RECYCLE TEXTILE (Bagian Satu)

BULETIN TEKSTIL.COM/ Jakarta – Stockholm Convention yang diprakarsai oleh PBB pada tahun 1972, yang dikuti oleh convention-convention lainnya telah menumbuhkan kesadaran warga dunia untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Pencemaran lingkungan hidup yang berasal dari kegiatan kehidupan manusia pada saatnya akan menghancurkan ecosystem bumi kita bila tidak dikendalikan sebagaimana mestinya. Banyak sektor kegiatan hidup yang menghasilkan limbah yang perlu kita kawatirkan. Sebut saja sektor tekstil dan produk tekstil yang menjadi “dunia” kita. Banyak sumber pencemar lingkungan hidup yang perlu diwaspadai, yang paling diketahui oleh banyak orang adalah pencemaran limbah cair sisa proses produksi di sektor pertenunan, sektor Printing/Dyeing/finishing dan lain sebagainya. Yang mungkin belum diperhatikan banyak orang adalah beberapa jenis limbah yang mempunyai potensi besar merusak lingkungan hidup, tapi juga bisa bermanfaat besar bila dikelola dengan baik.

Limbah tersebut diatas misalnya sisa hasil produksi yang dibuang begitu saja ke pembuangan sampah yang biasa dikenal sebagai pre used waste, contohnya fly waste sisa serat atau potongan benang (majun) atau potongan kain di industri garmen, disamping itu ada yang dikenal sebagai post used waste yang contohnya adalah botol plastik bekas yang bisa didaur ulang menjadi serat polyester dan lain-lain. Satu potensi waste yang mungkin tidak kita sadari adalah satu jenis post used waste yang secara volume sangat besar dan waktu degradasinya sangat lama sehingga dapat membebani bumi dengan signifikan, yaitu pakaian atau baju bekas. Kami akan merangkum tulisan ini dalam beberapa artikel yang dimuat dalam beberapa edisi Buletin Tekstil Indotex
.
LIMBAH PAKAIAN BEKAS

Pada edisi ini kami akan memulai pembahasan tentang pakaian bekas yang memenuhi tempat sampah dan mencemar lingkungan hidup kita. Beberapa negara maju yang kesadaran lingkungan hidupnya sudah tinggi sangat menghawatirkan tumpukan sampah pakaian bekas ini, Suatu study di Amerika Serikat menyatakan bahwa setiap orang membuang sebayak 31,75 kg pakaian bekas setiap tahunnya. Dikatakan bahwa bila t-shirt yang anda pakai harganya lebih murah dari secangkir kopi maka kita tidak bisa berharap bahwa baju tersebut akan dipakai dalam waktu yang cukup lama, ini yang akan memenuhi tempat pembuangan sampah.

Berita buruknya, pengarang buku Overdressed, Elizabeth L. Cline menyatakan bahwa sesorang secara rata-rata hanya memakai 7 kali pakaiannya dan kemudian membuangnya, dan ditekankan bahwa pakaian bekas yang dibuang ke tempat sampah ini memerlukan waktu puluhan tahun untuk terurai dan dalam periode waktu tersebut sampah ini akan mengeluarkan gas greenhouse. Berita baiknya, menurut Cline sampah ini masih bisa dimanfaatkan melalui proses recycled. Menurut EPA, Amerika Serikat pada tahun 2018 membuang sampah pakaian mencapai volume 17 juta ton yang merupakan porsi 5,8% dari total sampah perkotaan.

FAKTA PENTING

1. Data dari the Environmental Protection Agency (EPA) menunjukkan bahwa di Amerika Serikat terdapat sebanyak 16,2 juta ton limbah pakaian bekas setiap tahunnya, dari jumlah ini 2,62 juta ton diproses recycle, sebanyak 3,14 juta ton dibakar untuk mendapatkan energi, dan sejumlah 10,46 juta ton yang masuk ke TPA sampah.
2. Dalam tahun 2019 rata-rata dihabiskan biaya sebesar US$ 55.36/ton untuk mengelola sampah padat perkotaan.
3. Pakaian berbahan dasar sintetis memerlukan waktu antara 20 – 200 tahun untuk dapat terurai.
4. Umur pemakaian rata-rata sepotong pakaian adalah 15,4 tahun
5. Masyarakat sekarang membeli 60% lebih banyak pakaian dibandingkan dengan perilaku masyarakat 15 tahun yang lalu, ini akan menambah besarnya volume sampah pakaian bekas.
6. Recycle pakaian bekas sebanyak 2,62 juta ton ini sebanding dengan pengurangan polusi dengan meniadakan 1,3 juta mobil dari jalan-jalan di Amerika Serikat.
7. The Secondary Materials and Recycled Textiles Association (SMART), menyatakan bahwa hampir 100% pakaian dan tekstil bekas dapat diproses recycle: 45% dibuat apparel, 30% digunakan untuk kain lap dan 20% serat-serat yang dihasilkan berguna untuk penggunaan lainnya.

MANFAAT PELAKSANAAN RECYCLE PAKAIAN BEKAS

1. Mengurangi keharusan menyediakan TPA sampah
2. Mengurangi pencemaran udara oleh emisi gas rumah kaca yang terjadi saat penguraian pakaian bekas
3. Mengurangi penggunaan serat-serat asli (virgin fibers)
4. Meminimalisir konsumsi energi dan air.
5. Menghindari polusi
6. Memperkecil penggunaan zat pewarna tekstil

TAHAPAN PENGELOLAAN

1. Pakaian bekas dipisah-pisah atas dasar jenis bahan dan warnanya. Dengan pemisahan atas warna ini berarti dalam prosesnya nanti tidak perlu lagi menggunakan zat warna tekstil, menghemat biaya dan mengurangi polusi
2. Pakaian bekas diambil serat-seratnya dengan melaksanakan proses shredding
3. Serat yang dihasilkan diproses di pemintalan benang (spinning)
4. Benang diolah lanjut untuk dijadikan kain melalui proses tenun (weaving) atau dirajut (knitting)
5. Sebagian serat-serat yang panjang seratnya tidak memenuhi syarat untuk dipintal akan dimanfaatkan sebagai bahan pengisi dalam pembuatan kasur atau yang lainnya.

Perhatian masyarakat terhadap recycle pakaian bekas semakin meningkat beberapa waktu belakangan ini dikarenakan meningkatnya kesadaran lingkungan hidup dan tekanan makin terbatasnya lahan untuk TPA sampah, disamping itu timbul kesadaran bahwa ancaman dari sampah pakaian bekas ini sebenarnya memiliki peluang bisnis bagi pengusaha dan lembaga-lembaga sosial pemerhati lingkungan hidup.

Serangkaian kegiatan dalam pengelolaan pakaian bekas yang harus dilakukan oleh pemerintah atau lembaga pemerhati lingkungan hidup adalah sebagai berikut:

1. Sosialisasi kepada masyarakat melalui informasi website, papan reklame dan mobil-mobil kampanye
2. Pengumpulan pakaian bekas dengan strategi berikut: menyediakan kotak pengumpulan ditempat-tempat umum seperti bisnis center atau mal-mal, atau menerjunkan pasukan pengumpul untuk beroperasi door to door.
3. Sorting pakaian bekas secara manual, dibagi menjadi tiga bagian yaitu: pakaian yang masih layak pakai, pakaian yang akan di proses recycle dan untuk rags.
4. Proses recycle

INOVASI MESIN SORTIR OTOMATIS

Sortir pakaian bekas dilakukan secara manual yang memerlukan operator ahli,yang dinegara maju dianggap boros dalam penggunaan tenaga manusia, inovasi penting dalam sortir otomatis diberi nama proyek T4T (Textile for Textile), membuat mesin yang ditujukan untuk mempermudah dalam proses sortir pakaian bekas, proyek ini didukung oleh the European Commission’s for Textile and Clothing. Proyek membantu pembiayaan sejumlah upaya perlindungan lingkungan hidup, termasuk recycle pakaian bekas, proyek ini dianggarkan sebesar 1,3 juta Euro. Teknologi yang digunakan dalam proses sortir ini adalah teknologi spectroscopy menggunakan Near-Infrared (NIR). Pakaian bekas dilalukan pada automatic sorting system untuk dilakukan proses shredding, serat-serat panjang yang dihasilkan digunakan untuk pakaian dan tekstil keperluan rumah tangga, sedangkan serat-serat pendeknya diproses untuk jenis barang non-woven seperti insulasi, peralatan otomotif dan lain-lain.

Dinyatakan bahwa bila mesin FIBERSORT bisa diproduksi secara komersial maka akan terjadi perubahan besar lingkup proses recycle pakaian bekas, karena teknologi ini akan meningkatkan nilai recycle pakaian bekas dan menciptakan semacam “closed-loop” textile industry” yang memungkinkan pengurangan penggunaan virgin fibre. Disamping teknologi NIR-spectroscopy juga sedang dicoba untuk menggunakan RFID atau pemasangan barcode di pakaian pada saat pertama diproduksi dipabrik garment.

(Red B-Teks/ Indra Ibrahim)

Hits: 71

Shared to Media Social

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *