Jalankan Usaha Ditengah Pelaksanaan PSBB Nyambung PPKM Darurat Jawa dan Bali Bikin Frustasi

BULETIN TEKSTIL.COM/ BANDUNG – Memasuki pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa dan Bali pengusaha tekstil di sentra tekstil Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung kian merana. Sejak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), April 2021 lalu dan kini PPKM Darurat Jawa dan Bali mengakibatkan pemasaran dan order barang terganggu.

“Pelaksanaan PPKM Darurat Jawa dan Bali pengaruhnya terhadap pemasaran industri tekstil sangat besar sekali. Bahkan saat diberlakukan PSBB yang tidak ketat saja pengaruhnya sangat terasa, apalagi dengan PPKM Darurat yang serba membatasi kegiatan,” ujar H. Asep Gunawan, perwakilan pengusaha tekstil di Kecamatan Paseh kepada Portal Bandung Timur, Senin 5 Juli 2021.

Diungkapkan Asep Gunawan, pengusaha saat ini mengalami sepi pemesanan barang dari luar. “Dampak pandemi Covid-19 ini, sudah lama kita tidak ada order barang. Sementara maju mundurnya perusahaan, bergantung pada pemesan barang atau pemasaran barang dengan kondisi yang normal,” ujar Asep Gunawan.

Dikatakan Asep Gunawan, sepinya order mengancam pada kelangsungan perusahaan. “Walau tidak ada order sama sekali dalam beberapa bulan terakhir ini, apalagi disaat PPKM Darurat ini, kita juga tidak tega para karyawan di rumahkan. Soalnya mereka sangat membutuhkan pendapatan dari pekerjaannya itu. Apalagi di masa pandemi Covid-19, bisa mempertahankan kerja sesuatu yang sangat diharapkan,” tuturnya.

Asep Gunawan menyebutkan, dalam kondisi sulit seperti ini, para pelaku usaha pada sektor industri banyak yang menjerit. “Lambat lain, usaha kita bisa kolep,” katanya.
Meski dalam kondisi demikian, ia mengatakan, sekarang ini kelangsungan perusahaan menggunakan modal cadangan.

“Setelah modal atau cadangan anggaran habis, PPKM Darurat masih berjalan, terpaksa kita akan tutup sementara produksi. Soalnya, kita sudah tak mampu mempertahankan usaha. Jalan terakhir kita menghentikan produksi setelah modal habis,” ungkapnya.

“Lebih lanjut Asep Gunawan mengatakan, jika produksi berhenti, maka secara otomatis para karyawan pun dihentikan atau dirumahkan dari tempat kerjanya.
Baru setelah modal usaha kembali ada, dan kondisi ekonomi mulai pulih kembali, pabrik tidak menutup kemungkinan akan kembali operasional,” katanya.

Disebutkan, jika operasional perusahaan dihentikan, akan menambah pengangguran bagi para karyawan pabrik. “Kasihan juga nasib buruh, jika mereka di rumahkan. Kami berharap PPKM Darurat ini tidak berlangsung lama dan pandemi Covid-19 kembali berakhir. Jika kesehatan pulih, ekonomi pun akan kembali bangkit,” pungkasnya.

(Red B_Teks/ Ly)

Hits: 22

Shared to Media Social

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *