Industri Tekstil Mulai Menggeliat Menjelang Ramadhan Setelah Tertekan di 2021

Elis Masitoh, Dir ITKAK :Permintaan untuk industri tekstil diharapkan bisa terus meningkat karena minimnya tekstil impor, menurunnya pasokan tekstil, tingginya harga kapas, serta membaiknya permintaan menjelang Ramadhan.

BULETIN TEKSTIL.COM/ JAKARTA – Sepanjang tahun 2021, industri dalam negeri masih tertekan pandemi covid 19 terutama industri tekstil. Namun mendekati awal tahun ini, industri tekstil optimis menuju perbaikan, ini disebabkan kemungkinan jelang Ramadhan.

Kemenperin mendata rata-rata utilisasi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sepanjang tahun 2021 dikasaran 60%.

Meskipun demikian, diakhir 2021 telah menyentuh level 75% untuk industri hulu dan antara, sedang utilisasi garmen di posisi 85%.

Direktur Tekstil, Kulit dan Alas Kaki kemenperin, Elis Masitoh mengatakan rata-rata (utilisasi 2021) industri ini mencapai 60% karena pada awal kuartal III-2021 diberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat/PPKM level 3 dan 4 di Jawa – Bali.

Elis Mengatakan, ” Hanya industri TPT yang berorientasi ekspor yang bisa produksi, itupun hanya 50% (dari total Kapasitas terpasang) untuk orientasi domestik sama sekali tidak bisa berproduksi”.

Sementar Sekjen APSyFI mencatat realisasi pertumbuhan produksi industri tekstil masih bergerak di zona merah pada Kuartal II dan III-2021. Akan tetapi perbaikan permintaan pada kuartal IV-2021 produksi tekstil lebih baik dibanding capaian di tahun 2020.

Pada kuartal IV-2021, utilisasi industri serat dicatat telah mencapai kisaran 87,5%. Rinciannya adalah utilisasi untuk industri polyester mencapai 85%, sedangkan industri rayon di kisaran 90%.

kondisi saat ini permintaan tekstil pada semester I-2022 hanya dapat naik sebesar 15%. Peningkatan permintaan pada semester I-2022 dapat meningkatkan utilisasi industri serat ke kisaran 92,5%.

Naiknya permintaan itu disebabkan oleh beberapa hal, seperti minimnya tekstil impor karena tingginya biaya pengapalan dan minimnya pasokan tekstil dari Cina karena krisis energi. Penyebab lainnya adalah tingginya harga kapas dan membaiknya permintaan menghadapi Ramadhan 2022

Saat ini harga kapas pada posisi normal adalah sekitar US$ 0,55 – US$ 0,6 per kilogram (Kg). Namun demikian, minimnya ketersediaan dan tingginya harga kargo membuat harga kapas naik menjadi US$ 1,2 per Kg.

Tingginya harga memaksa industri hilir TPT mengganti kapas dengan rayon, polyester, atau campuran keduanya yang diproduksi di dalam negeri. Alhasil, komposisi konsumsi serat domestik kini berubah menjadi polyester 40%, rayon 30%, dan kapas 30% dari komposisi sebelumnya polyester 30%, rayon 15%, dan kapas 50%-60%.

(Red B-Teks/ Ly)
sumber katadata

Views: 31

One thought on “Industri Tekstil Mulai Menggeliat Menjelang Ramadhan Setelah Tertekan di 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *