BATIK JAWA TIMUR, Sejarah Motif Gringsing

BULETIN TEKSTIL// Jika ada pertanyaan Batik darimana, maka jawaban spontan yang akan muncul adalah Solo dan Jogja atau kalimat lain yang mengarah kesana.

Memang tidak dapat di ingkari bahwa seni batik Jawa mencapai keemasannya pada masa pemerintahan kedua keraton di Surakarta dan Yogyakarta selepas perjanjian Giyanti. Di periode inilah Batik diapresiasi dengan berbagai macam makna filosofi seputar falsafah kejawen, diterapkan aturan pemakaiannya untuk lingkungan keraton dan perkembangannya di luar keraton.

Dipicu Oleh Dikenalnya Batik Di Kancah Internasional

Pada awal abad ke 20, di Exposition Universelle (Pameran Internasional) berkala di Paris pada tahun 1900, pemerintah negeri Belanda menampilkan budaya eksotis dari Hindia Belanda (sekarang Indonesia) yang saat itu menjadi koloni mahkotanya. Salah satu yang dipamerkan adalah kain Batik yang memukau para pengamat dan pecinta seni. Karya-karya batik tulis Jawa yang dipamerkan kala itu merupakan koleksi museum Etnik Belanda, dimana koleksi tersebut hadiah dari saudagar Belanda yang berkunjung ke Jawa pada tahun 1873.
Abad ke 20 inilah setelah Batik dikenal dunia internasional, bermunculan karya-karya tulis yang mengulas keberadaan batik yang secara real saat itu sangat berkembang di Jawa Timur.

Salah satunya Gerret Pieter Rouffaer (1860 – 1928) seorang peneliti, penjelajah dan pustakawan asal Belanda. Dalam laporannya De Batik-kunst in Nederlandsch Indie, G.P Rouffaer menyebutkan bahwa pola Gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Ia menyimpulkan bahwa pola ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa Timur pada masa sekitar itu.

Gringsing itu sendiri artinya Sisik Naga.

Informasi tersebut jika kita kaitkan dengan manuscrip Jawa yang tertera pada Babad Sangkala (1633) dan serat Panji Jayalengkara (1770), pada kedua naskah tersebut diketemukan kata hambatik (indonesia – membatik) sebagai kata kerja dari Batik. Maka dari riset G.P Rouffear yang menyebutkan temuan Grinsing pada abad ke-12 di Kediri dan manuscrip naskah Panji Jayalengkara (dongeng Panji) pada masa kejayaan Kediri terjalin kecocokan.

Pada dongeng Panji, dikisahkan kisah cinta antara Raden Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji, dari Kerajaan Kediri.

Dongeng ini memiliki banyak variasi seperti Keong Emas, Ande Ande Lumut, Cinde Laras, Enthit, dan Golek Kencana. Pada semua versi selalu ada tokoh utama kedua bangsawan dan peran pembantu yaitu tokoh Mbok Rondo Dadapan, seorang wanita yang menolong putri saat tersesat di hutan.

Dimulai adegan saat Dewi Sekartaji terpisah dari suaminya Raden Panji Inu Kertapati saat berburu di hutan larangan yang angker.

Saat itu sang suami mengejar menjangan putih semakin jauh tersesat masuk hutan hingga petang Raden Panji disertai pengawal setianya berhasil menangkap menjangan putih lalu disembelih dan dibakar. Karena capai dan kelaparan ia lupa kalau tadi pergi bersama isterinya.

Saat menikmati hasil buruannya tiba-tiba muncullah isterinya, Dewi Sekartaji yang ternyata saat itu yang muncul adalah jin penunggu hutan larangan yang menjilma sebagai Dewi Sekartaji.

Sementara Dewi Sekartaji yang terpisah jauh dari suaminya, tersesat sendirian, dia ditolong oleh Mbok Rondo Dadapan(Janda dari Dadapan).

Saat itu Sekartaji sedang hamil, maka dia diminta untuk tinggal di rumah si wanita penolong ini, sampai bayinya lahir.

Mbok Rondo yang menolong Dewi Sekartaji menyadari bahwa ia telah menolong seorang bangsawan yang pada saat itu tidak membawa perbekalan serta pakaian, maka ia menenunkan selembar kain putih untuk dipakai sang putri hingga sang Dewi melahirkan, dan bisa pulang ke Kediri.

Karena Dewi Sekartaji adalah permaisuri raja, maka dia tidak tega hanya memberi kain tenun polos warna putih, maka Mbok Rondo Dadapan membuat hiasan menggunakan canting dan malam lebah. Dari alat yang sederhana itu, ia membuat motif yang kemudian kita kenal sebagai Gringsing, motifnya hanya berupa isen-isen saja, istilah dalam Bahasa Jawa disebut byur.

Sejak itulah sang putri selalu memakai kain dengan motif Gringsing hingga di akhir cerita yang berhasil happy ending bertemu dan berkumpul dengan suaminya Raden Panji Inu Kertapati.

Sebagai rasa terima kasih telah di tolong, maka Mbok Rondo Dadapan di boyong tinggal di lingkungan kraton Kediri. Disinilah ia diminta mengembangkan kebisaannya membatik. Ketrampilan membatik selanjutnya berkembang dilingkungan istana sejak kerajaan Kediri, Singosari, hingga era Majapahit. Banyak fakta sejarah yang memiliki benang merah yang menguatkan asal usul batik yang justru berasal dari kalangan rakyat yang dibawa ke kraton.

Motif Gringsing di Kitab Pararaton

Informasi lain tentang sejarah batik, terdapat pada kitab Pararaton (Sujoko 1983) yang kutipannya sebagai berikut :

” Semangka Raden Wijaya andum lancingan gringsing ring kawula nira sawiji sowang, ayun sira angamuka, Kang dinuman siro Sora, sira Rangga Lawe, sira Dangdi, siro Gajah, sira Sora anempuh akeh longing wong Daha”.

Artinya : Sesaat Raden Wijaya membagi lancingan (kain bawahan) gringsing kepada hamba-hambanya masing-masing satu, berperanglah kamu mati-matian, Yang memperoleh kamu Sora, kamu Rangga Lawe, kamu Dangdi, kamu Gajah, kamu Sora, serang orang DAHA yang banyak menyusahkan.

Bagaimana Batik sudah ada di Jambi pada masa Pra Majapahit ?

Menurut pendiri Jambi Heritage Junaidi T Noor (Almarhum), ia mengatakan bahwa batik yang identik dengan budaya jawa, bukan barang baru di Jambi, Batik dikenakan bangsawan Jambi sejak jaman dahulu di abad ke-13. Hubungan Jambi dan Jawa terjalin sejak Ekpedisi Pamalayu yang dilakukan kerajaan Singosari dibawah pemerintah raja Kartanegara pada tahun 1275 – 1286.

Batik Gringsing Di Era Singosari

Masyarakat di kecamatan Kerek, Tuban, merupakan kelompok masyarakat yang memegang teguh tradisi yang dilakukan para sesepuhnya. Tidak heran jika mereka masih memiliki tradisj turun temurun yang diperoleh dari nenek moyangnya sejak jaman Majapahit bahkan Singosari.

Menurut cerita M.Rifat yang merupakan kolektor batik dari keluarga besar pembatik di Kerek, dia memperoleh cerita dari neneknya tentang motif Gringsing. Menurutnya di era kekuasaan raja Ken Arok (Sri Rajasa) antara tahun 1222 sampai 1227 para ponggawa kerajaan memakain kain dengan motif gringsir byur, sedangkan yang memakai ornamen utama digunakan untuk raja.

Selain motif gringsing, pada masa itu juga dikenal motif Kesatriyan yang berbentuk segi lima dan ditengahnya ada titik putih serta dihiasi empat garis petunjuk arah mata angin. Lalu ada motif Panji Krentil dan Panji Serong yang mana kedua batik motif ini biasanya digunakan dalam ritual tertentu.

(Red B-Teks / Adi Kusrianto)

Adi Kusrianto, Bsc.Tex., SE. Pengamat tekstil dan wastra Nusantara. Pengajar Universitas Ciputra dan LaSalle Surabaya.

Hits: 254

Shared to Media Social

4 komentar pada “BATIK JAWA TIMUR, Sejarah Motif Gringsing

  • Februari 10, 2021 pada 3:45 pm
    Permalink

    Sangat menarik tulisan ini. Menambah wacana dalam memahami perjalanan batik lebih jauh. Ingin selalu mengikuti dan mengetahui lebih dalam sejarah Wastra Nusantara. Utk pengembangan ilmu dan pengetahuan khususnya batik dan sejarah. Terima kasih

    Balas
    • Februari 12, 2021 pada 10:01 am
      Permalink

      Terima kasih. Semoga artikel di Buletin Tekstil menambah wawasan dan bermanfaat.

      Balas
    • Februari 12, 2021 pada 10:00 am
      Permalink

      Terima kasih..

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.