LUKISAN BATIK dan BATIK LUKIS

BULETIN TEKSTIL.COM / JAKARTA – Tanggal 1 April 2017 yang lalu saya mendapat pertanyaan dari seorang pembaca buku Batik saya, dia adalah Meylina, mahasiswi Pascasarjana Fakultas Psikologi UGM yang saat itu duduk di semester II dan sedang mempersiapkan penelitian. Rencana penelitian ini terkait seni Batik, khususnya batik lukis atau lukisan batik. Meylina menulis, bahwa : “Kami (tim peneliti yang juga melibatkan dosen kami) akan mencoba menghubungkan antara Batik dengan kreativitas para pelukis batik khususnya di Yogya”.

Ketika saya menyiapkan jawaban atas pertanyaan tersebut, saya harus menulis dan melihat-lihat referensi, mengingat jawaban saya akan dijadikan sebagai referensi sebuah penelitian ilmiah.
Bahwa Batik Indonesia, itu mencakup tiga pengertian, yaitu :

Secara teknis:

Batik adalah teknik menghias kain dengan perintang warna.

Jika hanya itu saja, maka banyak bangsa lain yang membuat teknik ini. Batik definisinya menyangkut teknik yang sangat khas.

Batik adalah teknik menghias kain dengan perintang warna, yang cara menggores¬kan motifnya dengan mengguna¬kan canting.

Secara motif:

Pada era batik klasik, motifnya menggunakan motif-motif tertentu. Menurut Sri Soedewi Syamsi, dalam bukunya Pola ragam hias Batik Yogya dan Solo, batik itu dibuat menggunakan motif-motif tertentu yang punya nama dan fungsi.


Defnisinya berlanjut seperti ini:

Batik adalah teknik menghias kain dengan perintang warna, yang cara menggores¬kan coraknya dengan menggunakan canting, dan memiliki motif-motif tertentu.

Kegunaan:

Ketika UNESCO melakukan penelitian apakah masih ada komunitas/ suku yang secara tradisi memakai kain batik untuk ritual tradisi tertentu. Ternyata mereka menemukan bahwa suku Jawa hingga saat ini masih menggunakan batik dengan motif tertentu untuk menjalankan ritual tradisi tertentu.

Sehingga lengkapnya cara kita mendefinisikan batik secara lengkap adalah:

Batik adalah teknik menghias kain dengan perintang warna, yang cara menggoreskan coraknya dengan menggunakan canting, yang memiliki motif-motif tertentu, dan digunakan sebagai busana secara tradisi untuk ritual-ritual atau kegunaan tertentu.

Di dalam perkembangannya, secara intern, bangsa Indonesia mengembangkan seni batik ke berbagai aspek yang menyangkut teknik pembuatan, motif yang digunakan, maupun fungsi/ kegunaan batik tersebut. Akhirnya untuk memperluas pengertian Batik secara luas muncul pengertian batik masa kini yang diharapkan tidak mengaburkan pengertian inti dari batik itu sendiri.

Gerbong Kereta Api yang dihiasi gambar MOTIF BATIK

Ingat, MOTIF BATIK hanya sebagian dari elemen Batik.

Salah satu aspek pengembangan seni rupa yang berbasis pada (teknik) batik, adalah munculnya Batik Lukis.

Batik lukis adalah salah satu bentuk lukisan yang cara pembuatannya menggunakan teknik membatik. Diantaranya adalah menggunakan teknik perintang warna berupa malam (wax). Sedangkan caranya tidak hanya terbatas menggunakan canting saja, tetapi juga dengan alat lain, seperti kuwas bahkan pisau palet.

Batik lukis tidak terbatas pada penggunaan motif-motif tertentu, tetapi menggunakan bentuk lukisan dekoratif, hingga ke bentuk-bentuk yang lebih abstrak.

Amri Yahya dengan lukisan yang dibuat dengan teknik perintang warna berupa wax (malam, termasuk efek remukan).

Istilah batik lukis, awalnya dipopulerkan Amri Yahya yang karya lukisnya menggunakan teknik batik dengan malam.

Apa yang dilakukan Amri Yahya ternyata memicu kreatifitas seniman yang berbasis seni lukis maupun batik. Dengan demikian jika diamati seolah-olah ada dua arah, yaitu:

• Lukisan batik (pelukis yang melukis dengan teknik batik)

dan

• Batik Lukis (pembatik yang membuat pola-pola diluar tradisi dan menyerupai bentuk pola lukisan).

Lukisan Batik dan Batik Lukis

Lukisan batik adalah perupa yang membuat lukisan menggunakn tektik membatik. Sedangkan batik lukis, adalah pembatik yang membuat batiknya keluar dari motif-motif tradisional batik dan cenderung berupa diwujudkan sebagai sebuah karya lukisan.

Batik lukis, jika diamati sebenarnya telah muncul ketika para pembatik di era batik pesisiran menerima orderan dari para juragan batik keturunan Belanda untuk membuat batik dengan pola-pola natural bukan berbentuk simbolis dengan cara stilasi bentuk natural, hingga muncullah apa yang disebut motif buketan.

Motif Buketan pada Batik Pesisiran di era Batik Belanda

Motif inipun berkembang menjadi penggambaran thema-thema tertentu, hingga belakangan bahkan secara inovatif batik berisi panel-panel (bidang-bidang) yang menggambarkan suatu cerita

Batik Lukis sepanjang 22 meter berisi panel-panel ilustrasi kisah dongeng kera sakti Sun Go Kong. Lukisan ini didesain oleh Bayu Aria bersama tim nya di studio Hot Wax, Yogya.

Kreatifitas Pewarnaan Batik

Ketika munculnya pewarna sintetis (cat Direct), memungkinkan para pembatik mewarnai kain batik tanpa melakukan pencelupan, melainkan dengan mewarnai langsung bidang kain batik menggunakan sistem coletan. Teknik ini sangat dekat dengan teknik melukis, karena zat pewarna dapat berinteraksi dan diserap langsung oleh kain katun maupun sutera.

Bukankah teknik membatik ini menjadikan teknik pewarnaan batik menjadi sangat mirip dengan teknik melukis juga?

Termasuk diantaranya membuat teknik gra¬dasi dari warna tua ke warna muda, atau warna merah ke ku¬ning, dsb.

Selain Bayu Aria yang sukses menjual banyak sekali selendang batik dengan motif bunga secara natural dengan sistem colet, sehingga batiknya tergolong lukisan batik.

Perhatikan teknik gradasi warna yang dibuat dengan sistim colet menggunakan kuwas lukis.

Batik lukis yang berangkat dari era batik jaman Jepang yang populer disebut Batik Java Hokokai yang berciri “pagi sore”. Gambar corak burung kuntul (bangau) sehingga diplesetkan menjadi Hokontul. Atau Hokokai versi Bantul? (terserahlah).

Lukisan batik sutera berbentuk syal atau selendang, karya Ciplies, Surabaya.

(Red B-Teks/ Adi Kusrianto ) Pemerhati Batik

Hits: 44

Shared to Media Social

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.