Penelusuran Asal Batik. Menghubungkan Benang Merah Catatan Sejarah, Dongeng Panji dan Legenda Daerah

BULETIN TEKSTIL.COM / Penelusuran Asal Batik dengan menghubungkan Benang Merah antara Catatan Sejarah, Dongeng Panji dan Legenda Daerah
Bagian tiga

PENCARIAN BUSANA KEDIREN

Dalam rangka mencari kesesuaian alur benang merah dalam topik bahasan, Adi Kusrianto telah menemui salah satu tim dari Pemerintah Kota Kediri yang pernah menelusuri busana khas pengantin Kediri. Tujuannya tak lain adalah untuk mencocokkan informasi dan data agar tidak berseberangan.

Tim penggali Busana Pengantin Khas Kota Kediri dilakukan tahun 2003 atas dukungan dari Pemerintah Kota Kediri. Hasilnya, telah tersusun buku hasil penelusurannya yang diberi Judul ‘Nama Dan Filosofi Seperangkat Busana dan Asesoris Pengantin Kameswaran dan Nareshwaran’.
Salah satu aspek pencarian yang bisa dihasilkan dari Saresehan ini menurut Adi Kusrianto adalah saat tim mencari kain panjang (jarit) yang dipakai oleh Raja Kediri pada saat itu dimana temuan yang diperoleh akan dijadikan patokan motif bagi busana khas Kota Kediri.
Sumber Data:
▪ Data Tekstual berupa sumber-sumber tertulis, seperti prasasti atau karya-karya sastra dari masa Kediri yang terkait tata busana.
▪ Data Arkeologis berupa benda-benda peninggalan, misalnya ornament, relief dan arca yang terkait tata busana.
▪ Sumber Lisan berupa ceritera rakyat yang berkaitan dengan tata busana masyarakat kota Kediri.

Sumber data Susastra yang dijadikan acuan adalah ‘Kidung Harsa Wijaya’ dan ‘Kidung Malat’ yang banyak menceriterakan kehidupan Raja Kediri yaitu Jayakatwang hingga Raja Kediri Sri Kameshwara (memerintah 1180-1190). Pada Bagian lain juga dikisahkan Raja Majapahit pertama, Kertarajasa Jaya Wardana. Diantaranya ada 4 poin yang menyebutkan sebagai berikut.
(Terjemahan dari isi kidung dalam Bahasa Indonesia)
▪ 4B. Sri Narendra pakaiannya terbuat dari kain sutera berwarna ungu.
▪ 5a. Yang halus menggambarkan keemasan (indah) bersabuk Gringsing Kawung dengan cerita Kresnayana, ujungnya terbuat dari emas (gespernya), mengenakan keris yang tangkainya terbuat dari gading bermotif bunga tanjung samar-samar bersinar keemasan.

Berdasarkan kalimat yang ada pada teks tersebut, akhirnya disimpulkan oleh Tim Penggali Busana Pengantin Kediri bahwa kain yang dikenakan Panji Ibnu Kertapati alias Raja Sri Kameshwara adalah kain panjang bermotif wirangrong ceplok kembang sebagaimana yang disebut dalam Kidung Malat.
Karena Tim tidak ada yang tahu bagaimana motif Wirangrong yang dimaksud, maka ditetapkan bahwa berpatokan pada relief candi yang telah disepakati sejak awal dengan mengambil relief candi Penataran di Nglegok Blitar untuk motif dasarnya dan ditengahnya dihias dengan ceplok bunga seperti yang dikenakan Raja Kertarajasa Jayawarhana.
Candi Penataran memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan candi yang lain di Nusantara. Sebab, pembangunannya dilakukan oleh tiga kerajaan besar pada masa itu. Candi Penataran diperkirakan dibangun pada 1197-1454 Masehi.
Diawali oleh kerajaan Kediri masa pemerintahan Raja Srengga (1197M). Raja Sreengga memerintah di Kediri tahun 1190-1200 M. Kemudian pembangunan candi Penataran dilanjutkan Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit. Karenanya, candi ini dianggap laik dijadikan referensi dalan menelusuri jejak motif batik Kediri.

Sementara penyebutan motif wirangrong dalam Kidung Malat, di peroleh dari cerita Panji yang saat itu menyuruh pembantunya mengambilkan busana yang akan dikenakan. Ia menyebut agar diambilkan batik motif wirangrong ceplok kembang warna ungu.
Agar bisa memvisualkan secara jelas dan tepat, sumber data susastra tersebut dipadukan dengan sumber data arkeologis yaitu motif-motif pada relief candi berupa kain panjang yang dikenakan raja-raja pada masa itu.
Berdasarkan pada kedua sumber data tersebut maka yang dimaksud Batik Wirangrong ceplok kembang seperti dimaksud dalam Kidung Malat, adalah motif kawung yang ditengahnya dihias dengan ceplok bunga seperti yang dikenakan oleh Raja Kertarajasa Jayawardhana.
Motif wirangrong juga diyakini ada seperti tercantum dalam buku Batik Klasik karya Drs. Hamzuri dari Direktorat permuseuman. Dalam buku ini, motif Wirangrong juga disebut pada urutan 1827.

Namun sayangnya nama batik pada nomor urut tidak disertai dengan ilustrasi visual.

Selain di Candi Penataran, motif yang diduga mirip kawung juga terdapat di candi Prambanan yang dibangun pada abad 9 Masehi (800-an). Dan bahkan juga di India dan Yunani. Oleh karena dugaan kuat, motif di candi tersebutlah yang selama ini disebut sebagai motif wirangrong, dan bukan kawung.

Dari sumber lain yang lebih valid, bahwa motif tersebut adalah merupakan simbol mandala yang di percaya/ dimaknai berbagai peradaban dunia. Bahkan dalam budaya Jawa (ilmu kejawen), disebutkan simbul mandala tersebut dimaknai sebagai “kiblat papat limo pancer”.

Bagaimana dengan Motif Kawung
Kembali kita menggunakan logika berdasarkan catatan buku referensi valid yang patut di percaya, bahwa motif Kawung yang disebut dalam buku karya Koeswadji, 1981 yang berjudul ‘Mengenal Seni Batik di Yogyakarta, yang ditulis untuk Proyek Pengembangan Permuseuman, Yogyakarta’ menyebut dengan jelas sebagai berikut:
Menurut sejarah, motif Kawung diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo di Mataram (1593-1645). Beliau menciptakan dengan mengambil bahan-bahan dari alam, atau hal-hal yang sederhana kemudian diangkat menjadi motif batik yang baik. (Koeswaji, 1981:112). Motif kawung diilhami oleh pohon aren atau palm yang buahnya berbentuk bulat lonjong berwarna putih jernih atau disebut kolang kaling. Bila ditinjau menurut gambaran buah aren atau kolang kaling, maka motif kawung sarat makna simbolis.



Kawung, Kawung Benggol, Kawung Picis.

Untuk menguatkan logika kita, pada daftar nama-nama batik klasik terdapat banyak sekali nama-nama motif Batik Kawung beserta turunannya diantaranya adalah:

Tidak ada satupun motif-motif diatas yang mengacu pada ornamen pada candi yang disebut diatas. Kesimpulannya menguatkan bahwa motif pada relief Penataran maupun Prambanan bukanlah motif kawung namanya, melainkan simbol mandala yang kemudian diadopsi menjadi motif batik Wirangrong. (Wirangrong sendiri nama tembang)
Nah, begitulah hasil pemaparan Adi Kusrianto dalam saresehan singkat (sekitar 2 jam; 30 menit) melalui daring. Semakin digali rasanya semakin membuat kita tidak tahu, semakin misterius, dan semakin tidak tahu jawabannya.
Yang penting, dari pemaparan diatas, setidaknya membuat kita bertambah wawasan pengetahuan. Dari tidak tahu menjadi tahu.
Namun, dari hasil saresehan itu, tidak menutup kemungkinan akan ada koreksi dan penambahan data yang tentu saja sumbernya harus bisa dipertanggungjawabkan. Jayalah Batik nusantara. Salam Sukses.
Sarasehan diatas telah diikuti 93 peserta terdaftar (sebagian lain tidak terdaftar) yang sesuai dengan Google Form pesertanya, mereka terdiri dari berbagai Lembaga seperti: LSP Batik, Balai Besar Kerajinan Batik, Perguruan Tinggi, Kursus Tata Busana, SMK, Perusahaan Batik dan lain-lain. Dari segi profesi para peserta meliputi: Asesor Batik, Designer, Pengamat dan ahli Batuk, Pengusaha batik, Jurnalis, Dosen, Mahasiswa, Pegawai Negeri Sipil, Peneliti dan lain sebagainya dengan domisili dari berbagai kota di Indonesia.

(Red B-Teks)
Ratna Devi, Jurnalis Independen

Hits: 148

Shared to Media Social

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *