“Beri Aku Waktu” Hantar Widi Asari Juarai IFCA Awarding 2021 Kategori Fesyen

BULETIN TEKSTIL.COM/ JAKARTA – Dalam beberapa tahun terakhir masalah keberlanjutan telah menjadi hal yang genting diperbincangkan di berbagai bidang, tidak terkecuali di industri fesyen. Gagasan dari fesyen berkelanjutan adalah mengupayakan etika produksi fesyen yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dari hulu ke hilir. Sebab itulah Indonesia Fashion and Craft Award (IFCA) digelar kemenperin dengan mengusung tema “Adaptability in Responsible Design”.

Pada acara tersebut, Plt. Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menyampaikan harapannya terkait dengan tema IFCA 2021 untuk berupaya mendorong para pelaku usaha desainer muda dan IKM agar terciptanya suatu ekosistem industri kreatif Indonesia.

Sebagaimana diketahui acara yang juga digelar secara virtual dan langsung melalui saluran resmi Kementerian Perindustrian di Youtube ini, turut menghadirkan 9 orang juri yang dipimpin oleh Adhi Nugraha selaku Ketua Juri IFCA 2021.

Dalam perjalanannya, peserta yang tergabung dalam IFCA tersebut terjaring masuk ke dalam nominasi yang terbagi ke dalam dua kategori, yakni Kategori Fesyen dan Kategori Kriya.

Mengolah Limbah Tekstil

Namanya Widi Asari, akademisi di Magister Terapan Rekayasa Tekstil dan Apparel Politeknik Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung itu awalnya melihat tumpukan limbah denim dan kain yang sudah tidak terpakai.

Bagi seorang widi, limbah yang ia lihat di sekeliling membuatnya merenung dan berkhayal apa kiranya yang diinginkan limbah kain itu jika mereka adalah sebuah subjek, bukan objek.

Widi Asari kemudian terpikir kemungkinan limbah-limbah tersebut ingin menjadi indah dan bermanfaat kembali sebagaimana kain-kain yang sebelumnya menyatu dengan mereka.

Upaya tersebut tentu saja membutuhkan waktu untuk diolah dan dikembangkan. Dengan filosofi itu, jadilah nama Beri Aku Waktu dipilih sebagai payung usaha perempuan kelahiran 1994 itu.

Sejak 2019, Asari bergelut dengan residu tekstil untuk dijadikan bahan baku tekstil agar kembali bernilai. Bahan baku tekstil yang dihasilkan menggunakan teknik wilting, yakni residu tersebut dibungkus tile dan dijahit, kemudian dibuat menjadi aneka produk tekstil yang fashionable.

Widi kemudian mengeksplorasi limbah denim menjadi karya fesyen bertajuk Denimic yang telah meraih penghargaan ke-2 MYDC 2020.

proses kreatifnya berlanjut dengan mengolah material non-woven berbahan baku limbah textile-garmen yang lebih komplek (campuran) untuk memproduksi produk-produk fashion (busana, tas dan sepatu) yang memiliki nilai guna/pakai jangka panjang.

Widi Asari dengan brand fashion miliknya Beri Aku Waktu adalah sebuah brand fashion berbasis daur ulang residu industri tekstil, yang bertujuan memberi kesempatan material residu untuk hidup, berdaya guna dan indah kembali yang menghantarkannya meraih juara I pada ajang Indonesia Fashion and Craft Award (IFCA) 2021 di Jakarta.

Mulai dari tas, sepatu, topi, hingga pakaian dapat dihasilkan dari bahan baku yang memanfaatkan limbah tekstil itu. Uniknya, warna yang keluar dari produk-produk fesyen berbahan baku residu tekstil merupakan warna alami yang keluar dari residu itu sendiri.


Jika menggunakan residu denim, maka warna produk tekstil yang dihasilkan akan dominan biru. Namun, jika residu yang digunakan berwarna-warni, maka warna yang dihasilkan menjadi abu-abu.

Namun, jika ingin menghasilkan warna tertentu, misalnya merah muda, maka akan dilakukan sortir terhadap residu berwarna merah muda.

Kemungkinan Produk fesyen karya Widi “Beri Aku Waktu” akan mulai dikomersialisasikan pada akhir tahun ini.

IFCA 2021

Kompetisi IFCA 2021 digelar dengan tema “Adaptability in Responsible Design” untuk memberikan kesempatan kepada para desainer terutama dari kalangan milenial agar menciptakan produk inovatif dan kreatif, yang bisa menjawab tantangan di tengah ketidakpastian, dengan tetap memperhatikan keseimbangan alam serta keselarasan hubungan antarmanusia.
Melalui IFCA, para desainer muda tak hanya diuji kemampuannya, tetapi juga mendapatkan proses pengembangan bisnis melalui pendampingan (coaching) dari para praktisi, akademisi, dan creative ecosystem builder atau penggiat komunitas kreatif.

Diharapkan, para Alumni IFCA 2021 bisa menjadi ujung tombak dalam membangun industri yang lebih ramah lingkungan dan inklusif, sehingga kita bisa menghadirkan dunia yang semakin nyaman bagi semua.

Desainer fesyen dan kriya juga harus mulai memperhatikan perilaku masyarakat, terutama konsumen sasarannya.Tujuannya, agar bisa memetakan kebutuhan masyarakat, sehingga konsep produk yang dipasarkan dapat sesuai dengan target konsumen utama.

Pada gelaran tahun ini, para pemenang IFCA akan mendapat uang pembinaan total senilai Rp130 juta untuk kategori kriya dan fesyen serta pembinaan usaha yang berkesinambungan.

(red B-Teks/ Ly)

Hits: 70

Shared to Media Social

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *