Selamat datang Batik China, Batik Malaysia, Batik Srilangka, dan Batik-Batik negara Afrika

BULETIN TEKSTIL.COM/ JAKARTA – SEBUAH tayangan video tentang seorang pemandu acara sedang mengekspose batik China di kota Fenghuang, saat ini ramai beredar di medsos. Tayangan itu menjadi perhatian kalangan tokoh dan Ilmuwan batik di nusantara ini.

Video berdurasi 7,5 menit itu diperkirakan beredar sejak tanggal 1 November 2021. Dalam tayangan itu, si cantik pemandu acara nampak mengunjungi seorang pegiat batik dan menceritakan bagaimana batik China diproses dikota itu.

Dalam komentarnya, ia mengatakan bahwa batik di China sudah dikenal sejak 1000 tahun yang lalu.

Komentar itu tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan dan perdebatan tentang asal usul dan berapa usia batik di Indonesia.

Berikut ini adalah rangkuman komentar dan pendapat beberapa tokoh pengamat, ilmuwan dan pegiat batik yang ramai merespon tayangan video itu.

Adi Kusrianto, salah seorang penulis batik yang memiliki empat grup WA dengan peserta sekitar 800 member menyatakan,

“Chinesse Batik”, sama halnya dengan “Malaysian Batik”, menggunakan kata batik sebagai istilah Craftmenship (ketrampilan dalam kriya), dimana kosa kata BATIK sama halnya dengan kosa kata IKAT telah diserap dalam berbagai bahasa dan bahkan telah dimasukkan ke dalam kamus mereka. Baik BATIK dan IKAT mereka mengakui istilah itu diserap dari Bahasa Indonesia.

Tentang keberadaan batik-batik dari negeri lain selain Indonesia, Adi Kusrianto menyatakan memang sudah mulai menggeliat di pasar internasional. Bukan hanya batik dari China dan Malaysia, namun juga dari Srilanka, India dan juga Afrika.



Batik China sudah berusia 1000 tahun. Batik Indonesia berapa tahun ya?

Yang jelas, dengan beredarnya tayangan video itu Adi menyatakan bahwa hal itu sebenarnya merupakan WARNING bagi para Pembatik kita, pemilik Batik Nusantara, agar benar-benar memahami batik yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

“Untung ya, pembatik China itu tidak membuat batik Parang maupun Sidomukti. Mungkin motif parang dan sidomukti mereka bisa lebih banyak terjual di seluruh dunia lho,” ujarnya bercanda.

Selama ini, dalam kancah dunia bila berbicara batik tentu buatan Indonesia. Namun dengan menggeliatnya batik-batik dari negeri lain, semoga tidak sampai menggeser batik negeri asalnya.

Karena itu sebagai pemilik warisan budaya, menurut Adi jangan terlalu “bebas” mengembangkan batik sehingga justru ciri INDONESIAN BATIK malah hilang. Karena terbawa arus dagangan trend sesuai selera pasar dunia.

“Ingat bahwa bangsa-bangsa lain juga membuat BATIK-BATIK dengan gaya mereka masing2. Sangat boleh jadi. Sekali lagi sangat boleh jadi, diantara batik-batik bebas itu, batik-batik modern ala pembatik millenial kita akan kalah pamor dengan batik-batik negeri lain. Jadi jangan bangga asal batik Anda laku dijual, atau laku di expor,” ujarnya.

Kalau sudah begitu, Selamat datang Batik China, Malaysia, Srilanka, Afrika dan negeri lain yang juga memproduksi batik. Mari berbagi “kue” di pasar internasional.

Pendapat tersebut di setujui oleh beberapa tokoh lain seperti diantaranya Bagas Mataya (Laweyan, Surakarta), Dr. Lucky (IKJ Jakarta), Slamet Arief (Perajin batik Kudus), dll.


Bahkan Dr. Lucky dalam diskusi grup menulis komentarnya “Mengerikan yaaa…”

Memang, bila di telaah lebih dalam lagi, munculnya dipasar internasional potensi batik-batik negara lain akan mempengaruhi pilihan konsumen, sehingga kekuatan motif Batik Indonesia bisa jadi akan ikut bergeser mengikuti trend permintaan pasar. Karena merasa tersaingi, para pegiat batik kita tentu akan berusaha mengimbangi batik dengan nuansa serupa dengan harapan laku di pasaran. Kalau sudah begitu, pakem batik asli akan makin diabaikan.

Terlebih lagi, Program Ekonomi kreatif (dibawah pengelolaan Kemenparekraf) mendorong para desainer batik untuk berkreasi mengikuti trend fashion dunia. Lalu, dimana ‘ruh’ batik yang selama ini berupaya kita lestarikan?

Kemajuan teknologi memang membawa dampak. Terlebih lagi dengan berkembangnya digital marketing dengan aneka platform yang bisa menawarkan aneka produk dari berbagai penjuru jagat.

Sepanjang belum benar-benar terjadi, jangan hanya motif batik dipaksa menyesuaikan selera konsumen muda, tetapi juga membekali konsumen muda dengan pengetahuan hal-hal yang terkait dengan “dimana ke adiluhungan batik Indonesia”. Motif parang yang memiliki ratusan turunan bisa dimodifikasi nuansa warnanya, dikombinasikan dengan banyak unsur. Dengan demikian batik klasik tidak lantas terkesan angker dan tua. Sebuah busana batik tidak berarti harus full menggunakan selembar kain batik, bisa di modifikasi dengan materi lain.

Berbekal pemahaman tentang batik, para konsumen muda niscaya akan dengan bangga menggunakan batik sesuai citra mereka Dan tentu saja mereka nantinya tak akan tergiur oleh serbuan batik impor yang disinyalir sudah ada yang menjualnya di pasar offline kita.

Jika trend semacam itu diikuti pembatik kita, “dimana “kesaktian”, “ke adiluhungan” warisan budaya nenek moyang itu?” ujarnya. Kita tahu bahwa trend corak kain printing itu timbul dan tenggelam mengikuti selera pasar. Sementara Batik Indonesia seharusnya merupakan produk eksklusif.

“Nuwun sewu, BALAI BESAR KERAJINAN DAN BATIK yang kita bersama harapkan akan melindungi BATIK dari seni massal, seni industrialisasi karena beliau-beliau berada dibawah kementerian PERINDUSTRIAN, ya tidak salah kalau arahannya adalah INDUSTRIALISASI BATIK,” kata Adi.

Indra Tjahyani, salah seorang tokoh pelatih batik (Batik Yuuk.com) berujar “Betul, Saya juga sedih ketika dalam salah satu webinar nya BBKB memperkenalkan Komputerisasi Motif Batik😔.

Lalu apa bedanya dengan batik printing???. Sudah hilang makna ke adiluhungan batik Indonesia jika negara justru mengejar produksi massal dari warisan budaya adiluhung ini dengan di obral murah, ujar Adi Kusrianto.

Karena itu menurutnya, kita sendirilah para pecinta dan para pelestari batik yang menjadi benteng pelestarian batik, yang konon dalam berbagai jargon disebut sebagai WARISAN BUDAYA ADILUHUNG.

“Silahkan temukan dimana ke ADI LUHUNGAN batik saat ini.

Jangan salahkan China dengan Chinesse batik, jangan salahkan Malaysia dengan Malaysian Batik. Itu hak dan kreatifitas mereka, sementara bangsa Indonesia sendiri yang merasa menjadi pemilik Batik, justru belum paham benar dengan Batik itu sendiri. Kosa kata Batik yang di Indonesia sendiri masih diperdebatkan asal katanya apa (????), saat ini justru sudah menjadi kata serapan pada kamus bahasa Inggris, bersamaan dengan kosa kata IKAT,” jelasnya.

Memang, sejauh ini berdasarkan pengamatan dilapangan, pelatihan membatik saat ini kebanyakan mengajarkan mencanting motif-motif bebas, kontemporer dengan pewarna sintetis. Belum banyak yang mengajarkan pengenalan bagaimana bentuk batik klasik dengan sejuta makna dan filosofi.

Sedangkan Bagas Nirwana salah seorang dari Mataya art & Heritage Surakarta, menambahkan “Nggih leres…(iya betul) maka dari sekarang saya mengajarkan menggambar untuk anak-anak, motif batik klasik Jawa. Sebaiknya mengenalkan batik Indonesia itu dari pengenalan ornamen-ornamen baku nya dulu”.

Adi kusrianto menambahkan, batik-batik Afrika, pasarnya sangat luas dan bahkan mulai masuk Amerika melalui para Afro American.


Batik-batik Printing Afrika

Batik Srilanka yang dijual di kaki lima dinegerinya seperti gambar dibawah ini, dijual dengan harga murah. Mereka sangat menyukai motif-motif Batik khas mereka. Bukan hanya orang Indonesia saja lho yang senang memakai batik.


Batik Printing Srilangka

Sedangkan batik tulis yang dibuat menggunakan malam dan canting, harganya lebih mahal untuk kualitas eksklusif seperti contoh-contoh berikut ini.



Batik Tulis Srilanka (Foto: Alami).

Ibu Indra Tjahyani:, salah seorang tokoh pelatih batik (Batik Yuuk.com) berujar “Betul, Saya juga sedih ketika dalam salah satu webinar nya BBKB memperkenalkan Komputerisasi Motif Batik😔.

Lalu apa bedanya dengan batik printing???. Sudah hilang makna ke adiluhungan batik Indonesia jika negara justru mengejar produksi massal dari warisan budaya adiluhung ini dengan di obral murah, ujar Adi Kusrianto.

Gambar dibawah ini adalah batik-batik karya perajin China.

Indra Tjahyani menambahkan “Alhamdulillah workshop saya masih konsisten memperkenalkan cara membatik traditional Indonesia dan berbagi tentang Filisofi dibalik ragam hias batik …. Mudah-mudahan masih ada yg mau ikut workshop saya dan turut melestarikannya.

Berbicara mengenai pendidikan dan pelestarian batik, Adi mengatakan negara KOREA SELATAN bahkan mendukung pelestarian Batik Indonesia dengan MENYEWA ORANG INDONESIA/ AHLI BATIK INDONESIA untuk mendidik BANGSA INDONESIA untuk diajar BATI disana. Para peserta dididik dengan gratis, diberi fasilitas untuk berproduksi, diberi uang saku pula.

Apakah pemerintah kita tidak menoleh pada upaya ini?

Wina Wilman, Dosen Senior Psykologi UI berkomentar “Di Sekolah Pilar (Sekolah Umum Swasta) sudah ada guru membatik”.

“Iya benar bu Wina, tetapi yang diajarkan baru pelajaran mencanting. Masih jarang yang menjelaskan bagaimana motif-motif yang memiliki makna dan kegunaan tertentu. Tapi sebenarnya pelajaran BATIK sejauh ini kebanyakan masih sekedar KETRAMPILAN MENCANTING,” kata Adi seraya menambahkan Ilmu mencanting saat ini dikuasai banyak bangsa di dunia.

“Jangan bilang, jaman sudah berubah dan yang klasik itu sudah kuno. Kita harus membuka mata dengan selera dunia,” ujarnya seraya menaambahkan biasanya itu kata-kata pembenaran yang digunakan.

Kalau memang begitu sekali lagi mari kita berbesar hati mengucapkan kata-kata “Selamat Datang Batik China, Batik srilangka, Batik Malaysia, Batik Nigeria,… mari kita berbagi kue pasar dunia untuk produk Batik”kata Adi menutup diskusi ini.

(Red B-Teks/ Dra. Ratna Devi Moeljosari)
Penggiat Batik – Kediri

Hits: 10

Shared to Media Social

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *