INDUSTRI TEKSTIL DI ERA 4.0

BULETIN TEKSTIL.COM // Bandung – Revolusi Industri 4.0 menyebabkan manusia merubah cara berpikir, hidup, dan berhubungan satu dengan yang lain. Perubahan yang signifikan tidak hanya pada bidang teknologi, namun juga bidang yang lain seperti ekonomi, sosial, dan politik. Sebisa mungkin perubahan itu harus kearah positif sebagai bentuk upaya meningkatkan daya saing di era industri 4.0.

Salah satu industri yang masuk prioritas di era industri 4.0 adalah Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Sub sektor TPT nasional yang masih lemah untuk bersaing dengan produsen dari negara lain yaitu weaving, knitting, dyeing, finishing, serta sektor penunjang seperti spinning dan serat. Perlu penanganan yang serius dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pelaku usaha di sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) harus melakukan transformasi untuk menghadapi era industri 4.0 karena dalam era industri 4.0, terjadi konektivitas antara manusia, mesin, dan data.

Upaya menaikkan daya saing industri tekstil dan produk tekstil nasional di era ini bukanlah hal yang mudah dan merupakan tanggung jawab segenap stake holders TPT. Dengan latar belakang ini Mahasiswa Politeknik STTT Bandung menyelenggarakan Webinar Nasional dengan judul: UPAYA MENAIKKAN DAYA SAING DENGAN PRODUK IMPOR PADA INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL DI ERA INDUSTRI 4.0.

Inisiatif yang patut diacungi jempol dari kalangan mahasiswa sebagai generasi penerus insan tekstil Indonesia, mengungkapkan isu strategis dengan menghadirkan narasumber yang kompeten pada bidangnya.

Narasumber dalam webinar ini adalah:
1. Ir. Dody Widodo, M.Si. – Sekretaris Jendral Kementerian Perindustrian
2. Rizal Tanzil Rakhman, S.ST. – Sekretaris Jendral API
3. Farda Sanberra – Direktur PT Pajajaran & Ketua GPEI Jawa Barat.

Ir. Doddy Widodo M.Si. Alumni ITT Angkatan 1982, yang pada saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian RI menyampaikan paparannya dengan judul: PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI TPT DAN PROGRAM INDUSTRI TEKSTIL & APPAREL 4.0. Ia mengungkapkan bahwa pertumbuhan industri tekstil dan produk tekstil sebagaimana terlihat dalam table dibawah:

Sedangkan kontribusi industri TPT terhadap PDB nasional sampai Triwulan III 2019 sebesar 7,28% yang menurun pada periode yang sama tahun 2020 menjadi 6,92%. Tenaga Kerja yang terserap di industri TPT tahun 2019 sebanyak 3.967.200 orang dan menurun menjadi 3.832.500 orang pada tahun 2020, jumlah tenaga kerja yang terserap ini mencakup 3,09% dari total tenaga kerja nasional.

Dalam rangka making Indonesia 4.0, Kementerian Perindustrian RI menetapkan PERNYATAAN ASPIRASI 2030 yang berbunyi sebagai berikut:

Inisiatif Pemerintah dalam rangka Making Indonesia 4.0 mencakup: 1. Perbaikan alur aliran material; 2. Mendesain ulang zona industri; 3. Akomodasi standar sustainability; 4. Pemberdayaan UMKM; 5. Membangun infrastruktur digital nasional; 6. Menarik investasi asing; 7. Peningkatan kualitas SDM; 8. Pembentukan ekosistem inovasi; 9. Menerapkan insentif investasi teknologi; 10. Harmonisasi aturan dan kebijakan.
Industri TPT masuk dalam 10 sektor prioritas yang difokuskan dalam implementasi industri 4.0, industri lainnya yang masuk dalam sektor prioritas ini antara lain: Makanan dan Minuman, Otomotif, Elektronik, Kimia, Farmasi dan Alat Kesehatan. Dinyatakan bahwa dalam rangka implementasi industri 4.0 di sektor TPT telah ditetapkan program prioritas yang terdiri atas:

Pengembangan Industri TPT 4.0 sesuai dengan 5 pilar INDI, Pengembangan Produk dan layanan perlu sejalan dengan perbaikan teknologi, operasi pabrik, komitmen manajemen dan organisasi serta pengembangan orang dan budaya Eksosistem 4.0 juga perlu diwujudkan dengan kolaborasi Pemerintah, provider teknologi, lembaga keuangan, asosiasi industri, lembaga penelitian dan universitas serta konsultan grup yang kemudian diimplementasikan di tingkat perusahaan/enterprise. Kesemuanya ini dirangkum secara skematis oleh narasumber seperti pada gambar dibawah:

Pasar produk TPT dua tahun terakhir ini mengalami penurunan sampai titik kulminasi bawah, baik pasar lokal maupun pasar ekspor, menurut Doddy untuk menanggulangi itu Kementerian Perindustrian RI akan melakukan upaya pengatasan sebagai berikut:

Pemulihan Pasar Ekspor
1. Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas industri TPT dengan melakukan : Peningkatan kapasitas bahan baku dan bahan penunjang industri hulu; implementasi 4.0 untuk tingkatkan efisiensi, produktifitas dan konektifitas; program restrukturisasi permesinan; peningkatan kualitas SDM dan penguatan lembaga Pendidikan dan Riset.
2. Investasi baru dengan melakukan: Kemudahan fasilitas Tax holiday dan Tax allowance; Dirikan Textile Industrial Park di Riau, Karawang, Brebes dan Batang; Peningkatan kapasitas bahan baku APD dan masker.
3. Ekspor berkualitas melalui penguatan supply chain: Memberikan Insentif Kemudahan Lokal Tujuan Ekspor (KLTE); Meningkatkan konektivitas industri TPT dengan Indonesia Smart Textile Industry Hub (ISTIH)
4. Kerjasama LN dan optimalisasi perjanjian perdagangan dengan cara: Menjaga Pasar Dalam negeri dengan subsitusi impor dan pengendalian impor produk TPT hulu sampai hilir; Kerjasama LN guna peningkatan Ekspor APD, Masker dan Bahan baku masker; Fasilitasi pemenuhan standar internasional/standar medis untuk produk APD dan masker; Penguatan Lab uji dan Alat Uji

Pemulihan Pasar Lokal
Promosi dan pemulihan Permintaan Dalam Negeri melalui: pameran dan kampanye #banggabuatanindonesia; pemanfaatan IT; Indonesia Smart Textile Hub (ISTIH) sebagai e-katalog produk TPT.
Pengamanan Pasar Dalam Negeri dengan melakukan: percepatan revisi Permendag 77 Tahun 2019 untuk menghindari impor TPT yang tidak wajar; Harmonisasi Tarif, safeguard produk pakaian jadi dan karpet; Revisi Permendag 28 Tahun 2020 terkait impor produk tertentu.
Pemberian Insentif & Penyederhanaan Regulasi yang antara lain: insentif PPN dan PPH Badan untuk produk berbahan baku lokal, kemudahan akses bahan baku skrap plastik untuk Recycle Poliester.

Selain hal-hal diatas ada beberapa hal penting yang dipaparkan Doddy dalam webinar ini antara lain: Tekstil Indonesia menuju 2030, Roadmap Tekstil 4.0, Implementasi Industri 4.0 dan penanganan limbah produksi pada industri penyempurnaan dan pencetakan kain melalui restrukturisasi mesin/peralatan, Peningkatan konektifitas antar industri TPT melalui ISTIH tahun 2021, Industri yang didorong untuk menjadi lighthouse sector, Penyiapan apparel park di Kawasan Industri Terpadu Batang, Implementasi pengamanan pasar Dalam Negeri melalui anti dumping dan safeguard produk TPT, Pengendalian impor melalui verifikasi kemampuan industri pengguna bahan baku TPT dan lain-lain.

Sedangkan pembica Rizal Tanzil Rakhman, S.ST. Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), dan merupakan alumni ST3 dan pada saat ini menjabat posisi Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni ITT/ST3, menyampaikan paparan dengan judul INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL DI ERA 4.0. Pada penjelasannya Rizal menyampaikan beberapa hal penting yang antara lain mencakup: perjalanan sejarah industrialisasi dimulai dari revolusi industri 1.0 sampai ke revolusi industri 4.0 sekarang ini, industri TPT sebagai industri prioritas masuk dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) sejak tahun 2015 s/d 2035, persaingan industri TPT Indonesia semakin ketat karena isu industri ramah lingkungan dan juga persoalan impor TPT yang diperkirakan sampai sebesar 30%, bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia di tahun 2030.

Menurut Rizal, industri TPT menduduki posisi strategis dalam perekonomian nasional karena: sebagai industri manufaktur yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, berkontribusi dalam perolehan devisa dan meningkatkan GDP, menjadi industri prioritas nasional, disamping itu ditegaskannya bahwa daya tahan industri TPT tinggi sehingga mampu bertahan menghadapi berbagai krisis yang menderanya.

Ditegaskannya bahwa untuk dapat menguntungkan dalam implementasi 4.0 pada industri TPT diperlukan persyaratan stakeholder pada rantai nilai sebagai berikut:
1. Manufacturer: Perencanaan yang efektif, Ketersediaan Input, Produktivitas Lebih Baik, Training, Input R&D untuk Sampling, Mengurangi Biaya.
2. Brands : Sampling dan Input Teknis, Kualitas baik, Pengiriman tepat waktu, Biaya yang Tepat, Manajemen persediaan.
3. Customer: Kualitas baik, Harga yang tepat, Pengiriman Instan, Layanan Purna Jual Yang Baik
Implementasi 4.0 dilapangan dalam setiap sektor industri TPT dikemukakan sebagai berikut:
Proses Produksi- Spinning : Mesin mesin mutakhir dari pemasok ternama di Jerman, Swiss, Jepang dan India (Ring Spinning, Murata Vortex, speed > 40%).
Proses Produksi- Weaving : Air Jet, Rapier Looms memproduksi kain kualitas tinggi (loom weaving speed 1200 rpm)
Proses Produksi – Dyeing, Printing & Finishing : dari proses 12 jam jadi 30 menit menggunakan digital printing
Proses Produksi – Garment : multi tasking sewing machine (digital pattern, auto cutting, automatic hanger system, final QC & packing).

Disampaikan oleh Rizal bahwa data API menunjukkan bahwa profil dan kinerja industri TPT sebagaimana terlihat pada gambar dibawah:

Narasumber ketiga Farda Sanberra, Ketua GPEI Jawa Barat mengemukakan bahwa dalam Era 4.0 sekarang ini, kemudahan untuk meraih pasar dalam negeri maupun ekspor terbuka luas. Bahkan sektor UMKM juga dapat melaksanakan ekspor dengan kemudahan-kemudahan seperti misalnya dalam hal kuantitas. Kalau dulu harus dalam jumlah satu container, sekarang kegiatan ekspor dapat dilakukan dalam hitungan satuan potongan, GPEI mempunyai kemampuan untuk memfasilitasi kegiatan ekspor UMKM ini dalam hal: akses pembiayaan dari lembaga keuangan, konsultasi akses pasar dan pelaksanan pengiriman barang ekspor tersebut

(Red B-Teks/ Indra)

Hits: 275

Shared to Media Social

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *