CANOPY Perannya Dalam Kegiatan Produksi Serat Selulose Dunia

BULETIN TEKSTIL.COM/ JAKARTA

Pendahuluan

Kesadaran warga Dunia akan kelestarian lingkungan hidup semakin dan akan terus meningkat, perhatian mereka atas segala aspek kehidupan kita dibumi ini disuarakan dengan lantang oleh para pemerhati lingkungan. Salah satu yang menjadi fokus perhatian para aktifis pemerhati lingkungan ini adalah kegiatan industri, terutama industri TPT.

Dalam pemikiran mereka, sejak dari awal perolehan serat telah membebani bumi dengan konsumsi energi dan sumber daya air serta menyisakan limbah yang membahayakan bumi seperti pada pertanian kapas, proses produksi serat buatan (baik synthetic fiber maupun regenerated cellulosic fiber). Dalam proses produksi lanjut pun industri TPT dianggap selalu membebani bumi dengan limbah sisa prosesnya, sampai keujungnya berupa pakaian bekas yang sangat menakuti para pemerhati lingkungan hidup karena limbah pakaian bekas ini diperkirakan akan menimbun bumi bila tidak dikelola dengan benar.

Pada era Sembilan Puluhan para ahli tekstil di International Textile and Clothing Body (ITCB) Swiss mengajukan prediksi bahwa kedepannya nanti ada tiga negara yang akan mendominasi sebagai produsen dan eksportir TPT Dunia, yaitu: China, Pakistan dan Indonesia.

Pemikiran mereka itu didasarkan pada ketersedian tenaga kerja dan bahan baku utama TPT, China dan Pakistan dengan kapasnya dan Indonesia memiliki hutan tropis yang kayunya menjadi bahan baku pembuatan cellulosic fiber. Sekarang, China sudah terlihat nyata dominasinya dengan berkontribusi hampir separuh pasar tekstil Dunia, Pakistan pun melonjak tinggi dalan kontribusinya dipasar TPT Dunia.

Indonesia ?, apakah prediksi ini akan meleset bagi negeri kita, karena industri TPT Indonesia terlihat masih tertatih-tatih untuk dapat eksis dipasar TPT lokal maupun internasional. Tentu saja jawabannya harus diberikan oleh segenap stake holder TPT kita, dan tanggung jawab utamanya berada ditangan para produsen serat selulose dan pihak terkait lainnya.

Serat Selulose

Serat selulose (Cellulosic Fiber) yang secara umum dikenal sebagai serat rayon dibuat dari pulp kayu. Pada awalnya para produsen menggunakan bahan baku kayu yang diambil dari hutan alam, sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan alam, maka kayu yang digunakan bergeser ke kayu hutan industri, atau kayu yang dalam penebangannya memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh lembaga yang berwenang.

Diera awal kita kenal serat Viscose dengan sifat-sifat serat: pegangan yang lembut, nyaman dipakai, berkilau dan MR tinggi.

Perkembangan berikutnya ditemukan serat Modal, yang oleh Bureau for the Standarization of Man Made Fibres (BISFA) di definisikan sebagai : genre yang berbeda dari serat viscose dengan wet modulus dan nilai wet tenacity yang lebih baik. Sifat-sifat baik serat Modal adalah kemudahan dalam blending dengan serat lain dan juga mudah dalam proses produksi, selain sifat-sifat baik yang terdapat dalam serat viscose.

Perkembangan lanjut dari serat ini adalah apa yang dikenal sebagai Excel, merupakan pengembangan yang revolusioner dari serat rayon, serat yang kuat, bersifat wash & wear, kilau yang indah, langsai, kestabilan dimensi yang baik, daya tahan cuci yang tinggi, nyaman dikulit serta wrinkle recovery yang baik.

Canopy

Sekitar 3,2 miliar pohon ditebang setiap tahunnya untuk membuat kertas pembungkus atau kain rayon dan viscose, kayu ini diambil dari apa yang dikenal sebagai “ancient and endangered forest” yang dalam bahasa awamnya adalah hutan alam yang hampir punah dan harus dilindungi karena merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan di bumi. Tentu saja hal ini sangat meresahkan para pemerhati lingkungan hidup karena hutan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia ini menjadi faktor penting bagi kehidupan penghuni bumi, banyak lembaga yang memberikan perhatian atas keberadaan hutan alam tersebut diantaranya yang terkenal adalah Canopy.

Canopy mempunyai misi untuk menyelamatkan hutan, mahluk hidup dan iklim serta membela kepentingan masyarakat terkait keberadaan hutan. Lebih dari dua puluh tahunan Canopy telah berkaloborasi dengan segenap pihak terkait untuk merubah pola supply chain yang tidak sustainable, menyodorkan solusi innovative dan menjaga keberadaan hutan.

Secara kolektif bekerja sama dengan industri fashion, industri makanan dan minuman, industri kecantikan , juga para penerbit serta media untuk menyelamatkan hutan. Cecilia Stromblad Brannnsten, Environmental Sustainability Manager dari Grup H&M menyatakan bahwa: “CanopyStyle is moving the dial faster than any other environmental issue that H&M or our industry is currently working on.”

Setelah sekitar dua-puluh tahunan berkiprah, Canopy menunjukkan kinerja sebagai berikut:

Satu, lebih dari 750 perusahaan bekerja sama dengan Canopy untuk mengembangkan kebijakan dalam penyelamatan hutan.

Dua, melalui CanopyStyle dan Pack4Good, perusahaan-perusahan dengan omset lebih dari US$760 milyar telah berkomitmen untuk mengurangi penggunaan hutan alam dalam rantai suplai bahan baku mereka, termasuk perusahaan-perusahaan terbesar dunia seperti: H&M, Zara, Uniqlo, Flipkart dan fashion group LVMH.

Tiga, dengan bantuan dari para pendukung dan lembaga-lembaga konservasi hutan, Canopy memainkan peran penting dalam penyelamatan hutan alam di Indonesia, hutan Canada Boreal, dan Temperte Forest di Amerika Utara.

Empat, Sebanyak 90% produsen viscose Dunia merupakan bagian dari CanopyStyle Initiative dan berkomitmen untuk mengurangi penggunaan hutan alam, 65% dari perusahaan ini telah di audit dan 52% telah mendapat award Green Shirt dan Low Risk Rating.

Lima, Canopy membantu berdirinya first commercial-scale straw pulp mill di Washington, di tahun mendatang akan dibangun lagi beberapa pabrik sejenis yang akan menciptakan lapangan kerja, mengurangi limbah dan beberapa benefit lainnya.

Canopy’s Hot Button Ranking and Report

Adalah alat bantu utama dalam analisis sumber suplai bahan baku bagi sektor fashion yang memberikan perhatian penuh pada hutan. Termasuk disini antara lain: CanopyStyle Brands, retailer dan para designer yang berkomitmen untuk mengurangi penggunaan hutan alam dalam memproduksi kain viscose dan kain-kain selulose lain, juga memberikan preferensi bagi produsen tekstil yang menggunakan serat-serat inovativ. Dalam 18 bulan belakangan ini telah ikut bergabung 200 brand baru dan para retailer.

Lebih dari 455 brand Dunia dengan revenue tahunan lebih dari US $ 791 milyar sekarang ini mencari suplai bahan bakunya dari produsen “green shirt”, hal ini diyakini akan membawa perubahan besar, dimana separuh dari produsen pensuplai viscose memenuhi kualifikasi status Green Shirt dan 74 % supplier secara sukarela menjalani audit untuk status tersebut.

Dalam peringkat Hot Button, status Green Shirt didasarkan pada jumlah kancing (button) yang diberikan pada produk tersebut, peringkat ini memberi sinyal kepada pasar bahwa produsen sudah memenuhi, atau sedang dalam proses untuk memenuhi persyaratan yang merupakan kriteria dari pada CanopyStyle dan mereka menunjukkan dengan tegas bahwa hanya akan membeli pasokan mereka secara eksklusif dari produsen Green Shirt.

Para produsen melakukan upaya keras untuk mendukung konservasi hutan alam sesuai peraturan perundang-undangan yang ditetapkan negara, mereka mengikatkan diri dengan lembaga yang menetapkan ketentuan tentang pelestarian hutan alam tersebut misalnya instansi pemerintah, perusahaan ekstraksi hutan yang patuh pada ketentuan yang berlaku atau masyarakat lokal yang menggantung kehidupannya pada keberadaan hutan.
Diyakini bahwa sikap proaktif para produsen dan konsumen serat selulose ini akan sangat membantu dalam menjaga kelestarian hutan alam dan melindunginya dari kepunahan.

Rangkuman Hot Button Tahun 2021

Audit atas perusahaan produsen serat selulose diseluruh Dunia menunjukkan hasil yang dirangkum sebagai berikut:

1. Dua produsen lagi yang mendapat status Green Shirt sehingga sekarang berjumlah 13 perusahaan, yang mewakili separoh kapasitas produksi Dunia. Hal ini sangat berarti karena 455 mitra CanopyStayle berkomitmen hanya akan membeli bahan baku mereka dari produsen Green Shirt untuk mengurangi penggunaan kayu dari hutan alam

2. Empat produsen keluar dari kategori Red Shirt karena telah melakukan audit dan menjalankan kebijakan mengurangi Risk dalam proses produksinya

3. Lompatan perolehan status Shirt Colour diperoleh oleh 9 produsen serat selulose diantaranya: China Textile Academi (memperoleh tambahan 15 Button), MI Demo dan Acegreen (11,5 Button), Century Rayon (10 Button)

4. Birla dan Lenzing meneguhkan diri sebagai leader dengan memperoleh status Dark Green Shirt. Laurels, Jilin dan Bailu memperoleh tambahan jumlah Button untuk masuk status Partial-Dark Green Shirt, seperti juga Eastman, ENKA, Kelheim dan Sanyou yang mempertahankan ranking Partial-Dark Green Shirt.

5. Sateri pertama kali memperoleh Green-Yellow-Red Shirt yang menunjukkan bahwa walaupun masih terdapat Risk dalam jumlah besar rantai pasok, beberapa bagian dari proses produksinya sudah mulai memenuhi kriteria-kriteria yang ditetapkan oleh Canopy

6. Tiga produsen ditetapkan sebagai berstatus Rainbow Shirt yang menunjukkan adanya langkah awal proses produksi yang pro hutan alam.

7. Beberapa produsen kecil yang belum mengikuti pola Canopy sehingga belum bisa diberi status dimasukkan dalam kelompok White Shirt.

Berdasarkan Hot Button Report tahun 2021 dibawah ini dicantumkan Ranking dan jumlah Button yang diperoleh oleh masing-masing produsen serat selulose, dengan pengertian bahwa makin besar jumlah Button berarti makin kompatibel dengan kriteria yang ditetapkan oleh CanopyStyle dan makin eco friendly mereka dalam proses produksinya.

Penutup

Serat selulose dianggap para ahli tekstil Dunia sebagai bahan baku yang menjanjikan bagi industri TPT, bahkan pemikiran ini sudah mereka ekspose dalam bentuk prediksi bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara produsen dan eksportit TPT Dunia, karena memiliki hutan yang melimpah kayunya untuk memproduksi serat selulose. Apakah prediksi para ahli tekstil Dunia pada tiga dekade yang lalu itu akan terbukti, sejarah yang akan membuktikan nanti.

Canopy sebagai lembaga berskala Dunia yang mencoba untuk berkontribusi menjaga kelestarian hutan alam yang digunakan sebagai bahan baku serat selulose telah berbuat banyak dan menunjukkan kinerja teruji selama kurang lebih dua puluh tahunan ini. Canopy melakukan audit ketat terhadap para produsen serat selulose dengan menetapkan kriteria yang harus dipenuhi dalam perolehan bahan baku kayunya dan juga proses produksi yang dilakukan. Hasil audit oleh Canopy yang dimuat dalam laporan tahunan Hot Button Report antara lain mencantumkan Ranking hasil audit dan jumlah Button yang diperoleh perusahaan.

Hasil audit ini akan menempatkan perusahaan yang telah bersusah payah dalam melakukan proses produksi yang sesuai ketentuan kriteria Canopy, antara lain memperoleh bahan baku kayu “halal” yang pasti biayanya lebih mahal dibanding dengan hanya sekedar mengambil kayu hutan alam tanpa memperhatikan kelestariannya, dan menjaga agar proses produksinya tidak membebani limbah yang beresiko bagi lingkungan, akan mendapat pasar yang terbuka serta akan makin besar dengan meningkatnya kesadaran konsumen untuk mengkonsumsi kain yang berstatus Green Shirt.

(Red B-Teks/ Indra Ibrahim)

Views: 71

One thought on “CANOPY Perannya Dalam Kegiatan Produksi Serat Selulose Dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *