Nasional

Webinar Supply Chain TPT Buletin Tekstil Indotex (Bagian 2)

BULETIN TEKSTIL.COM/ Jakarta – Sebagaimana yang kami sajikan kehadapan pembaca pada Buletin Tekstil Edisi 17 lalu, maka sebagai kelanjutannya kami sampaikan Bagian 2 Webinar Supply Chain TPT yang menghadirkan beberapa pembicara tokoh-tokoh industri tekstil Nasional. Pada Bagian 1 kami telah menyampaikan pandangan dan pendapat dari Benny Soetrisno, Elis Masitoh, Redma Gita Wirawasta, Indra Firdaus dan Rizal Tanzil. Pada Bagian 2 ini kami hadirkan Lucas Lestyana Prawoto dari Gajah Duduk, Eko Supriyanto, Kunto Antariksa UnderArmour dan Ratih Kurniasari pemain Marketing TPT Dalam Negeri serta Riza Muhidin Direktur Eksekutif Ikatsi.

BACA Bagian I SUPPLY CHAIN TPT – WEBINAR BULETIN TEKSTIL INDOTEX 2022

Pada webinar tersebut Lucas memberikan gambaran yang lebih khusus masalah tekstil terutama sarung. Menurut Lucas industry ini mempunyai sistem 4-4-4. Artinya 4 bulan RAMAI menjelang lebaran, 4 bulan SEDANG setelah lebaran iedul fitri dan ada iedul adha, kemudian 4 bulan SEPI dimana saat ini kebanyakan distributor menyimpan atau mengisi logistik untuk 4 bulan berikutnya yang akan “meledak” penjualannya.


Lucas Lestyana Prawoto

“Pasar sarung secara garis besar saat ini sekitar 2,5 sampai 3 juta kodi. Tetapi berdasar pengamatan kami sebetulnya dari tahun ke tahun (YoY) ada trend penyusutan besaran pasarnya” ungkap Lucas.

Menurutnya penyusutan ini dikarenakan penggunaan sarung itu secara tradisional untuk ibadah sholat bagi kaum muslim, kemudian tergantung lifestyle-nya daerah setempat. Kedepannya kebanyakan dari kita sarung dibikin Non sarung. Mesin- mesin sarung sebagian besar kita alihkan untuk produksi batik jacquard.

Pabrik yang memiliki modal kuat melakukan combining product brand. Seperti Gajah Duduk dengan Avian, atau Nippon Paint artinya dimana produk itu kuat di satu daerah dan kain sarung mau melakukan penetrasi kedaerah tersebut maka dilakukan sistem pemasaran combining, setiap pembelian cat 20 kg akan mendapatkan 1 sarung Gajah Duduk.

Eko Supriyanto dari European Sport Brand yang yang sudah lama berkecimpung di industri ini mengupas bagaimana brand bisa menghandle bisnisnya dalam supply chain. Menurut Eko yang paling mendasar pada umumnya adalah Local to Local, dimana produsen bahan baku lokal dihulu dapat mensuplai semua kebutuhan sektor dihilirnya, hal ini akan sangat menguntungkan sektor hilir karena itu ada hubungannya dengan speed, flexibility dan kecepatan reaksi terhadap kebutuhan pasar.

Bisnis harus kompetitif, makanya Eko mengatakan target dari local to local 70 %, currently masih jauh dari target karena ada missing gap yaitu inovasi dan sustainability material dari produsen lokal.


Eko Supriyanto

“Saya harapkan Missing Gap ini bisa dibantu oleh Kementerian atau pemerintah untuk mendorong para pelaku industri tekstil untuk lebih kearah product inovatif dan bukan hanya bermain di basic product saja hingga kurang kompetitif dimata brand” ujar Eko.

Pak Eko memiliki target sampai 2030 carbon foot print akan turun 30%, local to local yang akan menjadi kuncinya, disamping juga akan meningkatkan delivery time, harus menjadi rata-rata 14 hari dari PO turun sampai ke produk itu di-delivery.

Sedangkan Kunto dari Underarmour lebih menguatkan pendapat dari pembicara terdahulu, bagi UnderArmour juga memiliki target Local To Local yang baru sebesar 10% karena 90% masih impor artinya masih ada opportunity (kesempatan) juga bagi pabrik tekstil di Indonesia untuk bekerjasama dengan UnderArmour.

Masalahnya kadang kapasitas pabrik hulu ini memungkinkan untuk memproduksi sesuai besarnya kuantitas yang menjadi tuntutan konsumennya, tetapi dalam hal kapabilitasnya tidak mampu, bisa akibat kekurangan kondisi permesinan atau skill pengelola mesin, atau bisa terjadi sebaliknya, itu pertama, yang kedua kurangnya pembaharuan mesin dan riset and depelopment agar akhirnya capasity dan capability pabrik hulu ini matching dengan kebutuhan konsumennya, sehingga dengan demikian tidak ada lagi alasan brand-brand internasional untuk tidak memakai kainnya dari Indonesia.

Lebih jauh dijelaskan, bahwa dengan kesadaran konsumen akan kelestarian lingkungan hidup yang makin meningkat, terutama di negara-negara maju, maka carbon foot print sejak dari bahan baku, proses produksi, sampai kepasar untuk dibeli konsumen, akan menjadi kepedulian konsumen, mereka akan memperhatikan seberapa besar carbon foot print yang tertinggal dari keseluruhan proses itu.

Dalam hal ini energi yang terpakai dalam pengangkutan: material awal, bahan baku sampai mendatangkan produk jadi ke pasar menjadi salah satu faktor penting dalam kalkulasi carbon foot print, mendapat bahan baku dari tetangga sebelah pasti akan menghabiskan energi yang lebih kecil, yang berarti pula jejak carbon yang tercecer akan lebih kecil juga dibandingkan dengan mengimpor bahan baku dari negeri Cina, ini argumentasi kuat perlunya local to local.

Pendapat pembicara lainnya yaitu Ratih Kurniasari mengatakan, dulu industri kita dimanjakan, dia mengatakan kita jualan satu kali untuk kemudian bisa libur santai 1 tahun, karena yang dilakukan sifatnya Long Term Contract. Yang namanya bikin budget, planning itu gampang dan produksinya enak banget.

Sekarang kompetisinya sangat ketat, untuk mencari order susah, tidak bisa kita membuat planning 6 bulan, 2 bulan saja kita harus mikir lagi, produk apalagi yang mau dijual dan mau kemana menjualnya karena tidak ada sistem long term contract, semua berubah cepat dan semakin cepat lagi. Kecuali mungkin ada kontrak dengan brand-brand besar. Tapi brand juga per section dan nyatanya sekarang kontrak jangka pendek saja yang ada.

“Kuncinya adalah ada kemauan berubah dari stackholdernya karena bisnisnya sudah berubah, cina hebat dalam hal ini. Mereka mau berubah” ungkap Ratih. “Kita lihat Thailand, Indonesia, dan Malaysia kayanya mati suri tekstilnya karena masih sama seperti yang dulu, tidak mau ikuti perubahan yang terjadi” sambung Ratih.

Menurut Ratih untuk kompetisi di lokal market, kita terpuruk karena banyak sekali terbentur barang impor dari China, Pakistan dan India, karena pertama price mereka lebih kompetitif dan kedua mereka lebih cepat untuk mendapatkan counter sample.


Ratih Kurniasari

“Namun karena beberapa Brand targetnya Local To Local maka Kita optimis industri tekstil kita akan tetap bisa bersaing” pungkasnya.

Riza Muhidin yang mewakili Ikatsi melihat bahwa industri TPT Indonesia memiliki keunggulan kompetitif, secara nasional terintegrasi penuh dari hulu hingga kehilir. Tidak banyak negara yang memiliki kondisi seperti ini, sehingga di Indonesia sistem Local to Local sangat mungkin untuk diwujudkan.

Kalau saja keunggulan ini ditata dan dikelola dengan baik maka potensi daya saing kita akan sangat kuat. Hanya saja sekarang ini banyak pihak yang notabene adalah “orang-orang tekstil” mencoba menguntungkan diri sendiri atau kelompoknya, meraih rente ekonomi dengan mengatur adanya relaksasi impor yang mengakibatkan tidak mungkinnya produsen Dalam Negeri bersaing dipasar lokal dengan produk-produk TPT yang diimpor secara tidak wajar dari berbagai negara.

Kalau saja program-program Direktorat ITKAK Kementerian Perindustrian bisa disempurnakan dan kemudian diwujudnyatakan dilapangan, seperti pendataan potensi produksi melalui program ISTIH, sehingga kita tahu siapa bisa memproduksi apa dan berapa banyak, kemudian siapa membutuhan bahan baku apa, bagaimana kualitas dan kuantitasnya serta kapan dibutuhkannya. Kalau data ini terus menerus di up date, maka untuk membentuk keterhubungan supply-demand akan mudah dan dapat berjalan baik.

Dalam pelaksanaan transaksi hulu-hilir TPT ini, data yang sudah ada di ISTIH digunakan sebagai dasar rencana untuk membuat Materal Center, yang infonya sudah juga direncanakan oleh Direktur ITKAK, maka Material Center yang akan diposisikan secara fisik di beberapa sentra tekstil ini dapat menjamin supply chain dari hulu sampai hilir, dari perusahaan TPT Besar ke perusahaan-perusahan Menengah sampai ke UKM, mereka akan mendapat kepastian memperoleh bahan baku yang sesuai kuantitas, kualitas dan harga serta waktu delivery secara tepat dan cepat. Apalagi ditambah lagi dengan program TKDN, SNI, dorongan investasi melalui Program Restrukrurisasi Permesinan, maka dapat dibayangkan akan bagaimana berjayanya industri TPT Indonesia.

Kesemuanya itu tidak mudah sebagaimana membalikkan telapak tangan untuk mencapainya, berjuang untuk memberikan yang terbaik adalah kata kuncinya, dan ini harus dilakukan seluruh stakeholder TPT, tidak bisa hanya membebankan pemerintah saja atau pengusaha saja atau para ahli tekstil saja yang berjuang sendiri-sendiri, tapi harus satu dalam derap langkah kebersamaan … semoga terwujud.

(Red B-Teks/ Ly – Indra I )

Views: 76

One thought on “Webinar Supply Chain TPT Buletin Tekstil Indotex (Bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *