Mendongkrak Nilai Tambah ITPT Melalui Penguatan Transaksi Lokal

BULETIN TEKSTIL.com // Jakarta –

Potret ITPT Nasional

Industri Tekstil dan Produk Tekstil atau disingkat ITPT adalah industri pengolahan nonmigas yang berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Dari seluruh industri pengolahan berbasis nonmigas, ITPT masih sangat diandalkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi pada sisi perdagangan, PDB dan penyerapan tenaga kerja.
Kemenperin mencatat, jumlah perusahaan ITPT hingga saat ini telah tercatat sebanyak 5.641 unit usaha yang terdiri dari

– 5 subsektor industri yaitu industri Pembuatan Serat sebanyak 33 unit usaha ditambah 14 unit usaha bidang Industri Recycle-PSF;

– Industri Pemintalan sebanyak 294 unit usaha;

– Industri Kain, termasuk didalamnya industri Pertenunan, Perajutan Pencelupan, Pencetakan dan industri Penyempurnaan sebanyak 1.540 unit usaha;

– Industri Garmen/Pakaian Jadi sebanyak 2.995 unit usaha; dan

– Industri Produk Jadi Tekstil Lainya sebanyak 765 unit usaha.Dari 5.641 unit usaha ITPT ditambah industri mikro kecil terserap sebanyak 2,83 juta orang tenaga kerja langsung.

Selain sebagai penyedia lapangan pekerjaan bagi 2,83 juta orang dan penghasil devisa senilai USD 12.83 miliar (2019) lokasinya yang tersebar, industri ini juga berperan sebagai alat pemerataan perekonomian daerah sekaligus menciptakan multiplier effect pada perekonomian sekitar. Sifatnya yang padat karya disadari atau tidak telah menjadi “Jaring Pengaman Sosial” di sisi pendapatan penduduk.

Produk ITPT nasional telah diekspor ke ±200 negara tujuan ekspor, ini membuktikan bahwa produk ITPT nasional telah menjadi industri pembuka jalan “icebreakers” untuk produk-produk industri nasional lainnya dalam membuka pasar non-tradisional.

Posisi Indonesia di pasar Global

Sejak tahun 1974, Indonesia menjadi pemain global produk TPT terutama untuk produk sarung, batik, tenunan kapas, tenunan sutera serta pakaian jadi. Tahun 1974 ekspor TPT Indonesia tercatat US$4.94 juta dan bahkan pada tahun 80-an Indonesia menjadi salah satu World’s Leading Textile & Clothing Exporters yang sebagian besar didominasi oleh produk garmen.

Dari total pasokan TPT di pasar global tercatat US$821 milyar pada tahun 2019 dan Indonesia berkontribusi sebesar 1.56%.Pasar utama tujuan ekspor Indonesia adalah AS, Uni Eropa, Jepang dan ASEAN. Pangsa Indonesia di AS tercatat 4,02%, di Uni Eropa 0.84%, di Jepang 4.19% dan di ASEAN 1.48%.
Secara hitoris dari tahun 2001 ke 2019 perkembangan pangsa Indonesia di pasar AS masih stagnan, di Uni Eropa cenderung menurun, di Jepang meningkat, dan di ASEAN menurun tajam. Naiknya pangsa Indonesia di Jepang sejak lima tahun terakhir ini merupakan pengaruh positif dari adanya perjanjian dagang Indonesia-Jepang Partnership Agreement (IJEPA), sedangkan penurunan di pasar ASEAN merupakan dampak dari perjanjian ASEAN-China FTA (ACFTA). Sementara untuk pasar AS yang selama ini stagnan dan cenderung menurun akibat dari belum adanya perjanjian kerjasama perdagangan apapun. Sedangkan tidak berkembangnya pangsa di Uni Eropa selama ini dikarenakan belum berlakunya perjanjian Indonesia-EU CEPA (IEU CEPA).

Kinarja Tahun 2020 (masa Pandemi Covid-19)

Pada tahun 2019 kontribusi TPT terhadap PDB sebesar 1.26% dengan tingkat pertumbuhan sebesar 15.35%. Namun pada triwulan III-2020 kontribusi mengalami penurunan menjadi 1,21% dan dengan pertumbuhan – 8.37%. Dari sisi perdagangan, ekspor tahun 2019 tercatat US$12.83 miliar dollar dan pada tahun 2020 diperkirakan akan menciut menjadi US$10.73 milyar atau turun 16.3% yang semua itu merupakan dampak dari pandemi Covid-19.

Mendongkrak Nilai Tambah ITPT Melalui Penguatan Transaksi Lokal.

Indonesia menjadi salah satu negara produsen TPT terkemuka di dunia yang memiliki struktur industri relatif terintegrasi secara vertikal dari hulu ke hilir, mulai dari industri serat buatan, industri pemintalan benang, industri pertenunan kain, industri perajutan kain, industri pencelupan, pencetakan dan penyempurnaan, industri pakaian jadi, dan industri barang jadi tekstil lainnya termasuk permadani. Struktur industri yang relatif lengkap tersebut telah membawa efek dinamis dalam menciptakan nilai tambah domestik, dan efek tersebut akan menjadi lebih besar apabila struktur yang terintegrasi tersebut dapat terkoneksi dengan baik sehingga dapat memberikan nilai tambah yang tinggi lagi dan menjadi modal yang kuat dalam memenangkan persiangan di pasar global.

Agar struktur yang telah terbentuk tersebut dapat memberikan efek yang lebih besar lagi terhadap perekonoman nasional maka diperlukan langkah-langkah khusus dan terfokus dari para stakeholder termasuk Pemerintah.

Sejatinya keunggulan dari negara yang memiliki struktur industri yang terintegrasi diantaranya adalah waktu penyelesaian yang lebih singkat; fleksibilitas yang ditingkatkan; kontrol proses yang lebih ketat; mengurangi risiko dalam rantai pasokan; peningkatan pengawasan kualitas dan visibilitas sumber bagi pelanggan. Apabila kita bisa memanfaatkan struktur industri TPT nasional yang telah terintegrasi secara vertikal maka sebenarnya kita memiliki kesempatan untuk mencapai lead time yang lebih pendek minimal 60 hari.

Masih belum maksimalnya nilai tambah dari ITPT nasional antara lain disebabkan oleh rendahnya transaksi diantara subsektor industri hulu dan hilir-nya, sehingga ketika terjadi pertumbuhan di salah satu subsektor industri TPT (mis. Garmen) belum terlihat jelas pengaruhnya dalam mendorong subsektor industri lainnya (kain, benang dan serat). Begitu juga dengan terus berkembangnya subsektor industri serat buatan saat ini namun belum memberikan dampak yang signifikan terhadap industri benang dan kain-nya.

Hal ini akibat belum adanya kebijakan tepat yang menjadikan mereka saling berinteraksi dan bertransaksi. Jika hal ini dibiarkan berlarut bukan mustahil subsektor industri TPT yang kuat bisa bertahan dan bahkan berkembang sementara subsektor yang lemah akan mati pelan-pelan.

Fakta dari belum terjadinya interaksi dan transaksi antar sub sektor industri TPT lokal dapat dilihat dari struktur perdagangannya saat ini yang belum berimbang.

Pada struktur perdagangan dimana ekspor garment begitu mendominasi namun disisi lain industri kainnya tidak berkembang justru menurun pengaruh dari terus meningkatnya impor kain.Hal ini membuktikan bahwa pengaruh keterkaitan ke belakang (backward linkage effects) dan pengaruh keterkaitan ke depan (forward linkage effects) belum berjalan dengan sebagaimana mestinya dan perlu disempurnakan agar industri TPT dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar lagi terhadap perekonomian nasional dan penyerapan tenaga kerja.

Dari informasi yang ada, salah satu alasan naiknya impor kain adalah faktor dari rendahnya kualitas, kontinyuitas pasokan yang tidak stabil dan harga yang kurang kometitif. Padahal faktanya industri pertenunan kain nasional memiliki kapasitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan industri garmen. Untuk memenuhi kriteria kebutuhan bahan baku berupa kain jadi industri garmen orientasi ekspor maka diperlukan perbaikan yang cepat dan terencana.

Harus diakui bahwa subsektor pencelupan, pencetakan dan pencempurnaan kain secara umum dinilai masih lemah dan perlu mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah. Oleh karenanya dibutuhkan restrukturisasi permesinan dan peralatan pada subsektor ini agar kedepannya produk kain jadi nasional dapat memenuhi gebutuhan industri garmen orientasi ekspor.

Jika ditarik kebelakang dimana sebelum tahun 2009 industri garmen sebagian besar masih menggunakan kain produk dalam negeri, namun mulai tahun 2010 hingga saat ini industri industri garmen berorientasi pasar lokal pun condong menggunakan kain jadi asal impor dengan berbagai alasan sehingga pada akhirnya nilai tambah industri TPT nasional secara umum terus menurun.

(Red B-Teks)

sumber: Syaiful Bahri, Pemerhati Industri TPT

Hits: 23

Shared to Media Social

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *