proses produksi TPT guna menurunkan jejak carbon foot print dan juga jug ditujukan pada sistem digitalisasi, dengan digitalisasi ini semua keputusan dalam proses produksi dapat diambil dengan cepat dan mengatasi permasalahan secara real time.
  3. Inovasi dalam hal proses dan produk, sehingga akan mengurangi waktu lead time dan juga akan memperbaiki performance produk yang dihasilkan.

Kesulitan yang dihadapi oleh pengusaha TPT saat ini antara lain: Kelangkaan container, konflik Rusia-Ukraine dan lock down di China. Kelangkaan container menyebabkan sulitnya pengapalan produk dan juga meningkatkan biaya transport, tapi dibalik hambatan ini ada semacam hal baik yang bisa dipetik, yaitu membuat produsen berpikir untuk mendapat suplai bahan baku dari lokal yang ujungnya akan mengurangi efek carbon foot print.

Secara umum diketahui bahwa perang Rusia-Ukraina membuat kesulitan bagi hampir seluruh negara di Dunia seperti misalnya menyebabkan peningkatan inflasi yang pada gilirannya akan menurunkan daya beli masyarakat Dunia terhadap TPT. Faktor China masih dominan bagi industri TPT Indonesia, ketergantungan bahan baku impor yang dari China sedemikian besarnya, dapat dilihat bagaimana pasar lokal dibanjiri produk-produk tekstil China, baik yang masuk secara legal maupun tidak.

Eko menyatakan bahwa iklim investasi di Indonesia masih belum menarik bagi investor dari Luar Negeri, misalnya dibandingkan dengan Vietnam, yang mempunyai FTA dengan beberapa negara, investor yang akan mengekspor produknya akan lebih memilih memanam modalnya di negara tersebut, karena dengan harga FOB yang sama maka harga barang Vietnam dinegara tujuan akan lebih murah sekitar 12%, dan tentu saja konsumen akan memilih membeli produk Vietnam dari pada produk ex Indonesia.

Ditekankan oleh Eko bahwa keterhubungan antara sektor hulu sampai kesektor hilir dalam hal supply chain merupakan hal mutlak untuk dihadirkan dalam industri TPT kita karena hal ini akan mendorong cepatnya terjadi kondisi local to local. Perlu juga untuk membuat kebijakan tentang inovasi produk  yang diarahkan pada sustainability proses produksi dengan mendorong terciptanya recycled product dan close loop production.

Dorongan dari pemerintah dan seluruh stake holder TPT diperlukan untuk dapat menarik investasi di industri TPT, antara lain dalam bentuk:

  1. Regulasi:
  2. peraturan tentang investasi yang menarik, regulasi yang sederhana mudah untuk diterapkan, pemberian insentif dan adanya tax holiday bagi investor.
  3. FTA dengan negara-negara tujuan ekspor utama kita seperti USA dan Eropa
  4. Pelaksanaan peraturan yang baik bagi pasar lokal
  5. Membuat blueprint dan roadmap untuk memproduksi permesinan Dalam Negeri
  6. Hubungan sektor hulu dan hilir
    1. Prioritas menggunakan raw material lokal
    2. JV antara pabrik kain dan pabrik garment
    3. Asosiasi pengusaha mendorong proses alignment diatas
  7. Kepedulian stake holder terhadap sustainability
  8. Pemenuhan social compliances
  9. Pengurangan carbon footprint disemua aspek produksi.

(Red B-Teks/Indra I)

Hits: 42

One thought on “SEMINAR NASIONAL PEMULIHAN INDUSTRI TPT PASCA PANDEMI (Bagian II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *