Anomali Industri Batik Ditengah Pandemi Covid 19 dan Wawasan Lingkungan

BULETIN TEKSTIL.COM/ BANDUNG – Sejak tanggal 2 Oktober 2009 kerajinan batik telah diakui sebagai salah satu dari warisan budaya dunia. Dilihat dari penggunaanya, usaha batik menjadi semakin diminati dikalangan masyarakat dalam negeri maupun luar negeri dimana penggunaan batik tidak hanya dapat digunakan pada suasana formal saja namun juga cocok untuk digunakan dengan gaya kasual. Tingginya minat konsumen akan penggunaan batik membuat banyak pelaku dunia usaha mulai melirik bidang fashion khususnya batik.
Produk Batik Indonesia mengalami fenomena unik di tengah pandemi Covid-19, di mana ekspornya justru mengalami anomali, utilisasi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) secara keseluruhan anjlok akibat pademi Covid-19 namun pada indutsri batik justru mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, nilai ekspor batik pada periode Januari- Juli 2020 menembus US$ 21,54 juta, naik 19,73% dibanding periode sama tahun 2019 yang sebesar US$ 17,99 juta. Hal ini menunjukan bahwa industri batik saat ini mulai banyak diminati oleh pasar global. Jika kita perhatikan, banyak tokoh dunia, artis papan atas Hollywood, artis Kpop juga telah mulai mengenakan batik di dalam forum Internasional, dan banyak desainer fashion kelas dunia yang mulai mengadaptasi batik Indonesia dalam koleksi karya busana mereka.


Gambar 1. Fashion Batik di Kancah Internasional

Batik merupakan bagian dari industri tekstil dan busana yang menjadi salah satu sektor prioritas dalam implementasi Peta Jalan Making Indonesia 4.0. Sehingga pemerintah juga meminta agar para pengrajin batik dapat mulai menggunakan bahan-bahan batik yang lebih ramah lingkungan, semisal pemakaian malam batik daur ulang dan terbarukan, pemakaian zat warna alami dan sebagainya. Suksesnya perdagangan batik di Indonesia menimbulkan persoalan lingkungan tersendiri. Menurut riset, industri batik setiap tahunnya memproduksi kadar emisi CO2 tertinggi jika dibandingkan dengan sektor UKM lainnya yang umumnya merupakan hasil dari ketergantungan industri tersebut akan bahan bakar (minyak tanah) yang tinggi. Sejumlah besar UKM batik masih menggunakan lilin, pewarna kimia serta pemutih yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan. Selain mengandung zat warna yang tinggi, limbah industri batik dan tekstil juga mengandung bahan-bahan sintetik yang sukar larut atau sukar diuraikan, yang mana pada umumnya limbah cair industri batik berasal dari kegiatan pengolahan kain, pewarnaan, dan pelorodan. Proses pengolahan kain dan pewarnaan, menghasilkan limbah cair yang mengandung zat-zat kimia yang berpotensi meningkatkan nilai Chemical Oxygen Demand (COD) dan warna air limbah. Sedangkan pada kegiatan pelorotan, limbah cair yang dihasilkan memberikan kontribusi meningkatnya Biological Oxygen Demand (BOD) air limbah.

Berbagai metode telah dikembangkan sebagai upaya dalam mengatasi permasalahan limbah yang berasal dari industri batik, baik secara fisika, kimia dan biologi seperti sistem lumpur aktif, adsorbsi, proses oksidasi lanjutan, elektrodegradasi, fotodegradasi, elektrokoagulasi, phytotreatment Metode-metode tersebut dalam dilihat pada tabel berikut.

1. Sistem lumpur aktif
Metode Penelitian yang Pernah Dilakukan :
Penghilangan bahan organik terlarut oleh mikroorganisme / biomassa yang ditumbuhkan secara aerob dalam jumlah dan jenis yang beragam Jenis mikrobia yang biasa terdapat dalam lumpur umumnya adalah Pseudomonas, Zooglea, Achromobacter, Flavobacterium, Nocardia, Bdellovobrio, Mycobacterium, Nitrosomonas, dan Nitrobacter.

2. Adsorbsi dan absorbsi
Metode Penelitian yang Pernah Dilakukan:
Menempelnya suatu molekul (adsorbat) pada permukaan suatu padatan penjerap (adsorben) atau pada seluruh bagian padatan penjerap yang disebut absorben • Tingkat penyisihan Cr sekitar 97% dapat dicapai pada pH 10, dan tingkat penyisihan Hg dan Ag 97-99% pada pH 12 menggunakan karbon aktif.
• Bentonit dapat menurunkan kadar Cu2+, Zn2+, Ni2+ dan Co2+ dalam larutan.
• Nanopartikel Fe3O4 dapat menyerap besi dalam pH basa. Absorpsi maksimum Fe terjadi pada pH 12 yaitu sebesar 0,03 ppm dan 0,06 ppm dengan waktu pengadukan yang lama

3. Proses oksidasi lanjutan
Metode Penelitian yang Pernah Dilakukan:
Proses oksidasi menggunakan oksidator kuat seperti ozon dan hidrogen peroksida, yang lebih dikenal dengan proses Advance Oxidation Processes (AOPs). • Teknologi AOPs menggunakan ozon dan hidrogen peroksida dapat menghilangkan warna pada air limbah industry tekstil pada suhu optimum 70°C dan pH 12.
• Putaran pengaduk 200 rpm dapat menurunkan zat warna Procion Blue MR sebesar 89% dan Procion Red MR sebesar 98%, dalam waktu 30 menit

4. Elektrodegradasi
Metode Penelitian yang Pernah Dilakukan:
Proses degradasi kontinyu menggunakan arus listrik searah melalui peristiwa elektrolisis, yaitu gejala dekomposisi elektrolit. • Kondisi optimum elektroda grafit (C) dari baterai bekas adalah pH 4, kuat arus 1 A dan konsentrasi elektrolit 0,5 M. Aplikasi kondisi ini mampu menurunkan konsentrasi zat warna indigosol golden yellow IRK sebesar 90%. Data GC-MS setelah elektrolisis menunjukan Indigosol Golden Yellow IRK terdegradasi menjadi senyawa karbon rantai pendek.

5. Elektrokoagulasi
Metode Penelitian yang Pernah Dilakukan:
Proses destabilisasi suspense, emulsi dan larutan yang mengandung kontaminan dengan cara mengalikan arus listrik searah (DC) Persentase penyisihan COD tertingi mencapai 83.33% terjadi pada menit ke 180 dengan kuat arus 2,5A dan persentase penyisihan TSS mencapai 90% serta zat warna mencapai 88.51% dengan waktu kontak 180 menit dan kuat arus 2,5 A.

6. Phytotreatment
Metode Penelitian yang Pernah Dilakukan:
Pemanfaatan tumbuhan untuk membersihkan kontaminan yang terkandung di dalam air atau tanah Tumbuhan air mampu menjadi agen fitoremediator logam berat kromium. Di antara 3 tumbuhan air yang dicobakan, Eichornia crassipesmerupakan tumbuhan yang paling mampu mampu menurunkan kadar Cr air limbah batik, diikuti Pistia stratiotes dan Hydrilla verticillata dengan persentase penurunan secara berturut-turut : 49,56%, 33,61% dan 10,84%

Dalam rangka meningkatkan daya saing industri batik nasional serta mendukung implementasi Industri Hijau di sektor komoditi batik, maka Kementerian Perindustrian juga terus mendorong para pelaku industri batik di Indonesia, selain dituntut untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumber daya lokal terbarukan serta melakukan efisiensi energi dalam proses produksinya, juga menekankan bahwa mereka harus dapat melakukan pengelolaan limbah industri yang dihasilkan agar tidak merusak ekosistem lingkungan.

(Red B-Teks / Riza Rizkiah S.Si., M.I.L )
Dosen FT UICM, Editorin Chief Jurnal Sainteks UICM

Hits: 48

Shared to Media Social

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *