WARTA DUNIA

BULETIN TEKSTIL.COM / JAKARTA
Amerika Serikat
Perusahaan pakaian sport raksasa Nike mengeksplorasi penggunaan AirCarbon suatu biomaterial carbon-negatif dalam berbagai bagian produknya untuk mengurangi carbon footprint. AirCarbon adalah carbon-negative biomaterial yang dibuat dari mikrooragnisme laut. AirCarbon digunakan di produk fashion untuk menggantikan plastik dan kulit, Untuk ini Nike bekerjasama dengan perusahaan bioteknologi Newlight Technologies. Langkah ini ditujukan untuk mensukseskan missi Nike menghasilkan produk yang lebih baik bagi atlet dan planet bumi.
Penggunaan AirCarbon akan mengurangi dampak buruk bagi bumi terkait perubahan iklim. Newlight menggunakan mikroorganisme yang hidup dilaut yang memakan oksigen dan gas rumah kaca. AirCarbon yang mendapat sertifikat carbon-negative dari SGS Global Service, dapat dilelehkan untuk dijadikan serat atau lembaran yang dapat digunakan untuk menggantikan plastik pada berbagai industri dari produk makanan sampai ke produk fashion.

China
Kelima pabrik serat viscose Sateri di Cina telah memenuhi syarat batas emisi yang ditetapkan oleh The European Union Best Available Techniques Reference Document (EU-BAT BREF) dua tahun lebih awal dari pada jadwal yang ditentukan. Pabrik-pabrik tersebut mendapat sertifikat compliance dari Sustainable Textile Solution (STS), suatu divisi dari BluWin Limited UK, parameter yang diuji adalah efisiensi utilisasi sumber daya, pembuangan air limbah dan emisi udara. Untuk pencapaian tersebut Sateri telah melakukan upaya perbaikan dalam proses produksi, pengendalian polusi, emisi dan peningkatan efisiensi utilisasi sumber daya (resource utilisation efficiensi).
Sateri telah menunjukkan keberhasilannya dalam hal pengembangan proses produksi yang rendah karbon, penghematan energi dan menggunakan teknologi pengurangan emisi, produksi bersih guna menuju pada sustainable production serta meningkatkan competitiveness perusahaannya. Kesemuanya itu merupakan usaha untuk mewujutkan visi perusahaan menuju closed-loop and cleaner production.

Swiss
International Textile Manufacturer Federation (ITMF) mempublikasikan hasil surveynya pada triwulan kedua 2021 ini tentang kapasitas produksi dan konsumsi short staple, terjadi penurunan jumlah short staple spindle dan rotor open-end diseluruh dunia.
Pada tahun 2018 jumlah spindle 230 juta menurun menjadi 223 juta pada tahun 2019, jumlah rotor terpasang pada tahun 2018 sebanyak 8,2 juta turun menjadi 7,4 juta pada tahun 2019. Penurunan ini terutama akibat dari scraping mesin-mesin tua di China, sedangkan wilayah lain terlihat stabil. Jumlah spindle air-jet spinning terpasang meningkat diseluruh wilayah dunia, terutama di negara-negara Asia dan Turki. Pergantian dari shuttle loom menjadi shuttle-less loom terus berlangsung, meningkat sebesar 1% pada tahun 2019 mencapai 1,7 juta unit.
Konsumsi short-staple cellulosic dalam tahun 2019 meningkat 9% menjadi 5,4 juta ton, sedangkan synthetic short-staple turun 4% menjadi 14,2 juta ton dan konsumsi serat kapas stabil pada angka 26 juta ton.

Canada
Bisvibe memperkirakan bahwa demand atas kain non-woven cenderung meningkat dimasa mendatang, hal ini dikarenakan meningkatnya perkembangan industri-industri hilir seperti: personal care, packaging, otomotive dan sektor konstruksi.
Disektor personal care akan terjadi peningkatan kebutuhan atas produk kesehatan seperti: baby diapers, sanitary napkins dan keperluan manusia lanjut usia. Sektor konstruksi memerlukan tekstil non-woven untuk geotextiles untuk membangun jalan, exterior dan interior produk otomotif dan lain sebagainya.
Dengan peningkatan penggunaan dari sektor hilir ini maka tekstil non-woven akan mengalami pertumbuhan yang besar di industri tekstil dunia dalam beberapa tahun mendatang.

Bangladesh

DBL Group Bangladesh merencanakan untuk investasi sebesar US $ 650 juta di Sylhet Industrial Park, Shreehatta Economic Zone di Dhaka. Group ini bergerak dibidang apparel, tekstil, farmasi dan telecoms. Mereka juga memiliki pabrik apparel dan tekstil di Ethiopia;
Rencananya pembangunan akan memakan waktu tiga tahun untuk mendirikan pabrik yang memproduksi benang kapas halus dan benang open-end untuk memenuhi kebutuhan industri tekstil mereka. Juga akan dibangun pabrik recycled serat polyester untuk bahan baku pabrik spinningnya dengan kapasitas 18 ton perhari.
Dengan fasilitas terintegrasi dan menggunakan teknologi maju dalam industrial park ini, mereka menargetkan untuk meningkatkan kemampuan skill para pekerjanya dan menciptakan keterpaduan antara manusia-mesin dalam kegiatan produksinya sehingga dapat menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.

Indonesia

Kementerian Perindutrian RI, melakukan launching dan sosialisasi Program Restrukturisasi Mesin/Peralatan pada Industri Penyempurnaan dan Pencetakan kain. Program restrukturisasi ini akan memberikan insentif bagi industri penyempurnaan dan pencetakan kain (dyeing/finishing & printing) yang masuk dalam KBLI 13132 dan 13133 yang memanfaatkan teknologi 4.0. Insentif diberikan dalam bentuk potongan harga melalui penggantian (reimburse) Sebagian (prosentase tertentu) dari harga pembelian/investasi mesin dan/atau peralatan.
Program restrukturisasi dilaksanakan karena:
1. Hasil evaluasi menunjukkan dampak positif terhadap kinerja industri
2. Teknologi menjadi factor paling berpengaruh dalam peningkatan daya saing.
3. Implementasi industri 4.0 ditingkat perusahaan
4. Memperkuat struktur industri
5. Mendukung program Citarum Harum dalam pengurangan limbah
6. Mendukung program substitusi impor 35% tahun 2022.
Program di-komandani oleh Direktur Jenderal IKFT dan dilaksanakan secara teknis oleh Direktur ITKAK dengan dibantu oleh LPI dan LPOP yang ditangani oleh Surveyor Indonesia dan Sucovindo.
Dasar hukum pelaksanaan program adalah: UU RI Nomor 3 Tahun 2014, PP Nomor 14 Tahun 2015, Permenperin Nomor 18 Tahun 2021 dan Keputusan Dirjen IKFT Nomor 153 Tahun 2021.

(Red B-Teks/ Indra I)

Hits: 11

Shared to Media Social

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *